Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Rajutan Asa Serat Harapan Cahaya Purnama Pekerja Migran

C
Cindy Desita Putri Editor: Yusup Suparman
|08:58 WIB
Bagikan:
Rajutan Asa Serat Harapan Cahaya Purnama Pekerja Migran
MERAJUT: Tiga remaja putri Dusun Sukamaneuh, Desa Jatireja, Kecamatan Compreng, Subang, saat merajut makram dalam pelatihan yang digagas Program Purnama Subang. Cindy Desita/Pasundan Ekspres

Pelita dari Sukamaneuh Bangun Kemandirian Ekonomi

Siang itu di sebuah rumah di Dusun Sukamaneuh, Desa Jatireja, Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang, jemari-jemari Desi Diana lincah memainkan seutas tali makram, merajutnya menjadi sebuah tas cantik berlabel Pelita, Pemuda Literasi.
Sementara di sudut lain, beberapa remaja perempuan tampak serius belajar teknik dasar merajut.

Dari ruang kecil inilah lahir mimpi-mimpi besar kemandirian, kreativitas, hingga harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi pekerja migran dan keluarga mereka.
Di balik kerajinan itu, ada sebuah kisah panjang tentang bagaimana sebuah program pemberdayaan bernama Purnama Subang yang digagas PT Pertamina EP Zona 7 Subang Field, berusaha menghadirkan cahaya bagi masyarakat yang selama ini bersentuhan erat dengan dunia pekerja migran.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) telah lama menjadi bagian penting dari denyut nadi ekonomi nasional. Setiap tahun, triliunan rupiah mengalir ke tanah air lewat remitansi yang mereka kirimkan untuk keluarga.

Jawa Barat, termasuk Kabupaten Subang, adalah salah satu daerah penyumbang PMI terbanyak di Indonesia. Namun, di balik angka-angka itu, tersimpan kisah getir. Banyak PMI yang pulang dengan tangan hampa karena terjebak hutang, upah tak dibayar, hingga trauma akibat perlakuan tak manusiawi. Ada pula keluarga yang porak poranda karena kurangnya komunikasi, atau anak-anak yang tumbuh tanpa pendampingan memadai.

Data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat, pada Desember 2022 terdapat 4.302 pekerja migran asal Jawa Barat. Angka ini terus meningkat hingga 2023. Tetapi di balik lonjakan jumlah itu, masalah-masalah klasik tetap menghantui, rendahnya literasi keuangan, lemahnya pemahaman hukum, hingga keterbatasan akses informasi.

Dari realitas inilah, PT Pertamina EP Zona 7 Subang Field mencoba menghadirkan sebuah jawaban lewat Program Purnama Subang. Nama Purnama dipilih bukan tanpa makna. Ia melambangkan cahaya penuh yang mampu menerangi kegelapan malam.

Begitu pula program ini, sebuah upaya untuk memberi penerangan berupa edukasi, keterampilan, dan pendampingan bagi pekerja migran dan keluarganya.
Sejak diluncurkan pada 2022, Purnama Subang hadir melalui berbagai kegiatan pelatihan diantaranya, keterampilan, penyuluhan hukum, pendampingan literasi keuangan, hingga dukungan sosial bagi keluarga PMI.
Di dalamnya, lahirlah sebuah komunitas bernama Sahabat Purnama, kelompok pelayanan yang menjadi motor penggerak kegiatan di lapangan. "Purnama Subang bukan hanya program CSR, tapi sebuah komitmen untuk mendampingi masyarakat agar lebih berdaya," ujar Wazirul Luthfi, Head of Comrel & CID PT Pertamina EP Zona 7 Regional 2 Jawa.

Salah satu bentuk paling nyata dari program ini adalah lahirnya brand Pelita (Pemuda Literasi), hasil kreasi anak-anak muda Dusun Sukamaneuh. Di rumahnya, Desi Diana menjadi sosok sentral yang menghidupkan gerakan ini.
Ia tak sekadar mengajarkan teknik merajut makram, tetapi juga menanamkan semangat wirausaha kepada warga, khususnya remaja perempuan. "Awalnya saya hanya mencoba-coba membuat hiasan dinding dari tali. Lama-lama berkembang jadi tas, dompet kecil, sampai aksesori rumah tangga," tutur Desi.

Brand Pelita resmi diperkenalkan sejak 2024. Produk-produknya unik seperti tas rajut, dompet kecil, hingga hiasan dinding, semua dibuat dari bahan dasar tali dan dikreasikan dengan sentuhan khas. Ada pula kerajinan berbahan serat daun nanas, sebuah inovasi yang memanfaatkan limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi.

Harga produknya relatif terjangkau, mulai Rp70 ribu hingga Rp250 ribu untuk produk berbahan tali, sementara kerajinan serat nanas dijual Rp250 ribu hingga Rp450 ribu.
Desi menuturkan, dalam sehari ia bisa menghasilkan dua tas kecil untuk kantong ponsel, atau satu tas besar yang butuh waktu hingga dua hari pengerjaan.

Yang menarik, dari setiap penjualan, 10 persen dialokasikan untuk program sosial. Sebuah langkah kecil, namun bermakna besar bagi masyarakat sekitar.
Di antara para peserta pelatihan, ada sosok Singgi Aulia, remaja 17 tahun yang masih duduk di bangku kelas XI SMA. Bagi Singgi, bergabung dalam pelatihan makram bukan hanya soal menambah keterampilan, tetapi juga cara memanfaatkan waktu luang dengan hal positif. "Saya ingin belajar wirausaha sejak dini. Siapa tahu ke depan bisa punya usaha kerajinan sendiri," ucapnya.

