Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Sudah Tiga Bulan, Pelaku Pembunuhan Satpam di Waduk Jatiluhur Belum Ditangkap

A
Adam SumartoEditor: Yusup Suparman
|09:00 WIB
Bagikan:
Sudah Tiga Bulan, Pelaku Pembunuhan Satpam di Waduk Jatiluhur Belum Ditangkap
Jatiluhur

PASUNDANEKSPRES.ID - Tersangka kasus pembunuhan satpam di Jatiluhur, Purwakarta, masih belum diumumkan hingga Oktober 2026. Kematian Sumarna (43), petugas keamanan yang ditemukan mengambang di waduk dengan kedua tangan terborgol ke belakang, menyisakan misteri sejak peristiwa itu terjadi pada Juli lalu.

Berbulan-bulan berlalu, penyebab pasti kematian Sumarna dan siapa pihak yang bertanggung jawab belum terungkap ke publik.

Keluarga korban masih menunggu perkembangan penyelidikan untuk mendapatkan kejelasan atas peristiwa yang merenggut nyawa anggota keluarga mereka.

Kejadian bermula pada Kamis malam (23/7/2026), ketika Sumarna menjalani jadwal piket di kawasan Waduk Jatiluhur. Sekitar pukul 23.00 WIB, seseorang sempat datang mencari dirinya ke pos penjagaan. Namun, Sumarna tidak berada di tempat dan sepeda motornya juga tidak terlihat.

Seorang warga yang hendak pergi ke pasar disebut masih melihat Sumarna di sekitar pos sekitar pukul 03.00 WIB. Akan tetapi, saat rekan kerjanya melakukan pencarian pada pagi hari, hanya sepeda motor korban yang tertinggal. Sumarna tidak ditemukan dan ponselnya tidak dapat dihubungi.

Pencarian tersebut berakhir dengan kabar duka. Pada Jumat pagi (24/7/2026), jasad Sumarna ditemukan mengambang di perairan Tanggul Kayat, Waduk Jatiluhur. Ia masih mengenakan seragam dinas satpam, sedangkan kedua tangannya terborgol di belakang tubuh.

Borgol yang ditemukan pada tubuh korban disebut merupakan perlengkapan miliknya sebagai petugas keamanan. Kondisi tersebut menjadi salah satu bagian yang didalami penyidik untuk mengungkap kejadian sebelum Sumarna ditemukan meninggal.

Penyelidikan kepolisian mencakup pemeriksaan sejumlah saksi, termasuk anggota keluarga dan orang-orang yang mengetahui aktivitas korban sebelum kejadian. Penyidik juga menelusuri kemungkinan motif yang melatarbelakangi kematian Sumarna.

Salah satu informasi yang berkembang berkaitan dengan dugaan korban pernah menegur beberapa pemuda yang melakukan vandalisme atau mencoret-coret fasilitas di sekitar kawasan waduk. 

Sumarna disebut sempat mengunggah kejadian tersebut melalui status WhatsApp dan menyampaikan rencana untuk melaporkannya kepada polisi.

Informasi itu kemudian memunculkan dugaan adanya kaitan antara teguran tersebut dan kematian korban. Meski demikian, belum ada hasil penyelidikan resmi yang membuktikan keterlibatan kelompok pemuda tersebut.

Dugaan yang beredar tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan siapa pelakunya. Pengungkapan perkara juga menghadapi kendala dari sisi fasilitas pengawasan di lokasi. 

Minimnya penerangan dan keterbatasan rekaman CCTV yang dapat membantu merekonstruksi kejadian membuat penyidik perlu mengandalkan keterangan saksi serta petunjuk lain.

Pada Agustus 2026, sempat beredar kabar bahwa pelaku pembunuhan Sumarna telah ditangkap. Informasi tersebut ternyata tidak benar. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi kepolisian yang mengonfirmasi penangkapan maupun penetapan tersangka dalam perkara tersebut.

Mengungkap Rangkaian Kejadian di Waduk Jatiluhur

Kasus ini masih menyisakan pekerjaan bagi penyidik untuk mengungkap rangkaian kejadian di Waduk Jatiluhur.

Kasus Mendapat Atensi dari Kepolisian
Diberitakan sebelumnya, Satreskrim Polres Purwakarta bersama Tim Identifikasi Polda Jawa Barat menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) ulang di kawasan tanggul Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jumat (31/7/2026) sore. Olah TKP ulang kematian satpam PJT II ini dilakukan untuk memperkuat bukti-bukti penyelidikan. Tampak pos pengamanan yang menjadi tempat terakhir korban bertugas telah dipasangi garis polisi.

Area tersebut disterilkan agar penyidik dapat bekerja maksimal dalam mencari bukti tambahan, mulai dari sidik jari hingga jejak lain yang diduga masih tersisa di sekitar lokasi.

