Iran Ancam Hentikan Ekspor Minyak Timur Tengah, Trump Peringatkan Serangan Lebih Keras

PASUNDANEKSPRES.ID - Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kembali meningkat setelah muncul ancaman terkait pasokan minyak dunia. Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps menyatakan tidak akan membiarkan minyak keluar dari Timur Tengah jika serangan terhadap Iran terus berlangsung.
Pernyataan tersebut langsung memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memperingatkan bahwa negaranya akan melancarkan serangan yang jauh lebih besar apabila Iran mencoba memblokir jalur ekspor energi dari kawasan tersebut.
Dilansir dari Reuters, Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan mengizinkan “satu liter pun minyak” keluar dari kawasan Timur Tengah jika operasi militer dari Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.
Ancaman tersebut terutama berkaitan dengan jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute paling penting bagi perdagangan minyak dunia. Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati selat tersebut setiap harinya.
Menanggapi ancaman tersebut, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan memberikan respons militer yang sangat keras jika Iran mencoba menghalangi lalu lintas kapal tanker di wilayah itu.
Dalam konferensi pers, Trump mengatakan bahwa serangan terhadap Iran dapat meningkat drastis jika negara tersebut mengganggu aliran energi global.
“Kami akan memukul mereka begitu keras sehingga tidak mungkin bagi mereka atau siapa pun yang membantu mereka untuk pulih kembali di kawasan dunia itu,” kata Trump dalam konferensi pers pada Senin (9/3) waktu setempat.
Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memberikan kerusakan besar pada kekuatan militer Iran. Ia bahkan memprediksi konflik tersebut akan berakhir lebih cepat dari perkiraan empat minggu yang sebelumnya pernah ia sampaikan.
Meski demikian, Trump belum menjelaskan secara rinci seperti apa bentuk kemenangan yang dimaksud oleh pemerintah Amerika Serikat.
Sementara itu, Israel menyatakan tujuan utama perang mereka adalah menggulingkan sistem pemerintahan ulama di Iran. Di sisi lain, pejabat Amerika Serikat lebih sering menegaskan bahwa tujuan Washington adalah menghancurkan kemampuan rudal serta program nuklir Iran.
Namun Trump menyatakan bahwa konflik tersebut hanya akan benar-benar berakhir jika Iran memiliki pemerintahan yang dianggap lebih patuh terhadap komunitas internasional.
Ketegangan geopolitik ini sempat mengguncang pasar keuangan global. Harga minyak dunia melonjak tajam setelah muncul kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu pasokan energi global.
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran juga dinilai memperkecil peluang penyelesaian konflik dalam waktu dekat.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat melonjak hingga sekitar 29 persen pada awal pekan, mencapai level tertinggi sejak tahun 2022.
Namun pada Selasa harga kembali turun lebih dari 10 persen setelah Trump memperkirakan perang akan segera berakhir dan muncul laporan kemungkinan pelonggaran sanksi energi.
(ipa)
