Lelet Beri Bantuan Pedagang, Enam Bulan Terdampak Kebakaran Pasar Jumaah Purwakarta

PURWAKARTA-Kebakaran hebat yang menghanguskan pertokoan di pusat perniagaan Pasar Jumaah Purwakarta sudah enam bulan berlalu. Peristiwa tersebut tak hanya menimbulkan trauma tapi juga dampak ekonomi bagi para pedagang.
Betapa tidak, para pedagang dibuat bangkrut karena seluruh modalnya dalam bentuk dagangan habis terbakar. Terlebih saat itu menjelang Hari Raya Idulfitri, sehingga stok dagangan dimaksimalkan.
Adapun saat ini, para pedagang Pasar Jumaah yang jumlahnya ratusan itu masih terus berupaya untuk bangkit. Serangkaian upaya telah dilakukan guna mendapatkan perhatian pemerintah.
Sebut saja mulai dari bersurat ke Pemda untuk beraudiensi dengan Bupati Purwakarta hingga menggelar pertemuan dengan para wakil rakyat di Gedung DPRD Kabupaten Purwakarta.
Lambannya bantuan maupun penanganan menimbulkan rasa frustasi dan saling kecewa di internal para pedagang. Bahkan, keputusan untuk melakukan unjuk rasa secara massif pun sempat menjadi opsi terakhir.
Akan tetapi, demi menjaga situasi tetap kondusif, para pedagang kembali mengambil langkah persuasif.
Didampingi teman-teman dari Bela Purwakarta, sebuah wadah silaturahmi lintas sektoral dan lintas elemen masyarakat, perwakilan pedagang melanjutkan upaya secara diplomatis ke Pemda Purwakarta, belum lama ini.
Mereka datang untuk berdialog langsung dengan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau akrab disapa Om Zein. Sayangnya, Om Zein berhalangan hadir lantaran sedang dalam masa pemulihan setelah mendapat perawatan kesehatan.
Para pedagang pun ditemui Asda 2 Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Agung Darwis Suriaatmaja, didampingi Asda 1 bidang Pemerintahan, Hukum dan Kesejahteraan Rakyat, Rahmat Heriansyah.
Dalam pertemuan itu, Ketua Persatuan Warga Pasar (Perwapa), Iwan Sopwan Arif mengatakan, pihaknya tetap melaksanakan perjuangan secara diplomatis demi nama baik Purwakarta dan menjaga wibawa Pemerintah Kabupaten Purwakarta.
"Akan tetapi, jika tetap tidak ada tanggapan, apa boleh buat, kami tidak punya pilihan lain selain melakukan aksi," kata Iwan tegas.
Sesepuh para pedagang, Haji Entang Sobur, menambahkan, akibat dampak terlalu lamanya penanganan pascakebakaran, para pedagang berada dalam penderitaan yang berkepanjangan.
"Ada yang tak lagi mampu membayar cicilan bank, ada pedagang yang hingga saat ini tidak mau keluar rumah saking mengalami depresi. Masih beruntung di antara kami tidak ada yang melakukan aksi nekad melukai diri sendiri," ujarnya.
Haji Entang menegaskan bahwa para pedagang hanya butuh empati berupa "kadeudeuh" agar bisa kembali bangkit merintis usaha demi menghidupi keluarga dan melanjutkan kehidupan.
Sementara, Founder Bela Purwakarta, Aa Komara mengatakan, kondisi rakyat saat ini sedang sensitif dan mudah marah. Tak hanya unjuk rasa, kekerasan pun terjadi di mana-mana.
Disebutkan Aa, fenomena munculnya gerakan "One Piece", "Indonesia Gelap", serta simbol simbol perlawanan lainnya merupakan akumulasi rasa kecewa terhadap minimnya rasa empati dan lambannya para penyelenggara negara merespons aspirasi warga.
"Belajar dari hal-hal tersebut, kami berharap persoalan nasib korban kebakaran Pasar Jumaah segera mendapatkan solusi yang paling bijak, sebelum memicu gelombang sosial yang dapat merugikan Kota Purwakarta yang kita cintai bersama," ucap Aa.
Di akhir pertemuan, perwakilan pedagang menitipkan amanat kepada kedua pejabat Pemkab Purwakarta tersebut agar dalam pertemuan selanjutnya dapat diterima oleh Bupati Purwakarta dan mendapatkan keputusan final terkait nasib mereka.
Dihubungi terpisah, pihak DPRD Kabupaten Purwakarta sekaligus mewakili Badan Anggaran DPRD, Said Ali Azmi menuturkan, terkait solusi berupa "kadeudeuh" untuk para pedagang korban kebakaran ini dapat dialokasikan melalui dana hibah yang teranggarkan di APBD.
"Kami pun di DPRD menginginkan persoalan ini lekas selesai dan para pedagang bisa melanjutkan aktivitas perekonomian demi dapat menghidupi keluarganya. Semoga segala sesuatunya berjalan lancar," kata Said Ali Azmi yang saat itu didampingi koleganya, Dedi Juhari.(add/ysp)
