Produksi Perikanan di Subang Capai Ribuan Ton, Tapi Benih Masih Didatangkan dari Luar Daerah

SUBANG – Produksi perikanan di Subang terus menunjukkan angka besar dengan hasil mencapai ribuan ton setiap tahun dari berbagai komoditas unggulan. Namun di balik potensi tersebut, industri perikanan Subang masih menghadapi persoalan mendasar karena kebutuhan benih ikan dan udang sebagian besar masih bergantung dari luar daerah.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Subang, sejumlah komoditas budidaya menjadi penopang utama produksi perikanan daerah. Ikan bandeng menjadi salah satu komoditas dengan produksi terbesar, yakni berkisar antara 400 hingga 730 ton setiap bulan. Produksi tertinggi tercatat pada Oktober 2025 yang mencapai 730 ton.
Selain bandeng, produksi udang vaname juga menunjukkan potensi besar dengan kisaran 420 hingga 600 ton per bulan. Sementara produksi udang windu berada pada angka 320 hingga 450 ton setiap bulan.
Komoditas lainnya turut memberikan kontribusi terhadap sektor perikanan budidaya Subang. Produksi rumput laut tercatat mencapai 425 hingga 682 ton per bulan, ikan mujair sekitar 205 hingga 350 ton, ikan nila berkisar 61 hingga 95 ton, serta ikan kakap mencapai 33 hingga 65 ton setiap bulan.
Besarnya angka produksi tersebut menunjukkan Kabupaten Subang memiliki potensi kuat sebagai salah satu daerah penghasil perikanan budidaya di Jawa Barat. Terlebih, kawasan Pantura Subang memiliki wilayah tambak yang cukup luas dan menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir.
Namun, tingginya produksi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan kemandirian sektor hulu. Hingga kini, kebutuhan benih ikan dan udang bagi pembudidaya masih banyak dipenuhi dari luar daerah.
Jabatan Fungsional Pengelola Produksi Perikanan Ahli Muda Dinas Perikanan Kabupaten Subang, Agus Darojat, mengungkapkan sebagian besar pembudidaya masih mengandalkan pasokan benih dari Kabupaten Karawang.
"Benih ikan masyarakat masih harus beli ke Karawang. Untuk nener sendiri asalnya dari Bali, kemudian didederkan di Karawang sebelum dipasarkan ke pembudidaya," ujarnya.
Menurut Agus, ketergantungan terhadap daerah lain juga terjadi pada komoditas udang. Proses pendederan benur udang masih banyak dilakukan di Kabupaten Indramayu sebelum dikirim ke pembudidaya di Subang.
Kondisi tersebut membuat rantai produksi perikanan di Subang belum sepenuhnya memberikan nilai tambah maksimal bagi daerah. Padahal, dengan jumlah produksi yang terus berkembang, kebutuhan akan industri pembenihan lokal semakin besar.
Ketua Bidang Kemaritiman Dekopinda Kabupaten Subang, Yudistira, menilai sektor pembenihan menjadi peluang investasi yang menjanjikan apabila mampu dikembangkan secara serius.
"Belum ada pemodal yang masuk ke sektor pembenihan benur maupun bibit ikan. Padahal membangun usaha pembenihan membutuhkan biaya yang sangat besar," katanya.
Ia mencontohkan, daerah lain seperti Karawang telah lebih dahulu berkembang sebagai sentra pembenihan. Kawasan tersebut mampu menarik investor karena melihat peluang besar dari kebutuhan benih perikanan.
"Di Karawang, khususnya wilayah Cemara, pembibitan udang windu maupun bandeng sudah berkembang. Mereka serius mengembangkan usaha pembenihan," ungkapnya.
Menurut Yudistira, Subang memiliki modal besar untuk membangun industri pembenihan karena didukung wilayah tambak yang luas dan produksi perikanan yang terus meningkat.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih agresif menarik investor agar pembangunan industri pembenihan dapat dilakukan di Kabupaten Subang.
"Kalau potensi sebenarnya sangat banyak. Yang menjadi kendala adalah modalnya besar. Solusinya pemerintah harus mendorong hadirnya investor untuk membangun industri perbenihan di Subang," tegasnya.
Ia menambahkan, pengembangan pembenihan memang membutuhkan perhatian khusus karena berbeda dengan budidaya ikan konsumsi. Selain membutuhkan teknologi, usaha tersebut juga memerlukan keahlian dan risiko yang lebih tinggi.
"Pembenihan bandeng dan udang berbeda dengan budidaya lele. Prosesnya lebih rumit dan membutuhkan waktu lebih lama. Karena itu banyak koperasi yang masih ragu," ujarnya.
Dengan produksi yang terus meningkat, penguatan industri pembenihan dinilai menjadi langkah penting agar sektor perikanan Subang tidak hanya besar dari sisi produksi, tetapi juga mandiri dari sisi rantai usaha.(hdi/ysp)
