Forum Kelompok Sadar Wisata Pertanyakan Arah Kebijakan Pengembangan Pariwisata

Pemerintah Fokus Lebih Fokus di Kawasan Utara
BANDUNG BARAT- Forum Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Bandung Barat menilai potensi pariwisata di wilayah selatan KBB masih belum tergarap secara maksimal. Di tengah padatnya kunjungan wisata ke kawasan Lembang, wilayah selatan yang meliputi Kecamatan Gununghalu, Rongga, Sindangkerta, hingga Cipongkor justru menyimpan bentang alam, air terjun, budaya lokal, dan produk unggulan desa yang dinilai mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan pengembangan pariwisata di Bandung Barat. Selama bertahun-tahun, investasi infrastruktur, promosi, hingga pengembangan destinasi masih lebih banyak terpusat di kawasan utara seperti Lembang, sementara wilayah selatan dinilai belum memperoleh perhatian yang seimbang.
Ketua Forum Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Bandung Barat, Suryadi, menilai wilayah selatan memiliki keunggulan yang sulit ditemukan di kawasan wisata lain, yakni bentang alam yang masih alami, kualitas lingkungan yang terjaga, serta keterlibatan masyarakat yang cukup tinggi dalam mengembangkan sektor pariwisata.
"Sepanjang jalur menuju Curug Malela sebenarnya banyak sekali titik wisata yang bisa dikembangkan. Tidak hanya air terjun, tetapi juga panorama alam, sungai, perkebunan hingga kampung-kampung yang masih sangat asri. Potensinya sangat besar, tetapi belum dikemas menjadi kawasan wisata terpadu," kata Suryadi, Minggu, (12/7/2026).
Ia mengungkapkan, saat ini sudah terbentuk sedikitnya 33 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di wilayah selatan. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam membangun desa wisata secara mandiri.
Namun, tingginya semangat masyarakat belum diikuti dengan peningkatan jumlah wisatawan maupun tumbuhnya investasi pariwisata. Menurutnya, persoalan utama masih berkutat pada akses jalan, minimnya promosi, serta belum adanya konsep pengembangan kawasan yang terintegrasi. "Secara keindahan alam dan kesejukan, wilayah selatan menurut saya bahkan bisa bersaing dengan Pangalengan. Tetapi orang lebih mengenal daerah lain karena aksesnya lebih mudah dan promosinya jauh lebih kuat," ujarnya.
Selain wisata alam, kawasan selatan juga memiliki potensi wisata budaya, wisata religi, serta berbagai produk unggulan. Seperti kopi Sindangkerta, gula semut, wajit Cililin, kerajinan tangan, hingga hasil peternakan yang dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila dikembangkan dalam satu ekosistem pariwisata.
Suryadi menilai selama ini wisatawan umumnya hanya datang ke Curug Malela, kemudian kembali pulang tanpa singgah di desa-desa sekitar. Akibatnya, perputaran ekonomi yang dinikmati masyarakat lokal masih belum optimal.
Padahal, apabila pemerintah menyusun paket wisata terpadu yang menghubungkan objek wisata alam dengan homestay, UMKM, sentra kuliner, wisata budaya, dan produk lokal, lama tinggal wisatawan dapat meningkat sehingga berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat. "Kalau wisatawan menginap di homestay warga, membeli produk UMKM, menikmati kuliner lokal dan mengunjungi beberapa destinasi sekaligus, nilai ekonomi yang berputar di masyarakat tentu akan jauh lebih besar," jelasnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mulai menjadikan wilayah selatan sebagai salah satu prioritas pembangunan sektor pariwisata. Menurutnya, pembangunan akses jalan menuju destinasi, peningkatan fasilitas dasar, promosi digital, hingga pendampingan bagi pelaku wisata harus dilakukan secara berkelanjutan. "Potensinya sudah ada. Masyarakatnya juga sudah bergerak. Tinggal bagaimana pemerintah hadir menyusun kebijakan yang mampu menghubungkan seluruh potensi itu menjadi destinasi wisata yang benar-benar memberikan manfaat ekonomi," katanya.(ijr/sep)
