Lokasi Longsior jadi Lokasi Pertama Safari Ramadan Bupati Kabupaten Bandung Barat

PASUNDANEKSPRES.ID – Mengawali rangkaian Safari Ramadan 1447 Hijriah, Bupati Bandung Barat bersama Wakil Bupati memilih Desa Pasirlangu sebagai titik pertama kunjungan, Rabu (25/2/2026).
Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Pasirlangu diketahui sebelumnya menjadi wilayah yang terdampak musibah dan menyisakan duka bagi masyarakat setempat. Bupati menegaskan, kehadirannya merupakan bentuk empati sekaligus komitmen pemerintah daerah untuk terus mendampingi warga.
“Kami ingin memastikan masyarakat di sini tetap kuat dan tidak merasa sendiri. Karena sebelumnya wilayah ini sempat mengalami ujian yang cukup berat, maka Safari Ramadhan pertama kami awali dari Pasirlangu,” ujar Jeje usai kegiatan.
Safari Ramadan tahun ini direncanakan digelar di lima titik berbeda, masing-masing mewakili daerah pemilihan (perdapil) di Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan tersebut tidak hanya diisi dengan agenda keagamaan, tetapi juga pelayanan publik langsung kepada masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menghadirkan sejumlah layanan, mulai dari pelayanan administrasi kependudukan seperti pembuatan KTP, hingga pelayanan pajak daerah. Langkah ini dilakukan untuk memudahkan warga dalam mengakses layanan tanpa harus datang ke pusat pemerintahan.
Selain pelayanan administrasi, warga terdampak juga menerima santunan dari BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp42 juta per orang. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban serta menjadi penyemangat bagi warga untuk bangkit kembali.
Bupati juga menyempatkan diri berdialog langsung dengan Kepala Desa Pasirlangu guna memetakan kebutuhan prioritas yang masih diperlukan masyarakat. Berdasarkan laporan sementara, sebagian besar warga terdampak telah tinggal di rumah kontrakan, meskipun masih terdapat persoalan di wilayah zona kuning dan merah yang akan dikaji lebih lanjut oleh pemerintah daerah.
“Pada prinsipnya kami tidak ingin masyarakat mengalami kesulitan. Zona kuning pun, insyaAllah, akan kami pertimbangkan untuk mendapatkan santunan. Secara umum kondisi sudah tertangani, namun tetap akan kami evaluasi,” tegasnya.
Terkait rencana pembangunan hunian tetap (huntap), Jeje menyebut prosesnya masih dalam tahap musyawarah karena pemerintah masih mencari lokasi yang paling tepat dan aman. Ia berharap lokasi hunian tetap tetap berada di sekitar wilayah tersebut agar masyarakat tidak kehilangan mata pencaharian.
“Harapannya bisa tetap di sekitar sini, karena sumber penghidupan warga ada di wilayah ini,” katanya.
Sementara itu, menanggapi wacana pengembangan wisata bencana di kawasan terdampak, Bupati menilai hal tersebut kurang tepat. Ia berpandangan bahwa lokasi tersebut seharusnya menjadi ruang empati dan doa bagi warga, bukan objek wisata.
“Menurut saya kurang elok jika dijadikan wisata. Lebih baik masyarakat yang datang ke sini untuk mendoakan dan memberi dukungan moral bagi warga,” pungkasnya.
