Warga Keluhkan Waduk Saguling Banyak Nyamuk

PASUNDANEKSPRES.ID - Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di Pesantren Al Hilal di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (7/5/2026), diwarnai keluhan warga terkait banyaknya nyamuk di Waduk Saguling. Acara peluncuran program BEWARA (Bersama Warga Reksa Alam) yang dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat itu justru berlangsung di tengah kondisi lingkungan yang dinilai kurang terawat.
Waduk saguling yang dipenuhi eceng gondok di sekitar area acara disebut menjadi penyebab banyaknya nyamuk. Sejumlah warga mengaku merasa tidak nyaman selama kegiatan berlangsung karena nyamuk terus mengerumuni area lokasi. "Ampun, nyamuknya banyak sekali. Gara-gara eceng gondok yang melimpah ruah jadi tempat nyamuk berkembang biak. Kami warga sini saja setiap malam selalu kena gigit, apalagi tamu yang baru datang pasti kaget dan jadi tidak betah," keluh salah seorang warga yang engga disebutkan namanya.
Selain mengganggu kenyamanan, warga juga khawatir kondisi tersebut dapat memicu masalah kesehatan apabila tidak segera ditangani. Mereka berharap pemerintah daerah segera membersihkan genangan air dan eceng gondok agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Ironisnya, keluhan itu muncul di tengah peringatan HPSN yang mengusung kepedulian terhadap lingkungan. Warga berharap program lingkungan yang diluncurkan pemerintah tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga diikuti penanganan nyata terhadap persoalan lingkungan di lapangan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah daerah dan dinas terkait agar penataan lingkungan, termasuk pengendalian genangan air dan sampah, dapat dilakukan secara lebih maksimal di kawasan Desa Rancapanggung.
Sementara, Saguling Hydro Power Plant PLN Indonesia Power menilai kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan langkah simbolis untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.
Senior Manager Unit of Saguling Hydro Power Plant PLN Indonesia Power, Doni Bakar mengatakan persoalan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, termasuk pelaku usaha dan masyarakat. "Meskipun secara infrastruktur masih banyak tantangan, terutama terkait kendaraan operasional, namun kalau budaya masyarakat bisa diubah, sampah sebenarnya bisa dikelola sejak dari rumah," ujarnya saat kegiatan HPSN di Kabupaten Bandung Barat, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, penumpukan sampah berdampak terhadap pertumbuhan eceng gondok dan sedimentasi di Waduk Saguling yang secara perlahan dapat mempengaruhi produksi listrik PLTA Saguling. "Meskipun tidak langsung, keberadaan eceng gondok mempercepat sedimentasi waduk. Kalau sedimentasi semakin tinggi, daya tampung air akan berkurang. Ketika daya tampung berkurang, tentu akan berdampak pada operasional PLTA," katanya.
Sebagai langkah pencegahan, Saguling Hydro Power Plant PLN Indonesia Power terus melakukan berbagai upaya untuk menekan pertumbuhan eceng gondok di kawasan waduk.
Terkait percepatan penanganan eceng gondok, Doni mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 94 hektare area Waduk Saguling yang terpetakan dipenuhi eceng gondok. Penanganan dilakukan secara bertahap dengan menyisir area demi area. "Dalam waktu dekat kami akan evaluasi apakah area-area tertentu akan segera ditutup untuk dibersihkan," ujarnya.
Selain penanganan teknis, edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda di sekitar Waduk Saguling, juga terus dilakukan melalui berbagai kegiatan lingkungan seperti HPSN dan program BEWARA. "Makanya kita butuh acara seperti ini.
Masyarakat harus aktif, kemudian pemuda-pemudi juga bisa peduli terhadap kegiatan lingkungan seperti ini," pungkasnya.
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail mengatakan persoalan sampah menjadi tantangan besar yang membutuhkan kerja nyata dan kolaborasi seluruh pihak. "Permasalahan sampah menjadi tantangan besar yang membutuhkan kerja nyata dan kolaborasi dari kita semua," ujar Asep.
Asep menegaskan peringatan HPSN harus menjadi momentum untuk melakukan penanganan sampah secara menyeluruh, tidak hanya melalui aksi bersih-bersih, tetapi juga lewat pengelolaan yang tertib, sistematis, dan berkelanjutan.
Asep menegaskan peringatan HPSN tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi harus menjadi langkah nyata dalam mengubah perilaku dan membangun budaya peduli sampah di tengah masyarakat.
Sementara itu, untuk penanganan sampah yang saat ini terlihat menumpuk di sekitar pinggiran Waduk Saguling, pihaknya memastikan masalah tersebut sedang ditangani secara serius. "Untuk sampah yang menumpuk di pinggir Waduk Saguling akan diangkut dan diselesaikan sekarang," tegasnya.
Ia berharap kegiatan Bersama Warga Reksa Alam (Bewara) di Desa Rancapanggung dapat menjadi contoh nyata dalam penanganan sampah berkelanjutan yang sejalan dengan visi Bandung Barat Amanah, Agamis, Maju, Adaptif, Nyaman, Aspiratif, dan Harmonis. "Mari kita perkuat komitmen dan kolaborasi untuk mewujudkan Bandung Barat yang bersih dan bebas dari sampah," tandasnya.(ijr/sep)
