Begini Tips Membersihkan Abu Vulkanik, Hindari Menyapu saat Masih Kering

PASUNDANEKSPRES.ID - Tips membersihkan abu vulkanik perlu diketahui, terutama saat material hasil erupsi mulai menempel di halaman, rumah, kendaraan, hingga tubuh. Sekilas terlihat seperti debu biasa, tetapi partikel abu vulkanik dapat kembali beterbangan apabila dibersihkan secara keliru.
Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap kemungkinan paparan abu vulkanik. Material tersebut tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan apabila masuk ke saluran pernapasan, mengenai mata, atau menempel pada kulit.
Dinas Kesehatan Subang melalui akun Instagram resminya mengingatkan bahwa abu vulkanik dapat menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan.
Beberapa di antaranya berupa iritasi hidung dan saluran napas, mata merah serta berair, iritasi kulit, batuk, sakit tenggorokan, hingga sesak napas.
Masyarakat yang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, gangguan penglihatan, kejang, atau penurunan kesadaran dianjurkan segera mencari pertolongan medis ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit terdekat.
Tips Membersihkan Abu Vulkanik di Rumah
Berikut tips membersihkan abu vulkanik yang disarankan:
1. Jangan langsung menyapu abu
Cara membersihkan abu vulkanik yang pertama justru bukan menyapunya. Abu yang masih kering dapat beterbangan ketika disapu sehingga partikelnya berpotensi terhirup.
Dokter Tirta, seperti dikutip dari CNBC Indonesia, mengingatkan masyarakat agar tidak membersihkan abu vulkanik menggunakan sapu dalam kondisi kering.
“Jangan disapu, itu tambah terbang, tambah sesak napas, dan batuk-batuk, disiram pakai air ya, disiram pakai air,” ujar Dokter Tirta dikutip dari CNBC.
Abu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu menggunakan air agar tidak mudah beterbangan. Setelah cukup lembap, material tersebut dapat dibersihkan secara perlahan.
2. Gunakan masker saat membersihkan
Masker perlu digunakan ketika membersihkan area yang terkena abu vulkanik. Perlindungan tersebut penting untuk membantu mengurangi paparan partikel ke saluran pernapasan.
Usahakan proses pembersihan dilakukan secara perlahan agar abu tidak kembali beterbangan. Jika kondisi lingkungan masih dipenuhi abu, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi.
3. Bersihkan wajah secara perlahan
Abu vulkanik yang menempel di wajah juga tidak boleh langsung digosok. Partikel yang menempel pada kulit dapat menimbulkan iritasi apabila digesek terlalu kuat.
Dokter Tirta pun menyarankan penggunaan facial wash yang tepat ketika abu mengenai wajah.
“Kalau kena muka, itu sebenarnya gunakan facial wash yang proper, jangan langsung ngegesek, karena bisa baret-baret serius,” katanya.
Membersihkan wajah secara perlahan dapat membantu mengangkat kotoran tanpa memberikan gesekan berlebihan pada kulit.
4. Jangan mengucek mata
Mata termasuk bagian tubuh yang cukup sensitif terhadap paparan abu vulkanik. Dinas Kesehatan Subang pun menyebut paparan abu dapat menyebabkan mata merah, berair, dan mengalami iritasi.
Ketika mata terasa kemasukan abu, hindari menguceknya secara berulang. Gangguan mata yang semakin berat, terutama jika disertai gangguan penglihatan, perlu segera diperiksa secara medis.
5. Perhatikan kondisi setelah terkena abu
Paparan abu vulkanik tidak selalu langsung menimbulkan keluhan berat. Batuk, sakit tenggorokan, hidung teriritasi, kulit gatal, atau mata berair dapat menjadi tanda tubuh mengalami paparan.
Kondisi kesehatan sebaiknya dipantau setelah berada di area yang terkena abu. Gejala berat seperti sesak napas, nyeri dada, gangguan penglihatan, kejang, dan penurunan kesadaran memerlukan pertolongan medis segera.
Abu vulkanik juga dapat menimbulkan bau yang terasa berbeda dari kondisi biasanya. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap perlu mengikuti informasi resmi dari instansi terkait.
(pm)
