Rugi Besar, Sopir Angkot di Bandung Barat Keluhkan Kebijakan KDM

PASUNDANEKSPRES.ID - Kebijakan Dedi Mulyadi yang mewajibkan angkutan kota (angkot) masuk ke Terminal Panorama Lembang menuai keluhan dari para sopir angkot. Mereka mengaku mengalami kerugian besar akibat penurunan jumlah penumpang, terutama di jalur-jalur utama kawasan Lembang yang selama ini menjadi titik ramai di luar terminal.
Salah seorang sopir angkot jurusan Lembang Cikole, Reno Hartono, mengatakan aktivitas penumpang justru lebih banyak terjadi di luar terminal, khususnya pada pagi hari. "Penumpang banyaknya di luar, bukan di dalam terminal. Kalau kami dipaksa masuk, justru sepi. Penumpang juga keberatan karena harus jalan lebih jauh," ujar Reno, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung lama, bahkan sebelum kebijakan terbaru dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat diterapkan. "Kalau tidak dapat borongan, tidak semua kebagian penumpang. Paling hanya satu dua sopir saja," katanya.
Meski demikian, Reno menegaskan para sopir pada dasarnya tidak menolak kebijakan tersebut. Namun, mereka berharap ada solusi yang lebih realistis agar tetap bisa memperoleh penumpang. "Kami tidak menolak masuk terminal, tapi kalau memang ada penumpangnya. Masalahnya, penumpang lebih banyak di luar," tuturnya.
Ia juga mengusulkan adanya penataan yang lebih tertib di luar terminal, seperti penerapan sistem antrean satu baris bagi angkot untuk mengurangi kemacetan. "Kalau bisa jangan dua baris, karena malah menghambat dan bikin macet. Antar sopir harus saling mengerti, nanti teknisnya petugas Dishub yang mengatur," ujarnya.
Sejak kebijakan diberlakukan, sejumlah sopir juga mengeluhkan adanya peralihan penumpang ke ojek motor yang dinilai lebih praktis, meski tarifnya lebih mahal. Kondisi ini membuat pendapatan sopir angkot menurun drastis.
Di sisi lain, muncul wacana pengalihan profesi sopir angkot menjadi petugas kebersihan. Namun, hal ini justru menimbulkan kekhawatiran di kalangan sopir karena belum ada kejelasan terkait kuota. "Katanya akan direkrut jadi petugas kebersihan, tapi belum jelas kuotanya. Banyak yang mau, tapi takut tidak kebagian," kata Reno.
Untuk diketahui, kebijakan ini diterapkan guna menertibkan angkot yang masih kerap mangkal di depan Pasar Panorama, yang selama ini dinilai menjadi penyebab kemacetan.
Permasalahan tersebut menjadi perhatian Dedi Mulyadi saat melintas di Jalan Panorama pada Senin (27/4/2026). Saat itu, ia bahkan sempat menemui langsung para sopir angkot yang tengah menunggu penumpang di bahu jalan.(ijr/sep)
