Pak Dedi Yeuh, Siswa Subang Masih Bawa Motor

PASUNDANEKSPRES.ID – Pemandangan kurang mengenakkan terlihat di jalur Jalancagak, Subang, khususnya pada jam pulang sekolah. Masih banyak siswa SMA di wilayah tersebut yang membawa sepeda motor tanpa mengenakan helm sebagai alat pelindung diri.
Pantauan Pasundan Ekspres pada Rabu (1/10/2025), terlihat sejumlah pelajar melintas dengan santainya. Mereka tidak hanya mengendarai sepeda motor tanpa helm, tetapi juga sebagian di antaranya berboncengan dengan sesama teman sekolah, tetap tanpa mengenakan perlengkapan keselamatan.
Budi, salah seorang warga Jalancagak yang ditemui di sekitar lokasi, mengaku sudah terbiasa melihat pemandangan tersebut hampir setiap hari. Menurutnya, pelajar yang membawa kendaraan bermotor tanpa helm kebanyakan adalah siswa SMA dan SMK.
“Iya sering bawa motor terus banyak juga yang tidak memakai helm. Kayanya kebanyakan anak SMA/SMK,” ucap Budi kepada Pasundan Ekspres.
Fenomena pelajar membawa kendaraan bermotor bukan hal baru di Subang. Padahal, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada Mei 2025 telah mengeluarkan aturan tegas yang melarang siswa SD, SMP, dan SMA yang belum cukup umur serta belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) membawa motor ke sekolah.
Aturan tersebut diterapkan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar, sekaligus membentuk karakter disiplin di kalangan siswa.
Dalam aturan tersebut, pemerintah juga mendorong para siswa untuk menggunakan angkutan umum. Bagi siswa yang rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah, dianjurkan berjalan kaki sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Sementara siswa yang tinggal di daerah terpencil, orang tua diharapkan turut berperan mengantar anak mereka ke sekolah.
Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan implementasi aturan tersebut masih jauh dari harapan. Kurangnya pengawasan dari pihak sekolah maupun aparat terkait membuat siswa tetap leluasa membawa motor tanpa helm. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan mereka, apalagi angka kecelakaan lalu lintas di Jawa Barat masih cukup tinggi.
Budi berharap pihak sekolah, kepolisian, dan dinas terkait lebih serius dalam menegakkan aturan. Edukasi tentang pentingnya keselamatan berlalu lintas dinilai perlu lebih digencarkan di kalangan pelajar agar mereka lebih sadar akan risiko yang ditimbulkan.
“Kami sebagai warga hanya bisa mengingatkan. Kalau ada razia atau pengawasan ketat, mungkin anak-anak bisa lebih disiplin. Soalnya kalau terus dibiarkan, mereka yang rugi sendiri,” pungkas Budi.(hdi/ysp)
