Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Dibiarkan Mangkrak, Proyek Normalisasi Drainase di Kampung Rancabatok Bandung Bahayakan Warga

A
AsepEditor: Dede
|07:40 WIB
Bagikan:
Dibiarkan Mangkrak, Proyek Normalisasi Drainase di Kampung Rancabatok Bandung Bahayakan Warga
GENANGAN AIR: Banjir tetap genangi warga di tengah mangkraknya proyek normalisasi drainase yang dilakukan oleh DPUTR Kabupaten Bandung sejak Maret 2025 lalu di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya, Desa Rancaekek Wetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.

KABUPATEN BANDUNG-Proyek normalisasi drainase yang mangkrak di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya, tepatnya di wilayah Kampung Rancabatok, RW09 dan RW22, Desa Rancaekekwetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung membuat warga kian resah dan geram.

Bagaimana tidak, pembongkaran drainase yang dilakukan oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung sejak Maret 2025 lalu itu, dijanjikan rampung pengerjaannya usai hari raya Idulfitri. Akan tetapi, proyek normalisasi drainase itu, hanya sebatas pembongkaran saluran air sepanjang 400 meter, sampai saat ini dibiarkan mangkrak.

Tokoh Masyarakat yang juga mantan Kadus 04 Desa Rancaekek Wetan, Didin Sahidin mengatakan, proyek yang mangkrak tersebut kian membuat kondisi wilayah semakin kumuh. "Kayu-kayu makin rapuh, ditambah semalam hujan deras, ancaman kecelakaan semakin besar," katanya kepada Jabar Ekspres, Selasa (12/8).

Proyek normalisasi drainase yang mangkrak itu, dijelaskan Didin bertujuan untuk mengatasi permasalahan banjir yang kerap menghantui warga. Akan tetapi, setelah saluran air dibongkar kondisi tetap sama alias banjir masih menggenangi setiap hujan deras. Bahkan dampak negatif lainnya, tak sedikit warga atau pejalan kaki hingga pengendara mengalami kecelakaan. "Dulu banjir sekarang tetap banjir. Karena selokan (saluran air) dibongkar ini jadi bahaya, sering ada yang kejebur (terperosok), karena genangan air menutupi jalan dan gak terlihat selokan juga," jelasnya.

Didin menerangkan, banjir yang menggenang bahkan sempat membuat jembatan darurat warga terangkat, kemudian terbawa arus sampai akhirnya dibawa oknum tak bertanggung jawab. "Saling klaim dan memicu konflik sosial di wilayah. Jadi ada beberapa jembatan kayu kita buat lagi secara swadaya," terangnya.

Melalui pantauan di lokasi, terlihat genangan air menutupi jalan serta saluran drainase yang sudah dibongkar. Baik pejalan kaki maupun pengendara, cukup sulit mengetahui batas pinggiran bahu jalan.

Dampaknya, ancaman kecelakaan cukup besar potensinya. Kayu-kayu jembatan darurat yang kian rapuh, terpantau menghiasi bahu jalan menjadi kumuh, akibat mangkraknya proyek tersebut.

Didin mengungkapkan, selain dari derasnya hujan, banjir semakin tinggi genangannya seiring waktu, karena aliran air dikirim dari arah utara. "Semakin enggak nyaman kita. Kalau dulu banjir satu sampai dua hari juga warga tetap aman, ini jadi gak aman karena bahaya kejebur (terperosok) ke selokan (saluran air)," ungkapnya.

Didin menyebutkan, proyek normalisasi drainase yang hanya membongkar jembatan ke kios, toko, rumah dan jalan ke pemukiman kini semakin terasa dampaknya.

Sejumlah warga kian resah terhadap proyek normalisasi drainase yang mangkrak tersebut. Tak hanya usaha warga tapi petani turut mengalami dampaknya.

Petani yang biasa dapat mengangkut hasil panen menggunakan mobil, kini kendaraan roda empat harus diparkirkan di pinggir jalan. Setiap karung harus dipanggul mandiri.

Bahkan, akibat proyek normalisasi drainase ini hanya sebatas pembongkaran, tapi belum juga dilanjutkan dan tanpa ada pengamanan, lambat laun para pengusaha menutup kios atau tokonya.

Didin menyampaikan, saat ini warga terdampak proyek normalisas drainase yang mangkrak hanya bisa pasrah dan berharap, agar pengerjaan perbaikan dapat dilanjutkan. "Ekonomi warga seakan dilumpuhkan. Pengurus RW didesak warga, menuntut kapan diselesaikan proyek. Tapi sisi lain pengurus juga gak bisa berbuat banyak, karena awal proyek ini yang turun dari kabupaten," imbuhnya.

"Warga terdampak, warga dirugikan, warga resah dan terancam keselamatannya, warga juga tidak nyaman. Permintaan warga hanya satu, agar proyek ini segera diselesaikan," pungkas Didin.(je/sep)

Berita Terbaru

Daftar HP Samsung Terbaru 2026 Lengkap dengan Spesifikasi dan Harga Oktober

Daftar HP Samsung Terbaru 2026 Lengkap dengan Spesifikasi dan Harga Oktober

Lifestyle7 jam lalu
Mantan Kepala SMPN 2 Ngamprah Wajib Kembalikan Rp 159 Juta dalam 60 Hari

Mantan Kepala SMPN 2 Ngamprah Wajib Kembalikan Rp 159 Juta dalam 60 Hari

Bandung Barat8 jam lalu
Dede Hidayat, Cakades Cijambe Nomor 4 Usung Visi Cijambe Bermartabat

Dede Hidayat, Cakades Cijambe Nomor 4 Usung Visi Cijambe Bermartabat

Subang8 jam lalu
Panitia Pilkades Cibogo Segera Tetapkan DPS

Panitia Pilkades Cibogo Segera Tetapkan DPS

Subang8 jam lalu
ADVERTISEMENT
BAZNAS dan BPBD Subang Bersinergi, Perkuat Penanganan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan

BAZNAS dan BPBD Subang Bersinergi, Perkuat Penanganan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan

Subang9 jam lalu
Manfaatkan Waktu Istirahat, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang Bermain Bola Bersama Siswa SDN Bukanagara

Manfaatkan Waktu Istirahat, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang Bermain Bola Bersama Siswa SDN Bukanagara

Subang9 jam lalu
Pemkab Karawang Lepas 689 Atlet Kontingen Porprov XV Jawa Barat Tahun 2026

Pemkab Karawang Lepas 689 Atlet Kontingen Porprov XV Jawa Barat Tahun 2026

Karawang9 jam lalu
Transparansi BUMDes jadi Sorotan, Warga Desa Sawangan Pertanyakan Dukungan Desa kepada PT CMM

Transparansi BUMDes jadi Sorotan, Warga Desa Sawangan Pertanyakan Dukungan Desa kepada PT CMM

Subang9 jam lalu
Siapkan BUMD Kembangkan Sumur Migas Haur Gede, Pemkab Karawang Targetkan MoU dengan Pertamina  2027

Siapkan BUMD Kembangkan Sumur Migas Haur Gede, Pemkab Karawang Targetkan MoU dengan Pertamina  2027

Karawang9 jam lalu
SMK PGRI Subang Buka Peluang Kerja di Luar Negeri, Buka Pelatihan Bahasa Mulai dari Siswa Kelas X

SMK PGRI Subang Buka Peluang Kerja di Luar Negeri, Buka Pelatihan Bahasa Mulai dari Siswa Kelas X

Subang9 jam lalu