Polemik Lagu Karya Bupati Purwakarta, Kakang Prabu: Karya Seni Jangan Dibatasi

PURWAKARTA - Tokoh yang juga Budayawan Sunda, Ramlan Samsuri, akrab disapa Kakang Prabu, turut menanggapi polemik lagu karya Bupati Purwakarta "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
Dengan tegas ia menyebutkan bahwa karya seni tidak boleh dibatasi. Saat membuat puisi yang kemudian dijadikan lirik lagu, Om Zein, panggilan akrab bupati, adalah Om Zein sebagai seorang seniman.
"Om Zein, dengan pengalamannya di masa muda yang penuh dinamika menuangkannya ke dalam sebuah puisi. Dalam perenungannya, ia bersyukur menjadi seorang laki-laki, karena apabila saat itu ia seorang perempuan maka berbagai hal bisa terjadi," kata Kakang Prabu saat ditemui di kediamannya di Purwakarta, Jumat (3/7/2026).
Kakang Prabu yang juga dikenal sebagai perwakilan Lembaga Dinasti Kaluhuran Galuh Pakuan Pajajaran ini menyebutkan bahwa "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, sehingga Om Zein bebas mencurahkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
"Ini menunjukkan beliau apa adanya, dengan segala kekurangannya. Jangan lupa, manusia tidak ada yang sempurna begitupula Om Zein," ujar Kakang Prabu menambahkan.
Meski demikian, Kakang Prabu memahami benar Om Zein sebagai seorang pemimpin daerah menjadi sorotan masyarakat, tak sedikit yang menggoreng polemik ini. Bahkan, tak menutup kemungkinan ada yang ingin menjatuhkannya.
"Saya sangat mengapresiasi Om Zein yang dengan legawa menyampaikan permohonan maaf meski menurut saya hal itu tak perlu dilakukan. Saya juga berpendapat bahwa karya beliau yang ada di berbagai platform tidak perlu ditarik peredarannya," ujar Kakang Prabu yang juga dikenal sebagai Dewan Kehormatan DPP LSM GMBI ini.
Kalau pun benar karya itu dianggap merendahkan, lanjut Kakang Prabu, bahkan ada yang lebih mengerikan, yakni lagu berjudul "Runtah" karya seorang seniman ternama yang juga merendahkan sosok perempuan.
"Kembali lagi, seorang seniman bebas dalam menuangkan buah karyanya dan akan menjadi suatu karya yang alamiah. Banyak karya seni lukis maupun patung yang vulgar, tapi kembali lagi, itu adalah suatu karya seni. Sebenarnya kembali ke diri kita masing-masing dalam melihat dengan sikap dewasa arif dan bijaksana," ucapnya.
Disinggung tentang sikap atau langkah terbaik apa yang dapat dilakukan Om Zein dalam menghadapi kritik masyarakat yang bertubi-tubi, Kakang Prabu berharap Om Zein tetap tenang, tidak terpancing atau pun merasa bersalah.
"Om Zein cukup membalas kritikan itu melalui karya lainnya. Di antaranya tetap bekerja profesional dalam membangun Kabupaten Purwakarta. Tetap melayani masyarakat dengan sepenuh hati dan selalu mendengar keluh kesah warga yang membutuhkan," kata Kakang Prabu.(add/ysp)
