Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Ruwatan Lembur Jaga Tradisi dan Merawat Budaya, Ungkapan Rasa Syukur Warga Desa Cupunagara

E
EgiEditor: Egi
|07:00 WIB
Bagikan:
Ruwatan Lembur Jaga Tradisi dan Merawat Budaya, Ungkapan Rasa Syukur Warga Desa Cupunagara
Pertunjukan seni sunda pada ruwatan Lembur Kampung Cibulao RT 01/RW 04 Desa Cupunagara Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang.(Hadi Martadinata/Pasundan Ekspres)

SUBANG-Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, tepatnya di RT 01 RW 04 Kampung Cibulao, baru saja menggelar acara Ruwatan Lembur yang diadakan setiap tahun pada bulan Muharram. Acara ini dihadiri oleh banyak warga dari RT 01 dan RW 04, menjadikannya sebagai ajang berkumpul dan bersyukur bersama pada Rabu (17/7).

Acara Ruwatan Lembur merupakan syukuran tahunan yang diadakan pada bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah yang penuh makna bagi umat Islam. 

Sesepuh desa, Pak Iyan, menjelaskan Ruwatan Lembur juga dikenal dengan istilah Ruwatan Bumi atau Sedekah Bumi. "Mengapa harus di bulan Muharram? Karena banyak kejadian penting yang harus disyukuri dan diingat sepanjang masa, khususnya oleh umat Islam," jelas Iyan.

Beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada bulan Muharram antara lain: diampuninya dosa Nabi Adam A.S. oleh Allah SWT, diselamatkannya Nabi Nuh A.S. dari bencana besar, serta diselamatkannya Nabi Ibrahim A.S. dari api yang membara oleh Raja Namrud. Selain itu, bulan Muharram juga menandai tahun baru dalam kalender Hijriah, yang kini telah memasuki tahun 1446.

Iyan menambahkan syukuran berasal dari kata "syakuro," yang berarti menerima segala sesuatu yang diberikan oleh Allah dengan rasa syukur. "Syukuran adalah cara kita menerima dengan ikhlas segala pemberian Allah, dan juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur," ujarnya.

Ruwatan, menurut Pak Iyan, merupakan bentuk lain dari syukuran yang dilakukan dengan memadukan budaya lokal. "Ruwatan itu syukuran yang dilakukan dengan budaya, hasil karya cipta manusia yang dilakukan turun-temurun," jelasnya.

Dalam acara Ruwatan Lembur, warga Desa Cupunagara juga menampilkan seni musik Gembyung, sebuah bentuk seni tradisional yang kerap kali membuat para pemainnya kesurupan. "Mengapa menggunakan Gembyung? Karena seni ini memiliki makna spiritual dan sejarah yang kuat di masyarakat kami," kata Pak Iyan.

Pak Iyan menekankan pentingnya budaya dalam kemajuan suatu bangsa. Mengutip sebuah seminar kebudayaan di Amerika, ia mengatakan, "Kemajuan suatu bangsa dinilai dari tata bahasa dan budayanya. Budaya yang baik dan tata bahasa yang bagus mencerminkan kemajuan bangsa tersebut."

Tujuan utama diadakannya Ruwatan Lembur adalah untuk menjaga keharmonisan dan kebersamaan warga. "Kami ingin masyarakat kita hidup damai, tentram, rukun, dan kompak. Seperti pepatah Sunda, 'paeuyeuk-euyeuk leungeun pa antai-antai tangan,' yang artinya bergotong-royong dan bekerja sama," jelas Pak Iyan.

Acara ini diharapkan dapat memberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh warga. "Dengan Ruwatan Lembur, kami berharap warga Desa Cupunagara selalu dalam lindungan dan keberkahan Allah SWT," pungkas Pak Iyan.

Ruwatan Lembur di Desa Cupunagara dilaksanakan dengan meriah dan penuh makna. Acara dimulai sejak pagi hari dengan berbagai persiapan yang melibatkan seluruh warga. Panggung untuk pertunjukan Gembyung didirikan di tengah kampung, dan berbagai hiasan tradisional dipasang untuk memeriahkan suasana.

