Persoalan Sampah di Bandung Barat Kian Kompleks, Dari Tumpukan Sampah hingga Serangan Nyamuk di Saguling

PASUNDANEKSPRES.ID - Persoalan sampah di Bandung Barat semakin kompleks. Mulai dari penumpukan sampah di bantaran Waduk Saguling, terganggunya operasional armada pengangkut sampah akibat kelangkaan solar, hingga dampak lingkungan berupa pertumbuhan eceng gondok dan serangan nyamuk yang meresahkan warga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB, Ibrahim Aji, mengungkapkan penumpukan sampah dari Pasar Rancapanggung di bantaran Waduk Saguling diduga terjadi akibat lemahnya sistem pengelolaan sampah. Hingga saat ini, pengelola pasar disebut belum memiliki nota kesepahaman (MoU) pengangkutan sampah dengan DLH Bandung Barat.
“Wilayah ini memang belum ada MoU dengan Dinas Lingkungan Hidup terkait pengangkutan sampah. Jadi selama ini mereka mengelola sendiri sampahnya dan ternyata mungkin kurang efektif sehingga terjadi penumpukan seperti ini,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, secara regulasi pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab pengelola pasar apabila belum ada kerja sama resmi dengan pemerintah daerah. Saat ini DLH hanya melakukan penanganan terbatas dengan mengangkut sampah di pinggiran waduk guna mencegah dampak lingkungan yang lebih luas.
DLH juga menyoroti persoalan pembiayaan pengelolaan sampah di tingkat pasar. Biaya yang dipungut dari pedagang disebut hanya sekitar Rp2.000 dan dinilai tidak sesuai dengan ketentuan retribusi dalam peraturan daerah.
“Retribusi jauh di atas itu, jadi tidak masuk. Mungkin nanti perlu ada sosialisasi supaya bisa menyesuaikan dengan perda retribusi yang berlaku,” kata Ibrahim.
Pengelolaan Sampah di Bandung Barat Tidak Berjalan Optimal
Kondisi tersebut dinilai membuat pengelolaan sampah di Bandung Barat tidak berjalan optimal karena biaya operasional tidak sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan setiap hari.
Di sisi lain, operasional armada pengangkut sampah milik DLH KBB juga mulai terkendala akibat kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang terjadi dalam dua pekan terakhir. Akibatnya, jadwal pengangkutan sampah di sejumlah wilayah mengalami keterlambatan.
“Sudah dua pekan armada pengangkut sampah milik kami mengalami kesulitan mendapatkan pasokan solar. Jadi jadwal pengangkutan di beberapa wilayah mengalami keterlambatan,” ujar Ibrahim.
Ia menyebut persoalan utama bukan hanya kenaikan harga BBM, tetapi sulitnya memperoleh stok solar di lapangan.
“Kalau harganya naik tapi barangnya ada itu masih lebih baik. Sekarang justru barangnya yang sulit. Kalau solarnya tidak ada, otomatis pengangkutan sampah terhambat,” katanya.
Meski demikian, layanan pengangkutan sampah dipastikan tidak berhenti total. Namun sejumlah wilayah mengalami penundaan jadwal pengangkutan.
“Sudah ada wilayah yang terdampak, tapi sifatnya tertunda, bukan berarti tidak terangkut. Misalnya yang biasanya seminggu sekali diangkut jadi mundur karena kelangkaan solar,” ucapnya.
Persoalan lingkungan di kawasan Saguling juga memicu keresahan warga Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin. Warga mengeluhkan serangan nyamuk yang diduga berasal dari hamparan eceng gondok yang menutupi aliran Sungai Saguling.
Kepala Desa Rancapanggung, Jaya, mengatakan eceng gondok yang memenuhi daerah aliran sungai diduga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk yang kini mulai menyerang permukiman warga.
“Benar, bahwa serangan nyamuk yang diduga berasal dari eceng gondok yang tumbuh dan memenuhi permukaan Sungai Saguling yang berada di wilayah desa kami,” ujar Jaya.
Kondisi tersebut memperlihatkan persoalan sampah dan lingkungan di Bandung Barat tidak hanya berdampak pada kebersihan kawasan, tetapi juga mulai memengaruhi kenyamanan dan kesehatan masyarakat di sekitar Waduk Saguling.(ijr/ysp)