Kapolres Purwakarta AKBP Febri Nurzam mengatakan, olah TKP ulang dilakukan untuk memperkuat alat bukti yang telah dikumpulkan selama proses penyelidikan berlangsung.

"Di sini ada dari Inafis Polda, dari jajaran Reskrim juga ada, kami ada di sini untuk melakukan olah TKP ulang," kata Febri kepada wartawan saat dikonfirmasi.

Selain memeriksa kembali lokasi kejadian, kepolisian juga membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat yang mengetahui atau memiliki informasi terkait kasus tersebut untuk segera menyampaikannya kepada penyidik.

Febri mengungkapkan, masih ada warga yang enggan memberikan keterangan karena merasa takut berhubungan dengan aparat kepolisian. Padahal, menurutnya, setiap informasi sekecil apa pun sangat berarti untuk mengungkap kasus tersebut.

Ia menjelaskan, sebelum dirinya turun langsung ke lokasi, penyidik telah lebih dahulu mendatangi warga sekitar, namun, tidak semua masyarakat bersedia memberikan informasi yang mereka ketahui.

Karena itu, Febri meminta masyarakat tidak lagi ragu membantu penyelidikan. Ia menegaskan kehadirannya bukan semata sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai sesama manusia yang ingin membantu keluarga korban mendapatkan keadilan.

"Bapak, Ibu, saya datang ke sini bukan hanya sebagai seorang polisi. Tapi sesama umat manusia yang punya kewajiban membantu sama umat manusia," ujarnya.

Ia mengimbau warga menyampaikan apa pun yang didengar, dilihat, maupun diketahui terkait peristiwa tersebut.

"Apa yang ibu dengar, apa yang ibu lihat, apa yang ibu ketahui, tolong disampaikan ke kami. Setidaknya bisa membantu keluarga korban cepat mendapatkan kepastian hukum," ucapnya.

Menurut Febri, seluruh informasi yang diterima dari masyarakat saat ini terus didalami, termasuk berbagai dugaan motif yang berkembang di tengah masyarakat.

"Kami berkomunikasi, informasi ada motif ini itu segala macam. Kami coba mendalami. Sampai saat ini kami mohon doa dan dukungan dari semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama membantu kami agar kepastian hukum ini bisa segera didapatkan oleh pihak keluarga," katanya.

Penyidik juga masih menganalisis sejumlah rekaman kamera pengawas (CCTV) yang telah diamankan. Rekaman tersebut tidak hanya berasal dari sekitar lokasi penemuan korban, tetapi juga dari jalur yang dilalui Sumarna sejak berangkat dari rumah menuju lokasi tugasnya.

"Kalau untuk CCTV, kami sudah ada beberapa CCTV yang kami dapatkan dan ada hasil dari situ. Sekarang proses analisa CCTV pun juga masih berjalan," ujar Febri.

Ia sekaligus membantah anggapan bahwa penyidik tidak memiliki rekaman kamera pengawas sebagai petunjuk.

"Korban ini berangkat dari rumah menuju lokasi tugasnya, kan ada CCTV juga. Jadi dari jam sekian sampai jam sekian, kami ada bukti CCTV. Termasuk yang warga," ucap Febri.

Kanwil KemenHAM Jabar Terus Kawal Kasus
Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia (Kanwil KemenHAM) Jawa Barat memastikan terus mengawal penanganan kasus tewasnya petugas satpam Sumarna di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

Sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjamin perlindungan hak asasi manusia, Tim Kanwil KemenHAM Jawa Barat melakukan serangkaian koordinasi dan audiensi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Pertemuan tersebut melibatkan Dinas Tenaga Kerja, Dinas Sosial, Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Perum Jasa Tirta (PJT) II, BPJS Ketenagakerjaan Cabang Purwakarta, perusahaan penyedia jasa pengamanan PT Raharja Putra Perkasa (RPP), hingga Polres Purwakarta.

Kepala Bidang Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kanwil KemenHAM Jawa Barat, Nurjaman, mengatakan koordinasi dilakukan untuk memastikan seluruh hak korban sebagai pekerja terpenuhi sekaligus menjamin keluarga korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan.

"Koordinasi dengan Pemda Purwakarta, BPJS, serta perusahaan difokuskan pada percepatan pemenuhan hak-hak korban sebagai pekerja sekaligus memastikan keluarga korban memperoleh perlindungan dan pendampingan sebagaimana mestinya," kata Nurjaman.

Selain memastikan pemenuhan hak keluarga korban, Kanwil KemenHAM Jawa Barat juga berkoordinasi dengan Polres Purwakarta terkait perkembangan penyelidikan kasus dugaan pembunuhan tersebut.

Gubernur Jabar KDM Pun Sudah Turun Tangan
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, KDM minta kasus dugaan pembunuhan Satpam di Jatiluhur, dan memberi dukungan  penyidik Polres Purwakarta yang tengah menangani kasus kematian Sumarna (42).

