5 Dampak Melemahnya Nilai Tukar terhadap Dolar AS

PASUNDANEKSPRES.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah. Berdasarkan data dari Morningstar, nilai rupiah kembali turun ke angka 17.957 pada Rabu (1/7/2026) pukul 14.00.
Dolar semakin kuat salah satunya disebabkan oleh perubahan suku bunga bank sentral AS yaitu The Federal Reserve. Nilai tersebut naik 8 rupiah berdasarkan data kemarin dari Morningstar.
Dampak Melemahnya Nilai Tukar terhadap Dolar AS
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat cukup berdampak banyak bagi masyarakat maupun pemerintah sekalipun. Berikut beberapa dampak yang terjadi akibat melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bagi masyarakat dan pemerintah.
a. Harga barang naik
Harga barang naik disebabkan dengan kenaikkan harga impor, yaitu kenaikkan biaya produksi dan inventasi perusahaan. Perusahaan sering kali memilih menaikkan harga jual barang untuk mempertahankan laba, yang akibatnya masyarakat harus membayar lebih mahal untuk barang tersebut.
b. Biaya sekolah di luar negeri semakin mahal
Orang tua yang menyekolahkan anaknya di luar negeri harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan sebelumnya, karna nilai tukar rupiah tidak sama lagi seperti sebelumnya.
Jumlah yang sama seperti sebelumnya akan terasa kurang karena nilai tukarnya melemah. Sehingga biaya hidup di luar negeri pun akan terasa jauh lebih mahal.
c. Pembengkakkan utang luar negeri negara
Misalnya, Indonesia memiliki ULN sebesar 100 miliar USD. Jika saat kurs IDR terhadap USD berjumlah 16.500, maka jumlahnya 1,65 kuadriliun. Sedangkan jika saat IDR melemah, jumlahnya akan naik sebesar 145 triliun menjadi 1,795 kuadriliun, untuk pembayaran utang luar negeri.
d. Biaya impor naik
Sebagian besar transaksi impor kita menggunakan USD sebagai mata uang pembayaran, menyebabkan biaya impor juga akan ikut naik. Ini juga yang menyebabkan harga barang di pasaran ikut naik.
e. Harga BBM dan transportasi meningkat
Indonesia masih memiliki ketergantungan barang impor energi, salah satunya yaitu bensin. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, juga mengatakan bahwa Indonesia masih impor bensin sekitar 20 juta kiloliter atau 50% dari jumlah konsumsi. Sehingga melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berdampak pada harga BBM dan transportasi
(jn)
