Buruh KBB Tolak Impor Mobil Pickup India

PASUNDANEKSPRES.ID - Ratusan buruh yang tergabung dalam DPC Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Bandung Barat turun ke jalan, Senin (27/4/2026). Mereka menyuarakan penolakan keras terhadap rencana impor 105.000 unit mobil pickup dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara.
Bagi para buruh, kebijakan ini bukan sekadar impor biasa melainkan ancaman nyata bagi industri otomotif nasional dan masa depan tenaga kerja Indonesia.
Mobil Pickup India Bakal Matikan Industri Dalam Negeri
Ketua SPSI Kabupaten Bandung Barat, Kiki Permana Saputra, tanpa basa-basi menyebut rencana tersebut sebagai langkah yang berpotensi "mematikan" industri dalam negeri. "Ini bukan hanya soal impor, ini soal keberlangsungan industri dan nasib buruh Indonesia. Kalau dibiarkan, ini bisa jadi awal kemunduran," tegasnya.
Menurutnya, Indonesia saat ini sudah memiliki kemampuan untuk memproduksi kendaraan operasional secara mandiri. Karena itu, impor dalam jumlah besar justru dinilai sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap industri sendiri.
Kiki juga mempertanyakan dampak nyata kebijakan tersebut terhadap tenaga kerja. "Barang datang sudah jadi. Lalu buruh kita kebagian apa? Di mana lapangan kerja yang dijanjikan?," sindirnya.
Tak hanya itu, SPSI juga menyoroti potensi masalah lanjutan seperti ketersediaan suku cadang dan layanan perawatan, terutama jika kendaraan impor tersebut digunakan hingga ke pelosok daerah.
Yang paling dikhawatirkan, kebijakan ini bisa menjadi "pintu masuk" gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor otomotif nasional. Kiki menegaskan, pemerintah seharusnya berkaca pada kemampuan industri dalam negeri yang terus berkembang, bahkan sudah mampu memproduksi kendaraan berkelas seperti Garuda Limousine (MV3). "Presiden saja memberi contoh pakai produk dalam negeri. Masa kebutuhan operasional malah bergantung pada impor," katanya.
Ia juga mengingatkan, kehadiran pabrik-pabrik otomotif global di Indonesia-termasuk di Subang-menjadi bukti bahwa sektor ini punya masa depan besar jika didukung, bukan justru ditekan oleh kebijakan impor.
Aksi buruh ini menjadi sinyal keras jika kebijakan tetap dipaksakan, bukan tidak mungkin gelombang penolakan akan semakin meluas. "Batalkan impor ini. Utamakan produk dalam negeri, selamatkan pekerjaan buruh Indonesia," pungkasnya.(ijr/sep)
