Warga Bingung Buang Sampah Usai TPS Campernik Jalancagak Ditutup

PASUNDANEKSPRES.ID - Penutupan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Campernik Jalancagak sejak Kamis (23/4/2026) mulai menimbulkan dampak di tengah masyarakat. Hingga lebih dari dua pekan pasca penutupan, sejumlah pengelola sampah mengaku kebingungan membuang sampah rumah tangga karena belum adanya solusi tempat pembuangan sementara pengganti.
Kondisi tersebut terlihat dari masih adanya Pengelola sampah yang nekat membuang sampah di sekitar area TPS Campernik meski lokasi tersebut sudah resmi ditutup.
Pantauan di lapangan pada Senin (11/5/2026), tumpukan sampah tampak berada di depan pintu masuk TPS Campernik Jalancagak. Sampah rumah tangga terlihat berserakan dan sebagian dibuang oleh warga yang datang menggunakan kendaraan roda dua maupun mobil bak terbuka.
Salah satu pengelola sampah di Jalancagak, inisial W, mengaku dirinya bersama warga lain merasa kebingungan setelah TPS ditutup. Menurutnya, hingga kini belum ada tempat alternatif yang jelas untuk membuang sampah rumah tangga.
“Kami bingung mau buang sampah ke mana karena TPS ditutup. Mau tidak mau warga masih ada yang buang ke sini karena tidak ada tempat lain,” ujar W.
Ia mengatakan persoalan sampah kini menjadi keluhan warga sehari-hari. Terlebih sebagian masyarakat belum memiliki akses pengangkutan sampah mandiri ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa solusi, dikhawatirkan masyarakat akan membuang sampah sembarangan di pinggir jalan, sungai, atau lahan kosong.
Sementara itu, aktivis lingkungan Jalancagak, Aceng, menyoroti langkah penutupan TPS yang dinilai belum diiringi solusi konkret dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Ia mengaku sebelumnya sempat ada janji bahwa sampah rumah tangga akan diangkut langsung dari rumah-rumah warga menuju TPA. Namun pada kenyataannya, kata dia, masih banyak kendaraan pengangkut sampah desa yang justru membuang sampah ke TPS Campernik.
Mobil Desa Masih Buang Sampah ke TPS Campernik
“Janji DLH katanya sampah akan diangkut dari rumah-rumah, tapi kenyataannya mobil desa malah masih buang sampah ke TPS Campernik. Sampah dari desa justru dibuang ke sini,” katanya.
Aceng menilai penutupan TPS tanpa solusi matang justru berpotensi memunculkan titik-titik pembuangan liar baru seperti yang pernah terjadi di Jalancagak beberapa tahun lalu.
“Kalau begini terus dikhawatirkan muncul TPS-TPS liar seperti lima tahun ke belakang. Orang akhirnya buang sampah sembarangan karena bingung,” ujarnya.
Ia menegaskan persoalan sampah tidak cukup hanya diselesaikan dengan penutupan TPS semata, melainkan perlu langkah nyata dan sistem pengelolaan yang lebih baik.
“DLH hari ini jangan hanya bisa menutup TPS, tapi harus bisa mencari solusi. Sesuai janji awal, sampah harus benar-benar diangkut ke TPA,” tegasnya.
Menurut Aceng, keberadaan TPS Campernik sebelumnya merupakan hasil perjuangan bersama antara warga dan pemerintah kecamatan untuk mengatasi persoalan sampah di wilayah Jalancagak dan sekitarnya.
Ia mengingatkan Jalancagak merupakan salah satu kawasan strategis dan menjadi etalase Subang Selatan sehingga persoalan sampah harus mendapat perhatian serius.
“TPS itu dulu merupakan perjuangan warga dan pemerintah kecamatan untuk menanggulangi masalah sampah. Jalancagak ini etalase Subang Selatan,” katanya.
Aceng juga menyinggung upaya kolaborasi penanganan sampah yang pernah dilakukan saat kepemimpinan Camat Aris Ristian, termasuk kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengatasi persoalan sampah di wilayah tersebut.
Namun menurutnya, persoalan utama saat ini bukan hanya lokasi TPS, melainkan sistem pengelolaan sampah yang harus dibenahi secara menyeluruh.
“Yang harus dibenahi itu sistem pengelolaan sampahnya. Jangan sampai masyarakat terus jadi korban kebijakan tanpa solusi,” pungkasnya.(hdi/ysp)
