BAZNAS Bandung Barat Bantah Kelola Bantuan untuk Korban Bencana Pasirlangu

BANDUNG BARAT – BAZNAS Bandung Barat Bantah Kelola Bantuan untuk Korban Bencana Pasirlangu yang berasal dari berbagai pihak. BAZNAS Kabupaten Bandung Barat (KBB) menegaskan bantuan tersebut tidak berada di bawah pengelolaannya karena lembaga hanya bertanggung jawab mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan donasi yang secara khusus dipercayakan kepada Baznas.
Penegasan tersebut disampaikan untuk menjawab pertanyaan masyarakat terkait banyaknya bantuan yang mengalir ke Pasirlangu sejak bencana terjadi, mulai dari kementerian, lembaga, komunitas, hingga tokoh publik.
Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Bandung Barat Muhamad Abduh Fatahudin, menjelaskan, sejak awal masa tanggap darurat hingga memasuki tahap pemulihan, Baznas telah menyalurkan bantuan secara bertahap sesuai kemampuan penghimpunan dana yang dimiliki. "Pada saat awal kejadian, ketika proses pencarian korban dan posko pengungsian masih berjalan, total bantuan yang kami salurkan mencapai lebih dari Rp60 juta. Dana tersebut berasal dari zakat, infak, sedekah masyarakat serta dana yang memang dihimpun oleh Baznas," ujarnya.
Bantuan pada tahap awal tersebut digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan mendesak masyarakat terdampak, termasuk mendukung operasional posko, logistik, serta kebutuhan dasar warga selama masa tanggap darurat.
BAZNAS Bandung Barat Kembali Alokasikan Bantuan Pada Program Pemberdayaan Masyarakat
Memasuki fase rehabilitasi dan pemulihan, Baznas Bandung Barat kembali mengalokasikan bantuan yang difokuskan pada program pemberdayaan masyarakat. Total dana yang disiapkan untuk program tersebut mencapai Rp139 juta dan berasal dari donasi yang secara khusus dihimpun untuk penanganan bencana Pasirlangu.
Menurutnya, dana tersebut tidak disalurkan sekaligus, melainkan bertahap selama kurang lebih tiga bulan agar bantuan benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. "Programnya lebih kepada pemberdayaan. Kami melihat kebutuhan masyarakat terlebih dahulu. Kalau petani membutuhkan alat semprot pertanian, maka kami berikan alat semprot. Kalau ada anak-anak yang membutuhkan biaya pendidikan, kami bantu kebutuhan sekolahnya," katanya.
Ia menambahkan, Baznas tidak memberikan seluruh bantuan dalam bentuk uang tunai. Khusus bantuan pendidikan, dana langsung ditempatkan ke rekening penerima agar penggunaannya lebih tepat sasaran serta mudah dipertanggungjawabkan. "Bantuan pendidikan tidak kami serahkan dalam bentuk uang tunai. Kami membuatkan rekening, kemudian dana disalurkan melalui rekening tersebut sehingga penggunaannya sesuai dengan tujuan bantuan," jelasnya.
Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, Baznas bahkan merekrut seorang relawan dari masyarakat setempat. Relawan tersebut bertugas membantu proses administrasi, pendataan mustahik, hingga mengawasi distribusi bantuan agar sesuai dengan kondisi riil warga terdampak.
Terkait sumber pendanaan, ia menjelaskan sebagian besar berasal dari penghimpunan zakat, infak dan sedekah masyarakat yang dipercayakan kepada Baznas. Selain itu terdapat pula sejumlah donasi dari lembaga maupun masyarakat berupa barang, seperti pakaian layak pakai, meski jumlahnya dinilai tidak signifikan. "Ada juga lembaga yang menitipkan bantuan berupa barang, misalnya pakaian layak pakai. Tetapi jumlahnya tidak besar. Sumber utama tetap berasal dari penghimpunan zakat, infak dan sedekah yang kami kelola," ujarnya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa bantuan bernilai besar yang sempat diumumkan sejumlah pihak, termasuk tokoh publik maupun kementerian, masuk ke Baznas Kabupaten Bandung Barat.
Menurutnya, bantuan-bantuan tersebut memiliki mekanisme penyaluran masing-masing dan tidak melalui Baznas KBB. "Yang bantuan fantastis itu tidak masuk ke Baznas. Kami hanya mengelola dana yang memang dihimpun sendiri melalui penghimpunan zakat, infak, sedekah dan donasi yang dititipkan kepada Baznas. Jadi jangan sampai masyarakat mengira seluruh bantuan yang datang ke Pasirlangu masuk ke kami," tegasnya.
Ia mengakui kemampuan penghimpunan dana Baznas KBB relatif terbatas sehingga nilai bantuan yang disalurkan tidak sebesar bantuan dari lembaga atau pihak lain yang memiliki kapasitas pendanaan lebih besar. "Pendanaan kami berasal dari penghimpunan sendiri melalui UPZ dan para muzaki. Karena itu jumlahnya tentu tidak sebesar bantuan yang disalurkan pihak-pihak lain," katanya.
Untuk menjaga akuntabilitas, Baznas KBB memastikan seluruh penerimaan dan penyaluran dana dicatat serta dilaporkan secara terbuka kepada masyarakat. Laporan tersebut dapat diakses melalui website resmi Baznas Kabupaten Bandung Barat, termasuk laporan keuangan yang telah diaudit maupun laporan penyaluran bantuan. "Masyarakat dapat melihat langsung berapa dana yang masuk dan berapa yang sudah disalurkan. Semua kami laporkan secara terbuka melalui website resmi Baznas," ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat yang ingin menyalurkan zakat, infak, sedekah maupun donasi kemanusiaan agar menggunakan jalur resmi Baznas. Penyaluran dapat dilakukan melalui kantor Baznas Kabupaten Bandung Barat, rekening resmi, kanal digital maupun Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang tersebar di setiap kecamatan.
Dengan sistem tersebut, Baznas berharap kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan dana zakat dan bantuan kemanusiaan tetap terjaga, sekaligus memastikan seluruh bantuan yang dihimpun dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan.(ijr/sep)
