Fordas Dorong Kementerian PU dan BBWS Tangani Tanggul Sungai Cilamaya Secara Terpadu

PASUNDANEKSPRES.ID - Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Cilamaya Berbunga menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang difasilitasi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). RDP tersebut membahas longsornya tanggul Sungai Cilamaya di Dusun Kalihegar, Desa Barugbug, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang.
Dalam forum tersebut, Fordas Cilamaya Berbunga menyampaikan bahwa dampak longsor tanggul Sungai Cilamaya tergolong sangat serius. Sedikitnya 30 rumah warga dilaporkan hanyut akibat tergerus longsoran, sementara sisa tanggul yang masih berdiri dinilai terus mengancam keselamatan warga yang bermukim di bantaran sungai.
Selain persoalan longsor, Fordas juga menyoroti masalah banjir musiman yang setiap tahun melanda Kecamatan Jatisari, Kecamatan Banyusari, dan Kecamatan Cilamaya Wetan. Ketiga wilayah tersebut kerap menjadi langganan banjir pada musim penghujan akibat jebolnya tanggul Sungai Cilamaya dan Sungai Ciherang yang hingga kini belum ditangani secara serius dan berkelanjutan.
Banjir yang berulang tersebut tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga berdampak besar terhadap sektor pertanian, perikanan tambak, dan peternakan. Akibatnya, banyak masyarakat mengalami gagal panen dan penurunan pendapatan secara signifikan.
Pengurus Fordas Cilamaya Berbunga, Ojan, menegaskan bahwa persoalan tanggul sungai tidak bisa lagi ditangani secara parsial atau bersifat tambal sulam. Menurutnya, longsornya tanggul di Desa Barugbug merupakan peringatan serius bagi semua pihak.
“Jika tidak segera ditangani secara menyeluruh dan terintegrasi, bukan tidak mungkin jumlah rumah dan warga terdampak akan terus bertambah,” tegas Ojan dalam RDP tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat di tiga kecamatan tersebut telah terlalu lama hidup dalam kecemasan setiap kali musim hujan tiba.
“Setiap musim hujan, warga Jatisari, Banyusari, dan Cilamaya Wetan selalu berada dalam kondisi waswas. Banjir datang berulang karena tanggul yang jebol dibiarkan tanpa penanganan permanen,” ujarnya.
Melalui RDP tersebut, Fordas Cilamaya Berbunga mendesak BBWS dan Kementerian PU agar segera melakukan penanganan yang serius, terpadu, dan berkelanjutan, terutama terhadap longsoran tanggul di Desa Barugbug yang kondisinya dinilai semakin membahayakan keselamatan warga.
Selain menyampaikan tuntutan, Fordas juga menawarkan konsep mitigasi bencana berbasis solusi alami dan berkelanjutan, yakni melalui penanaman rumput vetiver di sepanjang tanggul Sungai Cilamaya dan Sungai Ciherang bagian hilir.
“Rumput vetiver tidak hanya berfungsi memperkuat tanggul dan menahan erosi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bahan minuman kesehatan, hingga kerajinan tangan. Artinya, mitigasi bencana sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” jelas Ojan.
Fordas Cilamaya Berbunga berharap kondisi tanggul sungai di Kabupaten Karawang dapat menjadi lebih kokoh, aman, dan tetap alami, sehingga risiko banjir tahunan yang selama ini membebani masyarakat dapat diminimalkan.
