Dosen Keperawatan Politeknik Negeri Subang Ciptakan Balsem Anti-Hipertensi dari Limbah Kulit Nanas

PASUNDANEKSPRES.ID -Dosen Program Studi D3 Keperawatan Politeknik Negeri Subang (Polsub) berhasil menciptakan terobosan berupa balsem topikal berbasis nanoemulsi yang berfungsi sebagai terapi komplementer penurun hipertensi.
Inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap tingginya kasus hipertensi di Indonesia, yang hingga kini masih menjadi penyakit katastropik dan memberikan beban besar bagi masyarakat maupun negara.
Minimnya kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat hipertensi pun sering kali memicu komplikasi serius hingga kematian dini.
Kepala Puskesmas Kalijati, H. Tatang Hidayah, mengungkapkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar antara 30–45% pada orang dewasa dan melonjak hingga lebih dari 60% pada lansia.
“Hipertensi masih menjadi permasalahan utama di Puskesmas Kalijati. Penyebabnya tidak berdiri sendiri, mulai dari pola hidup, pola makan kurang sehat, kurang aktivitas, hingga tingkat stres akibat tekanan ekonomi,” ungkapnya kepada media, Selasa (18/11/2025).
Secara khusus, Jawa Barat menempati posisi kedua prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia dengan angka 39,6%.
Kabupaten Subang berada di urutan ke-10 di provinsi tersebut, mencatat 115.455 kasus.
Sementara di wilayah Puskesmas Kalijati, terdapat 4.312 kasus, menjadi salah satu yang tertinggi di Subang.
Melihat kondisi tersebut, tim riset Polsub yang didukung Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pun bergerak cepat.
Para dosen dari Prodi D3 Keperawatan dan S.Tr. Teknologi Produksi Tanaman Pangan berupaya menghadirkan alternatif terapi yang memanfaatkan potensi lokal Subang.
Ketua Peneliti, Eva Riantika Ratna Palupi, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa Subang merupakan daerah penghasil nanas terbesar dengan lahan seluas 1.630 hektare dan produksi mencapai 187.448 ton per tahun. Namun, limbah kulit nanas yang melimpah belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kulit nanas mengandung senyawa bioaktif seperti minyak atsiri dan flavonoid yang terbukti mampu menurunkan tekanan darah melalui mekanisme vasodilatasi serta memberikan efek relaksasi untuk menekan stres,” jelas Eva.
Penelitian yang tergabung dalam skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) ini turut menggandeng Universitas Padjadjaran (Unpad). Tim beranggotakan Yudisa Diaz Lutfi Sandi, S.Kep., Ns., M.Kep., dan Rahmi Rahmawati, S.TP., M.TP., berfokus pada pengembangan nanoemulsi kulit nanas untuk meningkatkan stabilitas, penetrasi kulit, dan efektivitas bahan aktif.
Implementasi awal flavonoid balm tersebut dilakukan di Posyandu Kalijati Barat dengan melibatkan para lansia penderita hipertensi. Selain pemberian balm, peserta juga diberikan edukasi pentingnya kepatuhan terapi obat.
Yudisa Diaz Lutfi Sandi menyampaikan harapannya terhadap inovasi ini. Menurutnya, kombinasi antara obat antihipertensi dengan balsem nanoemulsi kulit nanas dapat menjadi strategi efektif dalam menurunkan angka hipertensi.
“Inovasi ini diharapkan menjadi terapi komplementer yang membantu menurunkan gejala dan mengoptimalkan penurunan tekanan darah secara alami,” ujarnya.
Inisiatif dosen Polsub ini bukan hanya menghasilkan solusi kesehatan baru, tetapi juga membuktikan bahwa perguruan tinggi lokal mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
"Maka limbah yang dulunya tidak bernilai kini berhasil disulap menjadi produk inovatif yang berdampak luas bagi kesehatan masyarakat," pungkasnya.(znl/rls)
