Bahaya Asap Karhutla bagi Kesehatan Tubuh Manusia, dari Iritasi Mata hingga Risiko Kanker Paru-paru

PASUNDANEKSPRES.ID - Ini dia bahaya asap karhutla. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan manusia. Asap yang dihasilkan dari pembakaran hutan dan lahan mengandung berbagai zat berbahaya, seperti gas, bahan kimia, dan partikel halus yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan.
Paparan asap karhutla, terutama dalam jangka waktu lama atau pada konsentrasi tinggi, dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga oleh penduduk di wilayah lain yang terdampak sebaran kabut asap.
Simak sejumlah bahaya asap dari karhutla bagi kesehatan yang perlu diwaspadai.
Bahaya Asap Karhutla bagi Kesehatan
Berikut ini adalah beberapa bahaya asap dari karhutla yang harus kamu tahu.
1. Menyebabkan Iritasi Mata
Salah satu dampak langsung paparan asap karhutla adalah iritasi mata. Partikel dan zat iritan yang terkandung dalam asap dapat menyebabkan mata terasa perih, merah, gatal, berair, hingga menimbulkan rasa tidak nyaman.
Dampak tersebut dapat terjadi ketika seseorang terpapar kabut asap di luar ruangan maupun di dalam ruangan yang kualitas udaranya telah tercemar.
Penelitian di bidang kesehatan mata, termasuk kajian yang dilakukan oleh Sheila West dari Johns Hopkins University, menunjukkan pentingnya memperhatikan dampak polusi terhadap kesehatan mata. Paparan polusi udara dapat memengaruhi permukaan mata dan memperburuk keluhan pada orang yang sensitif terhadap iritan.
Untuk mengurangi risiko iritasi, masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap pekat, menghindari menggosok mata, dan menggunakan kacamata pelindung ketika harus beraktivitas di luar.
2. Memicu Gangguan Pernapasan
Gangguan pernapasan menjadi salah satu risiko kesehatan utama akibat asap karhutla. Asap mengandung campuran gas, bahan kimia, dan partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan hingga mencapai bagian dalam paru-paru.
Paparan asap dapat menimbulkan gejala berupa batuk, tenggorokan terasa kering, sesak napas, napas berbunyi, serta iritasi pada hidung dan tenggorokan. Pada kondisi tertentu, paparan tersebut juga dapat memperburuk penyakit pernapasan yang telah dialami seseorang.
Kelompok yang perlu lebih waspada meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru-paru.
Asap karhutla juga dapat memperburuk kondisi penderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Sementara itu, pneumonia merupakan infeksi paru-paru yang penyebabnya beragam, sehingga tidak tepat jika seluruh kasus pneumonia dianggap disebabkan langsung oleh asap kebakaran.
Masyarakat yang mengalami sesak napas berat atau kesulitan bernapas perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
3. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung
Dampak asap karhutla tidak terbatas pada sistem pernapasan. Paparan polusi udara, khususnya partikel halus yang dikenal sebagai PM2.5, juga berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular.
Partikel halus dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu respons peradangan serta gangguan pada sistem peredaran darah. Kondisi ini dapat meningkatkan beban kerja jantung dan memperburuk penyakit yang sudah ada.
Sejumlah penelitian mengenai kebakaran hutan di California pada periode 2015–2017 menemukan hubungan antara paparan asap kebakaran yang pekat dan peningkatan risiko serangan jantung.
Di Indonesia, paparan asap kebakaran hutan dan lahan gambut juga menjadi perhatian dalam kajian kesehatan masyarakat karena dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Selain paparan partikel asap, faktor lingkungan seperti suhu yang tinggi dapat turut memengaruhi risiko gangguan jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu, masyarakat dengan riwayat penyakit jantung perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.
4. Meningkatkan Risiko Kanker Paru-paru
Paparan polusi udara dalam jangka panjang juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan risiko kanker paru-paru. Asap karhutla mengandung partikel dan senyawa hasil pembakaran yang komposisinya dapat berbeda-beda, bergantung pada bahan yang terbakar dan kondisi kebakaran.
Cancer Research UK menyebutkan bahwa polusi udara luar ruangan berkontribusi terhadap kasus kanker paru-paru. Meski demikian, risiko kanker dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tingkat dan lamanya paparan, kebiasaan merokok, serta faktor lingkungan dan individu lainnya.
Hubungan antara polusi udara dan kanker paru-paru telah menjadi perhatian berbagai penelitian kesehatan. Paparan polusi yang berulang atau berlangsung dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko, meskipun tidak berarti setiap orang yang terpapar asap karhutla akan mengalami kanker.
Karena itu, pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta pengurangan paparan asap menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Asap kebakaran hutan dan lahan merupakan ancaman kesehatan yang tidak boleh dianggap sepele. Paparannya dapat menyebabkan iritasi mata, memicu gangguan pernapasan, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, serta berkontribusi terhadap risiko kanker paru-paru akibat polusi udara.
(ipa)
