Audiensi Ditunda, Forum Masyarakat Subang Ngabret Siap Kembali Temui BYD Bahas Tenaga Kerja Lokal

SUBANG – Forum Masyarakat Subang Ngabret berencana kembali mengajukan audiensi dengan pihak PT BYD Auto Indonesia untuk membahas kontribusi masyarakat sekaligus berbagai dinamika yang muncul setelah investasi industri kendaraan listrik hadir di Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Rencana audiensi yang sebelumnya hendak dilakukan harus ditunda. Perwakilan PT BYD Auto Indonesia menyampaikan bahwa pengajuan audiensi perlu dijadwalkan dan disampaikan melalui surat sekurang-kurangnya satu bulan sebelumnya.
Perwakilan Forum Masyarakat Subang Ngabret, Megi Akbar Setiawan, mengatakan penundaan tersebut justru menjadi tanda bahwa ruang komunikasi dengan pihak perusahaan masih terbuka.
Menurutnya, masyarakat sebelumnya sempat memiliki anggapan bahwa komunikasi dengan perusahaan besar seperti BYD akan sulit dilakukan. Namun, setelah mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme audiensi, pihaknya melihat masih terdapat peluang untuk membangun komunikasi secara resmi.
“Ini merupakan munculnya sebuah harapan. Artinya tidak seperti yang kita bayangkan, yang mana ke BYD itu susah. Ternyata masih bisa komunikasi, hanya saja mungkin waktunya memang tidak bisa dilakukan secara mendadak,” ujar Megi seusai berkomunikasi dengan perwakilan dari PT BYD Auto Indonesia pada Jumat (11/9/2026).
Megi menegaskan, Forum Masyarakat Subang Ngabret tidak datang untuk mengganggu keberadaan investasi BYD di Subang. Sebaliknya, masyarakat menyambut positif kehadiran industri kendaraan listrik tersebut dan berharap investasi besar itu dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Menurutnya, keberadaan BYD bersama industri kendaraan listrik lainnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Subang. Karena itu, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga iklim investasi dan nama baik perusahaan.
“Kita juga menyambut baik adanya investasi, adanya BYD di Indonesia khususnya di Subang. Merupakan kebanggaan masyarakat Subang hari ini dengan pabrik mobil listrik terbesar. Selain VinFast, ada juga BYD. Kita akan menjaga nama baik itu,” katanya.
Namun, di sisi lain, Megi menilai komunikasi antara masyarakat, perusahaan dan pemerintah tetap diperlukan untuk membahas berbagai dinamika di lapangan, terutama persoalan kesempatan kerja bagi masyarakat Kabupaten Subang.
Ia mengatakan masyarakat ingin mengetahui lebih jauh bagaimana mekanisme dan standar perekrutan tenaga kerja yang diterapkan perusahaan. Apalagi, BYD dikenal menerapkan standar kualitas yang tinggi dalam kebutuhan sumber daya manusia.
“Tidak ada salahnya juga kita ingin berkomunikasi atas dinamika-dinamika di lapangan. Khususnya lapangan kerja yang katanya mereka menerapkan standar kualitas yang tinggi. Alangkah baiknya itu terjadi komunikasi dua arah yang akhirnya tidak timbul miss komunikasi,” ujarnya.
Megi menilai komunikasi tersebut penting agar harapan masyarakat terhadap investasi tidak berhenti pada nilai investasi dan keberadaan pabrik, tetapi juga berbanding lurus dengan manfaat yang dirasakan tenaga kerja lokal.
Ia juga menyatakan sepakat dengan pandangan Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi Raemi bahwa investasi yang masuk ke Subang idealnya berjalan beriringan dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal.
Menurut Megi, persoalan tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada perusahaan. Pemerintah daerah, DPRD, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, serta masyarakat memiliki peran masing-masing untuk menciptakan kesiapan tenaga kerja lokal.
“Ini perlu dikomunikasikan antara pihak swasta mungkin juga dengan pihak pemerintah. Kalau saya warga sipil biasa yang peduli perusahaan ini,” katanya.
Ia berharap ke depan terbangun kolaborasi yang lebih konkret antara masyarakat, pemerintah dan pihak perusahaan. Menurutnya, masing-masing pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab sesuai kewenangannya.
Di sisi pemerintah, terdapat DPRD melalui komisi terkait dan Disnakertrans. Sementara masyarakat juga memiliki kewajiban memberikan kontribusi berupa tenaga, pikiran maupun gagasan.
“Kita masyarakat juga punya kewajiban merawat, menjaga, dan berkontribusi lewat tenaga, pikiran dan gagasan untuk bareng-bareng membangun Subang. Sesuai dengan tagline Ngabret, kita juga sebagai rakyat ingin berkontribusi,” tegas Megi.
Forum Masyarakat Subang Ngabret berencana kembali melayangkan surat permohonan audiensi dalam waktu dekat. Surat tersebut rencananya dikirim antara 12 atau 13 September 2026 dengan harapan audiensi dapat dijadwalkan sekitar satu bulan setelah pengajuan.
Megi berharap pertemuan nantinya tidak hanya menjadi forum menyampaikan aspirasi, tetapi menjadi pintu masuk kolaborasi antara masyarakat Subang dan BYD.
“Kita ingin berkomunikasi dan mencari titik temu. Harapannya ke depan bisa terjalin kolaborasi yang baik, sehingga keberadaan investasi ini bisa memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat Subang,” pungkasnya.(hdi/ysp)
