26 Tahun Bertahan di Rumah Tak Layak, Potret Perjuangan Keluarga Encep yang Kini Dapat Bantuan

PASUNDANEKSPRES.ID - Selama lebih dari dua dekade, Encep (54), warga Desa Sukahurip, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat, bersama keluarganya bertahan hidup di rumah sederhana berdinding bilik bambu dengan kondisi bangunan yang kian memprihatinkan.
Kini, setelah puluhan tahun tinggal di rumah yang atapnya bocor dan rangka kayunya mulai lapuk, Encep mendapat bantuan renovasi rumah dari pemerintah.
Rumah yang telah ditempatinya sejak 2000 itu menjadi tempat berteduh bagi enam anggota keluarga, termasuk istrinya, Carnasih (50), serta anak dan cucunya. Namun, seiring bertambahnya usia bangunan, kondisi rumah tersebut semakin membutuhkan perbaikan.
Dinding bilik bambu yang mulai menua, atap yang tak lagi mampu menahan air hujan, hingga rangka kayu yang lapuk menjadi persoalan yang harus dihadapi keluarga Encep setiap hari.
Saat hujan turun, air kerap merembes masuk ke dalam rumah. Kondisi itu membuat kenyamanan dan keamanan keluarga terganggu, terutama ketika cuaca buruk melanda.
Di tengah keterbatasan tersebut, secercah harapan datang ketika Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), mengunjungi kediamannya pada Senin (2/11/2026).
Kabar Baik Bagi Encep
Kunjungan tersebut membawa kabar baik bagi Encep. Selain mendapatkan bantuan renovasi atau program bedah rumah, keluarganya juga menerima bantuan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tiga bulan.
Encep mengaku tidak pernah membayangkan rumah sederhananya akan dikunjungi langsung oleh seorang menteri. Ia pun menyampaikan rasa bahagia dan bangga karena keluarganya mendapat perhatian dari pemerintah.
“Alhamdulillah, senang sekali. Sangat bangga. Rasanya seperti mimpi saya kedatangan Bapak Menteri ke sini,” ujar Encep.
Encep mengatakan, selama sekitar 26 tahun menempati rumah tersebut, dirinya bersama keluarga harus bertahan dengan kondisi bangunan yang terus mengalami penurunan kualitas.
Persoalan paling terasa, kata dia, terjadi ketika hujan turun. Atap rumah yang bocor membuat air masuk ke dalam, sementara kayu-kayu penyangga bangunan sudah tua dan lapuk.
“Kalau hujan ya begini saja, bocor. Apalagi kayu-kayunya sudah tua,” kata Encep.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Encep sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan. Sementara itu, sang istri membantu bekerja di sawah.
Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, Encep mengaku keluarganya telah menerima bantuan pemerintah yang disalurkan selama ini. Ia berharap bantuan bedah rumah tersebut dapat membuat tempat tinggalnya menjadi lebih layak, nyaman, dan aman bagi seluruh anggota keluarga.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji menyampaikan, pendekatan langsung diperlukan untuk memastikan keluarga yang masuk dalam kategori berisiko stunting memperoleh pendampingan dan bantuan sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat penurunan stunting melalui pendekatan langsung kepada keluarga yang berisiko stunting. Kami ingin memastikan keluarga sasaran mendapatkan pendampingan dan bantuan sesuai dengan kebutuhannya,” terangnya.
Selain penyerahan bantuan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta balita non-PAUD atau MBG 3B.(cdp/ysp)
