Harga Saham IHSG Anjlok? Simak Berita Updatenya Disini!

PASUNDAN EKSPRES.ID — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan masih berada dalam bayang-bayang tekanan pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Pergerakan indeks saham domestik terus dicermati para pelaku pasar modal setelah pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, ihsg anjlok sebesar 1,33 persen atau terpotong 79,20 poin hingga terlempar ke posisi 5.863,78.
Pelemahan tajam tersebut melanjutkan tren koreksi pasar modal Indonesia yang mengalami tekanan sejak memasuki pertengahan Oktober.
Berdasarkan data perdagangan BEI, rentang pergerakan indeks pada hari sebelumnya sempat bergerak di level tertinggi 5.917,70 sebelum akhirnya terdorong turun hingga menyentuh batas terendah harian pada level 5.804,21. Tekanan jual yang merata di berbagai sektor, khususnya sektor barang konsumen non-primer dan sektor energi, menjadi penekan utama yang menyeret indeks ke zona merah.
Proyeksi Pergerakan Teknikal dan Level Support Krusial
Menanggapi pergerakan bursa, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberikan pandangan teknikal terkait arah indeks untuk perdagangan hari ini. Pihaknya menilai posisi teknikal indeks saat ini masih rawan mengalami perpanjangan gelombang koreksi harian.
"Saat ini posisi IHSG berada pada bagian dari wave v dari wave a dari wave (x) pada label hitam, sehingga dapat diwaspadai akan ada koreksi ke 5.744-5.794," ujar Herditya Wicaksana dalam publikasi riset harian.
Herditya menjelaskan bahwa batas *support* penting IHSG kini berada di level 5.744 dan 5.643. Sementara itu, batas resistance yang dapat menjadi area penahan apabila terjadi pantulan menguat berada pada rentang 6.009 hingga 6.218.
Dalam kesempatan terpisah, tim riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas juga memproyeksikan indeks saham gabungan masih berpotensi bergerak melemah secara terbatas. Pilarmas memperkirakan pergerakan harian indeks akan menguji rentang support 5.840 dan resistance 6.000.
Sementara itu, ulasan tertulis dari Phintraco Sekuritas menguraikan bahwa secara teknikal pergerakan indeks cenderung berjalan sideways pada rentang 5.800 sampai 6.000. Namun, terdapat risiko teknikal yang patut diwaspadai jika indeks ditutup di bawah batas psikologisnya.
"Jika IHSG ditutup di bawah level 5.800, maka berpotensi menguji support berikutnya di 5.700, 5.650, dan 5.600," tulis tim analis Phintraco Sekuritas.
Rentetan Sentimen Global dan Tekanan Makroekonomi
Kondisi ketika **ihsg anjlok** ini tidak terlepas dari kombinasi sentimen eksternal serta dinamika makroekonomi internasional yang menahan gairah transaksi pelaku pasar. Salah satu pemicu utama berasal dari meningkatnya ekspektasi lonjakan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), pada akhir Oktober 2026.
Selain itu, lonjakan imbal hasil (*yield*) obligasi pemerintah AS atau US Treasury serta penguatan mata uang Dolar AS memberikan dampak rambatan terhadap nilai tukar Rupiah. Di pasar spot, mata uang Rupiah bergerak melemah hingga menembus posisi di atas Rp17.900 per Dolar AS, yang memicu aksi penyesuaian portofolio oleh investor di bursa berkembang.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menggarisbawahi dampak dari perwujudan risiko-risiko global tersebut terhadap pasar keuangan domestik.
"Risiko yang menjadi dasar pandangan tersebut sebagian besar telah terealisasi, mulai dari kenaikan tajam yield US Treasury, penguatan dollar AS hingga pelemahan rupiah mendekati Rp 18.000 per dollar AS," ungkap Rully Arya Wisnubroto. Rully turut mencatat bahwa aksi jual bersih (*net sell*) oleh investor asing di bursa saham domestik menembus angka belasan triliun rupiah selama periode koreksi berlangsung.
Dari pasar komoditas dunia, harga minyak mentah jenis Brent terpantau bergerak melandai di bawah level 104 Dolar AS per barel seiring laporan riset terkait potensi pelonggaran sanksi kapal tanker tertentu. Walau demikian, kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan energi global tetap membuat para pemodal mengambil sikap kehati-hatian tinggi.
Rincian Pergerakan Saham dan Pilihan Analis
Aksi jual meluas pada perdagangan Kamis ikut menyeret jajaran saham individual dari berbagai sektor. Beberapa emiten mencatatkan koreksi harga yang tergolong dalam, antara lain:
1. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) merosot 7,88 persen ke posisi Rp304 per saham.
2. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) terpotong 6,40 persen menuju Rp1.900 per saham.
3. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) terkoreksi 5,84 persen ke level Rp1.290 per saham.
4. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) jatuh 5,26 persen ke harga Rp630 per saham.
5. PT Indika Energy Tbk (INDY) melorot 5,10 persen ke posisi Rp2.420 per saham.
6. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tergerus 4,85 persen menjadi Rp157 per saham.
Meskipun pergerakan bursa secara umum tertekan hingga ihsg anjlok, sejumlah saham berkapitalisasi besar dan saham berbasis komoditas tertentu masih sanggup mengakhiri sesi perdagangan di zona hijau. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terpantau menguat 1,39 persen ke Rp4.390, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) naik 1,28 persen ke Rp790, serta PT United Tractors Tbk (UNTR) menguat 1,00 persen ke harga Rp25.250 per saham.
Untuk mencermati peluang transaksi pada perdagangan Jumat, beberapa perusahaan sekuritas merilis daftar rekomendasi saham pilihan:
- MNC Sekuritas merekomendasikan opsi trading buy untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Timah Tbk (TINS), dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR).
- PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyodorkan rekomendasi saham pilihan pada PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), serta PT United Tractors Tbk (UNTR).
Dinamika pergerakan indeks saham domestik pada penutupan pekan ini diperkirakan akan sangat ditentukan oleh respons pelaku pasar terhadap pergerakan indikator ekonomi global serta arah stabilitas nilai tukar Rupiah.
