Warga Terdampak Aksi Penolakan Penutupan Tambang Cigudeg, Dedi Mulyadi Jelaskan Alasan Kompensasi Tertunda

PASUNDANEKSPRES.ID - Penutupan tambang di wilayah Cigudeg menuai penolakan dari warga yang terdampak. Dedi Mulyadi pun menyampaikan penjelasan terkait belum dicairkannya dana kompensasi.
Informasi mengenai penghentian sementara aktivitas pertambangan di Kabupaten Bogor memicu kemarahan warga terdampak. Mereka mengekspresikan kekecewaannya dengan mendatangi Kantor Kecamatan Cigudeg.
Aksi protes diikuti oleh ribuan warga yang menilai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, belum memberikan kepastian, khususnya terkait kompensasi yang sebelumnya dijanjikan.
Sampai saat ini, dana kompensasi tersebut belum sepenuhnya diterima oleh warga. Ketidakjelasan mengenai lamanya penutupan tambang juga menambah keresahan di tengah masyarakat.
Situasi akhirnya memanas dan berujung pada aksi unjuk rasa. Pada Senin (12/1/2026), warga menggelar demonstrasi di Kantor Kecamatan Cigudeg.
Dalam aksi tersebut terjadi kericuhan yang mengakibatkan sejumlah fasilitas kantor kecamatan mengalami kerusakan.
"Kami menuntut di bulan ini tambang harus dibuka. Janji Gubernur tentang pemberian bantuan sosial kepada masyarakat juga itu sudah janji beliau," ujar Koordinator Aksi, Asep Fadhlan, dikutip dari Kompas.com.
Warga terdampak menyebut aktivitas pertambangan telah berhenti selama lebih dari 100 hari, namun kompensasi sebesar Rp3 juta per bulan yang dijanjikan belum diterima seluruhnya.
"Itu bukan permintaan kami, janji beliau itu Rp3 juta dalam 1 bulan, sedangkan perusahaan tambang sudah ditutup lebih dari 3 bulan atau 100 hari, kalau mengacu pada Surat Edaran 19 September dan 26 September waktu itu, itu rujukannya terkait pembangunan jalan di Parung Panjang, sedangkan sudah beres," ujar Fadhlan.
Akibat penutupan tambang, warga terdampak kehilangan mata pencaharian. Mereka menagih realisasi kompensasi, apalagi menjelang bulan Ramadan yang biasanya diiringi peningkatan kebutuhan hidup.
"Justru masyarakat sedang menjerit, sehingga berbondong-bondong ke sini, nuraninya terpanggil, dan memang sudah lapar, digantung," ujar Asep, dikutip dari Tribunnews Bogor.
"Sehingga kami meminta kepastian, maka kita tuntaskan hari ini, kita minta jawaban," sambungnya.
Menanggapi penutupan tambang Cigudeg yang menuai protes warga terdampak, Dedi Mulyadi menjelaskan penyebab belum dicairkannya kompensasi, salah satunya karena masih adanya penambahan data susulan.
"Jadi, keterlambatan itu bukan karena kami telat membayarkan, tetapi karena ada data susulan 9.000 kepala keluarga dan kades meminta tidak dicairkan apabila hanya 6.000 kepala keluarga," jelas Dedi.