Dukungan tersebut dengan mendatangi langsung Mapolres Purwakarta setelah sebelumnya ia terlebih dahulu mengunjungi kediaman keluarga korban, Senin (27/7/2026). 

Ia menyampaikan kepada wartawan bahwa kehadirannya sebagai bentuk dukungan agar penyelidikan bisa lebih intens dan penyidik segera mengungkap pelaku di balik dugaan pembunuhan tersebut.

Menurutnya, pemerintah provinsi akan terus memberikan dukungan kepada aparat kepolisian dalam mengungkap berbagai kasus yang menjadi perhatian publik.

KDM bahkan berjanji akan membantu memperbaiki fasilitas ruang Satreskrim Polres Purwakarta apabila kasus tersebut berhasil diungkap.

"Supporting-nya sederhana, kasus ini harus segera terungkap. Kalau sudah terungkap, saya mau rehab ruangan Serse-nya," ucap KDM.

Selain mendorong percepatan pengungkapan kasus, Dedi juga menyoroti sistem keamanan di kawasan Waduk Jatiluhur yang dinilai masih memiliki banyak kelemahan.

Ia mempertanyakan minimnya pengawasan melalui kamera pengawas (CCTV) di kawasan bendungan yang merupakan salah satu objek vital nasional dengan fungsi strategis sebagai pengendali banjir, penyedia listrik, air baku, irigasi pertanian hingga perikanan.

"Bayangkan perusahaan besar yang menjaga objek vital negara, masa di tanggulnya tidak ada CCTV. Seharusnya PJT 2 punya command center yang dipantau 24 jam. Semua titik harus dipantau sehingga setiap pergerakan orang bisa terdeteksi," katanya tegas.

Dedi meminta Perum Jasa Tirta (PJT) 2 segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan di kawasan Waduk Jatiluhur, termasuk membangun pusat kendali (command center) untuk memantau seluruh area bendungan.

"Ini penting agar kawasan Jatiluhur terbebas dari berbagai ancaman. Bayangin loh, kalau di situ ada orang bawa mobil terus bawa bahan peledak lalu ditinggalkan di sana bagaimana?" katanya.(pm/add/idr/ysp)

Berita Terbaru

Kejutan Besar! AFC Umumkan Ranking Poin Liga Indonesia Masuk 5 Besar Asia

Kejutan Besar! AFC Umumkan Ranking Poin Liga Indonesia Masuk 5 Besar Asia

Olahraga18 menit lalu
209 Menu dari 7 Merek Minuman Berlabel Nutri Level Kemenkes, Ini Daftarnya

209 Menu dari 7 Merek Minuman Berlabel Nutri Level Kemenkes, Ini Daftarnya

Nasional36 menit lalu
Prakiraan Cuaca Subang Hari Ini, 27 Oktober 2026: Hujan Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah

Prakiraan Cuaca Subang Hari Ini, 27 Oktober 2026: Hujan Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah

Subang56 menit lalu
Eks Gubernur Bank Sentral Hongaria Ditangkap, Diduga Selewengkan Dana Rp14,7 Triliun

Eks Gubernur Bank Sentral Hongaria Ditangkap, Diduga Selewengkan Dana Rp14,7 Triliun

Nasional59 menit lalu
ADVERTISEMENT
Dana Karhutla Sumatera Selatan Tembus Rp200 Miliar, Bagaimana Transparansi dan Perlindungan Warga?

Dana Karhutla Sumatera Selatan Tembus Rp200 Miliar, Bagaimana Transparansi dan Perlindungan Warga?

Nasional1 jam lalu
Angin Puting Beliung Terjang Padalarang KBB, Sejumlah Rumah Rusak hingga Pohon Tumbang

Angin Puting Beliung Terjang Padalarang KBB, Sejumlah Rumah Rusak hingga Pohon Tumbang

Jawa Barat1 jam lalu
Sidang Febrie Adriansyah Berlanjut, Ini Kata PN Jakpus

Sidang Febrie Adriansyah Berlanjut, Ini Kata PN Jakpus

Nasional1 jam lalu
Festival Literasi Subang 2026 Tak Hanya Hadirkan Buku, Disarpus Dorong UMKM dan Pelayanan Publik

Festival Literasi Subang 2026 Tak Hanya Hadirkan Buku, Disarpus Dorong UMKM dan Pelayanan Publik

Subang1 jam lalu
Mekanik di Tangerang Kaget Ditagih Pajak Mobil Sport McLaren Rp137 Juta, Segini Harganya di Indonesia!

Mekanik di Tangerang Kaget Ditagih Pajak Mobil Sport McLaren Rp137 Juta, Segini Harganya di Indonesia!

Nasional1 jam lalu
Pelaku Penyerangan Bobotoh di Bogor Ditangkap, Polisi Ungkap Kronologi Kejadian

Pelaku Penyerangan Bobotoh di Bogor Ditangkap, Polisi Ungkap Kronologi Kejadian

Nasional1 jam lalu