4 Fakta Meninggalnya Kanaya Whu yang Bikin Dedi Mulyadi Menangis, Impian Umrah Bersama Keluarga Belum Terwujud

PASUNDANEKSPRES.ID - Kabar duka menyelimuti dunia musik Sunda. Vokalis grup musik MK9, Kanaya Whu, meninggal dunia pada usia 34 tahun setelah berjuang melawan penyakit kanker.
Kanaya mengembuskan napas terakhir setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Kepergian penyanyi kelahiran Bandung tahun 1991 itu tak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga, tetapi juga orang-orang yang selama ini dekat dengannya.
Salah satunya adalah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dedi bahkan hadir langsung dalam prosesi pemakaman Kanaya di Kampung Lengkongsari, Desa Sukajadi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (13/9/2026).
Tak sekadar datang melayat, Dedi ikut menggotong keranda jenazah Kanaya hingga ke tempat peristirahatan terakhir.
Suasana haru semakin terasa ketika tangis Dedi Mulyadi pecah saat mengantarkan jenazah Kanaya menuju pemakaman.
Di balik kepergian Kanaya, tersimpan sejumlah kisah yang membuat sosoknya semakin dikenang.
Empat Fakta Meninggalnya Kanaya Whu
1. Kanaya Meninggal Setelah Berjuang Melawan Kanker
Kanaya meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit kanker.
Sebelum dirujuk ke RSHS Bandung, gangguan kesehatan yang dialaminya sempat diduga sebagai sakit lambung biasa.
Kondisinya kemudian mengharuskannya menjalani perawatan di RSHS Bandung selama sekitar 10 hari hingga hampir dua minggu.
Adik Kanaya, Nurinda, mengungkapkan bahwa sang kakak sebenarnya telah cukup lama mengalami gangguan kesehatan.
Namun, di tengah kondisi tersebut, Kanaya dikenal sebagai sosok yang kuat dan tetap memikirkan orang lain.
Bahkan, ia disebut tidak ingin merepotkan orang-orang di sekitarnya.
"Dia takut merepotkan orang-orang, padahal saya sendiri ingin selalu ada di sisi untuk menemani sakitnya sampai sembuhnya," ujar Nurinda.
Salah satu kenangan yang masih melekat di ingatan Nurinda terjadi pada 31 Agustus 2026.
Saat itu, Kanaya masih sempat melakukan video call dengan sang adik.
Meski sedang menahan sakit, Kanaya masih bisa tertawa dan berbincang seperti biasa.
"Masih ketawa-ketawa tanggal 31 Agustus saya masih ingat dia video call saya. Hal kecil kayak misalkan, 'Dek aku belum makan nih,' katanya. Terus kayaknya sakit lambung, tapi masih ketawa-ketawa loh itu padahal sakit, nahan sakit," kenang Nurinda.
Tak lama setelah itu, kondisi Kanaya membuatnya harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
2. Dedi Mulyadi Ikut Menggotong Keranda hingga Tak Kuasa Menahan Tangis
Kanaya dimakamkan di Kampung Lengkongsari, Desa Sukajadi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.
Dedi Mulyadi hadir langsung untuk memberikan penghormatan terakhir.
Momen haru terjadi ketika Dedi bersama Sekda Jawa Barat Herman Suryatman ikut menggotong keranda jenazah Kanaya menuju lokasi pemakaman.
Dedi juga menyampaikan doa dan mengenang kebaikan serta suara Kanaya yang selama ini menghiasi berbagai lagu Sunda.
Dalam sambutannya, Dedi berkata:
"Jasadnya dikubur tapi amal kasehanana moal tiasa dikubur."
Ungkapan dalam bahasa Sunda tersebut bermakna bahwa jasad Kanaya memang akan dikuburkan, tetapi amal kebaikannya tidak akan ikut terkubur.
Dedi juga mengenang suara Kanaya yang diyakininya akan tetap hidup melalui lagu-lagu yang pernah dinyanyikannya.
"Suantenna nu aya di nu lagu-lagu nu moal tiasa leungit ku lantaran wanci, ilang ku lantaran mangsa," kata Dedi.
Tangis Dedi pun pecah dalam suasana pemakaman yang penuh duka.
Usai prosesi pemakaman, Dedi juga menyampaikan rencana untuk membangun atau merenovasi masjid yang berada di dekat rumah duka Kanaya.
3. Sejak 2019, Kanaya Menjadi Vokalis Utama MK9
Nama Kanaya Whu dikenal luas sebagai vokalis utama grup musik MK9 atau Emka 9.
Grup musik bernuansa Sunda tersebut dibentuk oleh Dedi Mulyadi.
Kanaya bergabung sebagai vokalis MK9 sejak 2019 dan kerap mengikuti berbagai agenda Dedi Mulyadi.
Perempuan kelahiran Bandung tahun 1991 itu tumbuh besar di Jakarta dan menempuh pendidikan dari jenjang SD hingga SMA di Ibu Kota.
Karena lebih banyak menghabiskan masa kecil dan remajanya di Jakarta, Kanaya sempat mengaku mengalami kesulitan ketika pertama kali harus membawakan lagu berbahasa Sunda.
Namun, kecintaannya terhadap musik membuat Kanaya terus belajar.
Perlahan, ia mampu membawakan lagu-lagu Sunda dengan baik hingga menjadi salah satu vokalis yang dikenal melalui karya-karya Dedi Mulyadi.
Sebelum terjun serius ke dunia tarik suara, Kanaya sempat bekerja sebagai pegawai kantoran.
Namun, pekerjaan tersebut ternyata bukan passion-nya.
Ia akhirnya memilih mengikuti kecintaannya terhadap dunia musik, sekaligus meneruskan bakat seni yang disebut juga dimiliki ibunya.
Sejumlah lagu karya Dedi Mulyadi yang pernah dibawakan Kanaya di antaranya Keasing Indung, Lungse Lampah, Rubuh, dan Rindu Purnama.
4. Ada Impian Kanaya yang Belum Sempat Terwujud
Di balik sosoknya sebagai penyanyi, Kanaya ternyata dikenal keluarga sebagai perempuan yang tegas sekaligus sangat perhatian.
Nurinda mengungkapkan, sang kakak kerap memberikan berbagai pelajaran hidup kepadanya.
"Dia adalah kakak yang tegas, bisa terbilang tegas. Dia selalu mengajarkan saya kebaikan. Meskipun ya kadang ada kalanya saya salah, dia marahin, tapi saya sadar itu adalah bentuk kasih sayang terbesar dia yang dia kasih," tutur Nurinda.
Bagi Nurinda, banyak nasihat dan pelajaran hidup dari Kanaya yang akan terus dikenangnya.
Bahkan ketika sedang sakit, Kanaya masih berusaha memikirkan orang-orang di sekitarnya.
"Dia sebenarnya paling banyak ngasih pelajaran hidup. Itu hal yang paling aku ingat, banyak banget pelajaran hidup yang dia kasih," kata Nurinda.
Namun, ada satu keinginan Kanaya yang hingga kini belum sempat diwujudkan.
Sang kakak ternyata memiliki impian untuk mengajak keluarganya menjalankan ibadah umrah bersama.
"Kakak bilang pengin umrah," ujar Nurinda.
Keinginan sederhana tersebut kini menjadi salah satu kenangan yang paling membekas bagi keluarga.
Kanaya telah pergi untuk selamanya dan dimakamkan di Kabupaten Tasikmalaya.
Namun, bagi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang pernah mengenalnya, kenangan tentang kebaikan Kanaya serta suara merdunya dalam lagu-lagu Sunda akan tetap hidup.
