Produksi Manggis Purwakarta Turun Drastis, Petani Rugi hingga Ekspor Mandek

PURWAKARTA - Produksi manggis Purwakarta terus merosot dalam dua tahun terakhir, imbasnya, aktivitas ekspor manggis pun terhenti.
Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta mencatat bahwa produksi manggis turun drastis dari 18.005 ton pada 2024 menjadi hanya 2.737 ton pada 2025. Sementara periode Januari-Mei 2026, produksi baru mencapai 2.553 ton.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dispangtan Kabupaten Purwakarta, Kurnia Prawira Saputra, menjelaskan, data produksi 2026 belum dapat dibandingkan secara langsung dengan tahun sebelumnya karena baru mencakup lima bulan.
"Data 2026 ini baru lima bulan, jadi belum bisa dibandingkan secara apple to apple dengan data satu tahun penuh. Tapi memang dalam dua tahun terakhir produksi manggis sedang sulit," kata Kurnia kepada wartawan, Rabu (1/7/2026).
Curah Hujan yang Tinggi Buat Penyebab Produksi Manggis Purwakarta Turun Drastis
Ia menyebutkan, curah hujan yang tinggi menjadi penyebab utama turunnya produksi. Tanaman manggis membutuhkan cuaca panas untuk merangsang pembungaan, sedangkan hujan yang berlangsung terus-menerus justru memicu pertumbuhan daun.
"Kalau terus diguyur hujan, yang muncul bukan buah tetapi daun baru. Padahal musim panen manggis berlangsung sekitar Oktober hingga Maret," ujar Kurnia.
Meski demikian, ia optimistis produksi manggis varietas Wanayasa dapat kembali meningkat pada musim panen mendatang. Cuaca yang mulai panas dinilai menjadi pertanda baik bagi proses pembungaan tanaman.
"Sekarang cuaca sangat panas, bahkan menyengat. Mudah-mudahan ini menjadi pertanda baik sehingga panen tahun ini bisa lebih melimpah," ucapnya.
Dari sisi pengepul, minimnya hasil panen membuat pengepul tidak lagi mampu memenuhi permintaan pasar luar negeri. Pasokan yang tersedia kini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Pengepul manggis di Kecamatan Kiarapedes, Defa Mustofa, mengatakan, pada musim panen normal pihaknya mampu mengirim hingga tiga kontainer manggis untuk pasar ekspor. Akan tetapi, pada musim ini aktivitas ekspor terpaksa dihentikan karena pasokan buah dari petani turun drastis.
"Biasanya kami bisa ekspor sampai tiga kontainer. Tapi sekarang tidak ekspor dulu karena barangnya memang tidak ada. Yang ada juga kami jual untuk kebutuhan pasar lokal," kata Defa saat ditemui di Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta.
Menurut Defa, produksi manggis di Purwakarta masih sangat bergantung pada kondisi cuaca. Berbeda dengan negara seperti Thailand dan Malaysia yang telah mengembangkan budidaya manggis secara intensif.
Adapun sebagian besar pohon manggis di Kabupaten Purwakarta tumbuh di kawasan perbukitan dan hutan rakyat.
"Kalau cuacanya bagus, hasilnya bagus. Tapi kalau cuacanya tidak mendukung seperti sekarang, bunga yang keluar sedikit, sehingga hasil panen ikut menurun," ujarnya.
Defa berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada petani manggis, terutama melalui pendampingan tenaga ahli untuk membantu menghadapi dampak cuaca ekstrem terhadap produksi.
"Saya berharap pemerintah bisa lebih ikut andil membantu petani manggis, terutama dengan menghadirkan tenaga ahli agar ada solusi saat cuaca ekstrem seperti sekarang," ucapnya.
Di tingkat petani, penurunan produksi berdampak langsung terhadap pendapatan. Petani manggis di Kecamatan Kiarapedes, Zaeng, mengaku selama dua musim terakhir pohon manggis hampir tidak menghasilkan buah.
"Kalau dari 100 pohon, paling satu pohon yang berbuah, itu pun hasilnya tidak maksimal," katanya.
Akibatnya, nilai jual kebun manggis yang biasanya mencapai Rp8 juta hingga Rp15 juta saat musim panen merosot tajam menjadi sekitar Rp300 ribu.
"Bayangkan saja, kita biasa jual itu sampai Rp15 juta, kemarin cuma Rp300 ribu. Karena memang enggak ada buahnya," ujar Zaeng.(add)