Cerita Singgi adalah potret kecil bagaimana Purnama Subang menyalakan api semangat di kalangan generasi muda. Mereka tak lagi sekadar menunggu kiriman uang dari orang tua yang bekerja di luar negeri, tetapi mulai belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Dan di balik semua itu, ada keyakinan bahwa setiap simpul tali yang dirajut, setiap serat nanas yang dipintal, bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga menenun masa depan.

Meski masih dalam tahap berkembang, pemasaran produk Pelita telah merambah berbagai kota di Jawa Barat. Penjualan dilakukan secara daring melalui media sosial dan marketplace.

Beberapa produk bahkan dibeli langsung oleh mitra Pertamina untuk dijadikan suvenir. Namun, pasar nasional bahkan internasional masih menjadi tantangan ke depan.
Dengan kualitas produk yang khas dan cerita sosial di baliknya, bukan mustahil suatu hari tas rajut dan dompet kecil dari Sukamaneuh bisa bersaing dengan produk kriya dari daerah lain di Indonesia.

Di balik setiap simpul tali makram yang terjalin, tersimpan kisah perjuangan, ketekunan, dan harapan. Ada cerita tentang seorang ibu yang ingin membantu suaminya mencari nafkah. Ada kisah remaja yang ingin mandiri. Ada pula keluarga PMI yang belajar mengelola keuangan agar tidak terjerat hutang.

Makram dan serat nanas bukan sekadar kerajinan tangan, tetapi juga jalan untuk membangun kemandirian ekonomi, mengurangi ketergantungan pada remitansi, serta memperkuat ikatan sosial di desa.

Program Purnama Subang, lewat Sahabat Purnama dan brand Pelita, pada akhirnya bukan hanya tentang produk, tetapi tentang pemberdayaan manusia.
PT Pertamina EP Zona 7 Subang Field memainkan peran kunci sebagai pendamping. Tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga mentoring, akses pemasaran, hingga dukungan modal.

Pendekatan ini sejalan dengan semangat Corporate Social Responsibility (CSR), yang menempatkan perusahaan bukan sekadar pencari keuntungan, tetapi juga mitra pembangunan masyarakat.

Dengan adanya program Purnama Subang, Pertamina berharap tercipta perubahan nyata peningkatan literasi keuangan, bertambahnya keterampilan warga, hingga tumbuhnya wirausaha baru di desa-desa.

Perjalanan masih panjang. Tantangan pun tak sedikit, keterbatasan pemasaran, akses modal, hingga daya saing produk. Tetapi semangat yang terpancar dari warga Sukamaneuh, terutama para perempuan dan remaja, menjadi modal berharga.

Dari desa kecil ini, lahir secercah cahaya yang mungkin tampak sederhana, namun sesungguhnya adalah bentuk nyata kemandirian, kebersamaan, dan harapan. (cdp/sep)

Berita Terbaru

Hakim Agung Mahkamah Agung RI Tinjau Kawasan Yudikatif di Nusantara

Hakim Agung Mahkamah Agung RI Tinjau Kawasan Yudikatif di Nusantara

Nasional6 jam lalu
Perubahan APBD 2026 Kabupaten Subang Disepakati

Perubahan APBD 2026 Kabupaten Subang Disepakati

Subang7 jam lalu
Beredar Surat Disebut-sebut Sebagai Undangan Pelantikan Sekda Subang untuk Rona Mairansyah Besok

Beredar Surat Disebut-sebut Sebagai Undangan Pelantikan Sekda Subang untuk Rona Mairansyah Besok

Subang7 jam lalu
Revitalisasi Pasar Ciroyom Ditargetkan Rampung 2 Tahun

Revitalisasi Pasar Ciroyom Ditargetkan Rampung 2 Tahun

Bandung Barat7 jam lalu
ADVERTISEMENT
Terima 100 Becak Listrik, Om Zein: Bentuk Kasih Sayang Pak Prabowo

Terima 100 Becak Listrik, Om Zein: Bentuk Kasih Sayang Pak Prabowo

Purwakarta8 jam lalu
Pagar Nusa Luncurkan Naskah Kuno "Serat Nitipraja Eyang Gandasoli"

Pagar Nusa Luncurkan Naskah Kuno "Serat Nitipraja Eyang Gandasoli"

Purwakarta8 jam lalu
Kawasan Industri Baru Subang Jadi Sasaran Rekrutmen Serikat Buruh

Kawasan Industri Baru Subang Jadi Sasaran Rekrutmen Serikat Buruh

Subang8 jam lalu
Jadwal Konser dan Fanmeeting Kpop di Bulan Oktober 2026, Ada NCT 127 hingga Gong Yoo

Jadwal Konser dan Fanmeeting Kpop di Bulan Oktober 2026, Ada NCT 127 hingga Gong Yoo

Lifestyle11 jam lalu
Wajah Anak Bukan Konten, Privasi Anak di Sosial Media Jangan Disepelekan

Wajah Anak Bukan Konten, Privasi Anak di Sosial Media Jangan Disepelekan

Lifestyle12 jam lalu
Nama Sekda Kabupaten Subang Sudah Ada, Bupati: Besok Pelantikan, Tunggu Saja

Nama Sekda Kabupaten Subang Sudah Ada, Bupati: Besok Pelantikan, Tunggu Saja

Headline12 jam lalu