Proyek PSEL di Bandung Barat Mulai Dibangun, Apa Dampaknya bagi Lingkungan?

PASUNDANEKSPRES.ID - Sampah dari kawasan Bandung Raya akan masuk ke pola pengelolaan baru setelah fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Regional Legok Nangka mulai dibangun. Proyek PSEL di Bandung Barat menjadi bagian dari fasilitas regional yang disiapkan untuk mengolah sampah dalam jumlah besar sekaligus menghasilkan energi listrik.
Pembangunan fasilitas tersebut resmi dimulai pada Juli 2026. Kapasitas pengolahannya mencapai sekitar 2.131 ton sampah per hari dengan potensi produksi listrik sekitar 40,79 megawatt (MW). Operasional fasilitas ditargetkan mulai berjalan pada 2029.
Cakupan layanan Legok Nangka juga tidak terbatas pada wilayah sekitar lokasi. Sampah dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Garut akan masuk dalam skema pengelolaan regional tersebut.
Apa Itu Proyek PSEL di Bandung Barat?
Mengutip Biro Perekonomian Jabar Prov, proyek PSEL di Bandung Barat ini berkaitan dengan fasilitas Regional Legok Nangka yang menggunakan konsep waste to energy.
Sampah yang sebelumnya hanya berakhir di tempat pemrosesan akhir nantinya diolah menjadi sumber energi dengan menggunakan teknologi insinerator yang memproses sampah melalui pembakaran bersuhu tinggi.
Panas dari proses tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik yang selanjutnya disalurkan ke jaringan kelistrikan.
Pembangunan fasilitas ini memiliki nilai investasi sekitar US$400 juta atau setara Rp7,2 triliun, dengan masa konstruksi yang diperkirakan mencapai 41 bulan. Sejumlah infrastruktur pendukung juga disiapkan agar proses pengolahan hingga penyaluran listrik dapat berjalan sesuai sistem yang dirancang.
Proyek ini tidak hanya berkaitan dengan kapasitas pengolahan sampah dan produksi listrik. Selama pembangunan hingga operasional, kebutuhan tenaga kerja serta berbagai aktivitas pendukung juga diproyeksikan ikut menggerakkan kegiatan ekonomi di sekitar kawasan.
Keuntungan yang Dibawa PSEL
Kapasitas pengolahan yang besar membuat fasilitas ini dirancang untuk mengurangi jumlah sampah yang harus ditangani melalui metode penimbunan. Target lainnya berkaitan dengan pemanfaatan energi dari material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
Beberapa manfaat yang diproyeksikan antara lain:
- Pengolahan hingga 2.131 ton sampah per hari.
- Produksi listrik sekitar 40,79 MW.
- Pengurangan beban tempat pemrosesan akhir.
- Sekitar 1.565 lapangan kerja selama masa konstruksi.
- Potensi penurunan emisi gas rumah kaca.
- Aktivitas ekonomi dari investasi dan pembangunan fasilitas.
Bagi daerah yang masuk cakupan layanan, keberadaan fasilitas regional juga membuat pengelolaan sampah tidak sepenuhnya bergantung pada kapasitas satu tempat pemrosesan akhir.
Risiko PSEL yang Tidak Bisa Diabaikan
Teknologi waste to energy tetap memiliki aspek lingkungan yang harus dikendalikan. Proses pembakaran menghasilkan emisi dan residu sehingga fasilitas membutuhkan sistem penyaring serta pemantauan yang berjalan secara konsisten.
Selain persoalan emisi, sisa pembakaran juga perlu dikelola secara tepat sesuai karakteristiknya. Penanganan abu dan residu menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan agar proses pengolahan sampah tidak memunculkan persoalan lingkungan baru.
Risiko lainnya berkaitan dengan mobilitas kendaraan pengangkut sampah menuju kawasan Legok Nangka. Peningkatan aktivitas tersebut dapat berdampak pada kepadatan lalu lintas, kebisingan, debu, hingga kondisi jalan yang dilalui kendaraan.
Kondisi lingkungan di sekitar fasilitas juga perlu dipantau secara berkala. Masyarakat membutuhkan akses terhadap hasil pemantauan serta saluran pengaduan yang jelas apabila muncul gangguan selama proyek maupun ketika fasilitas mulai beroperasi.
Karena itu, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengolah ribuan ton sampah atau menghasilkan listrik.
Pengendalian emisi, pengelolaan residu, lalu lintas angkutan, dan hubungan dengan masyarakat sekitar akan menjadi bagian penting ketika fasilitas mulai beroperasi.
(pm)