Warga mulai berkumpul sejak pagi, mengenakan pakaian tradisional Sunda. Para sesepuh desa memberikan sambutan dan doa, mengajak seluruh warga untuk bersama-sama mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Pertunjukan Gembyung menjadi acara puncak dalam Ruwatan Lembur. Gembyung adalah seni musik tradisional Sunda yang dimainkan dengan alat musik kendang, terbang, dan kecrek. Musik yang dimainkan memiliki ritme yang khas dan sering kali membuat para pemainnya masuk dalam kondisi trance atau kesurupan.

Pak Iyan menjelaskan bahwa Gembyung tidak hanya sekedar hiburan, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam. "Gembyung adalah warisan budaya leluhur yang mengajarkan kita tentang kehidupan, kebersamaan, dan hubungan kita dengan Sang Pencipta," katanya.

Pak Iyan berharap bahwa tradisi ini akan terus dilanjutkan oleh generasi muda. "Budaya adalah identitas kita. Tanpa budaya, kita akan kehilangan jati diri sebagai bangsa. Oleh karena itu, mari kita jaga dan lestarikan budaya kita," katanya.

Acara ini menjadi cerminan betapa pentingnya budaya dan tradisi dalam kehidupan masyarakat, serta sebagai upaya untuk terus memperkuat tali silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.(hdi/sep)

Berita Terbaru

209 Menu dari 7 Merek Minuman Berlabel Nutri Level Kemenkes, Ini Daftarnya

209 Menu dari 7 Merek Minuman Berlabel Nutri Level Kemenkes, Ini Daftarnya

Nasional9 menit lalu
Prakiraan Cuaca Subang Hari Ini, 27 Oktober 2026: Hujan Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah

Prakiraan Cuaca Subang Hari Ini, 27 Oktober 2026: Hujan Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah

Subang29 menit lalu
Eks Gubernur Bank Sentral Hongaria Ditangkap, Diduga Selewengkan Dana Rp14,7 Triliun

Eks Gubernur Bank Sentral Hongaria Ditangkap, Diduga Selewengkan Dana Rp14,7 Triliun

Nasional32 menit lalu
Dana Karhutla Sumatera Selatan Tembus Rp200 Miliar, Bagaimana Transparansi dan Perlindungan Warga?

Dana Karhutla Sumatera Selatan Tembus Rp200 Miliar, Bagaimana Transparansi dan Perlindungan Warga?

Nasional45 menit lalu
ADVERTISEMENT
Angin Puting Beliung Terjang Padalarang KBB, Sejumlah Rumah Rusak hingga Pohon Tumbang

Angin Puting Beliung Terjang Padalarang KBB, Sejumlah Rumah Rusak hingga Pohon Tumbang

Jawa Barat53 menit lalu
Sidang Febrie Adriansyah Berlanjut, Ini Kata PN Jakpus

Sidang Febrie Adriansyah Berlanjut, Ini Kata PN Jakpus

Nasional1 jam lalu
Festival Literasi Subang 2026 Tak Hanya Hadirkan Buku, Disarpus Dorong UMKM dan Pelayanan Publik

Festival Literasi Subang 2026 Tak Hanya Hadirkan Buku, Disarpus Dorong UMKM dan Pelayanan Publik

Subang1 jam lalu
Mekanik di Tangerang Kaget Ditagih Pajak Mobil Sport McLaren Rp137 Juta, Segini Harganya di Indonesia!

Mekanik di Tangerang Kaget Ditagih Pajak Mobil Sport McLaren Rp137 Juta, Segini Harganya di Indonesia!

Nasional1 jam lalu
Pelaku Penyerangan Bobotoh di Bogor Ditangkap, Polisi Ungkap Kronologi Kejadian

Pelaku Penyerangan Bobotoh di Bogor Ditangkap, Polisi Ungkap Kronologi Kejadian

Nasional1 jam lalu
Jambore Pemuda Subang Usung Tema “Balik ka Imah”, Dorong Generasi Muda Berani Berkarya

Jambore Pemuda Subang Usung Tema “Balik ka Imah”, Dorong Generasi Muda Berani Berkarya

Headline1 jam lalu
Ruwatan Lembur Jaga Tradisi dan Merawat Budaya, Ungkapan Rasa Syukur Warga Desa Cupunagara | Pasundan Ekspres