Kawasan Resapan Air di Subang Tersebar di Sejumlah Wilayah, Ini Lokasinya

PASUNDANEKSPRES.ID - Keberadaan kawasan resapan air di Subang turut menopang ketersediaan cadangan air sepanjang musim, terutama ketika musim kemarau berlangsung.
Wilayan perbukitan di bagian selatan dan tengah Subang memiliki kondisi alam yang membantu air hujan masuk ke dalam tanah dan tersimpan sebagai cadangan.
Keberadaan kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persediaan air saat kemarau.
Ketika musim hujan tiba, tanah, pepohonan, dan kawasan perbukitan kembali berperan dalam menerima serta memperlambat aliran air sebelum bergerak menuju sungai dan wilayah yang lebih rendah.
Fungsi Kawasan Resapan Air
Kawasan resapan air berfungsi menjaga keseimbangan antara air yang turun sebagai hujan dan air yang tersimpan di dalam tanah.
Menurut Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, kawasan resapan memiliki beberapa fungsi utama.
Berikut lengkapnya:
- Membantu mengendalikan banjir karena air hujan tidak seluruhnya langsung mengalir di permukaan.
- Menjaga cadangan air tanah yang kelak menjadi salah satu sumber air yang dapat bertahan ketika curah hujan menurun.
- Fungsi lain berkaitan dengan kekeringan. Semakin baik kemampuan kawasan dalam menyimpan air, semakin besar pula peluang tersedianya cadangan air ketika musim kemarau.
- Vegetasi turut memiliki peran penting. Akar tanaman membantu memperkuat tanah sehingga mengurangi risiko erosi dan longsor.
- Tutupan tanaman juga menjaga kelembapan tanah serta mendukung keberadaan flora dan fauna di sekitarnya.
Daftar Kawasan Resapan Air di Subang
Berikut beberapa kawasan yang memiliki fungsi penting sebagai daerah tangkapan dan resapan air di Subang:
1 DAS Cipunagara Berawal dari Subang Selatan
Salah satu bagian penting dari sistem air di Subang adalah Daerah Aliran Sungai atau DAS Cipunagara.
DAS Cipunagara memiliki panjang sekitar 147 kilometer dan luas sekitar 1.280 kilometer persegi. Alirannya melewati Subang, Sumedang, dan Indramayu sebelum berakhir di Laut Jawa.
Hulu DAS Cipunagara berada di Subang bagian selatan, terutama sekitar Kecamatan Ciater. Dari kawasan tersebut, aliran sungai bergerak menuju bagian utara hingga mencapai Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara.
Kondisi kawasan hulu memiliki hubungan erat terhadap perjalanan air menuju hilir. Karena itu, kawasan resapan air di Subang bagian selatan memiliki fungsi yang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar pegunungan.
Air yang tertahan dan masuk ke dalam tanah di kawasan yang lebih tinggi menjadi bagian dari sistem air yang lebih luas. Sementara air yang mengalir di permukaan akan mengikuti jaringan sungai menuju daerah yang lebih rendah.
2. Mata Air Tajaherang di Jalancagak
Kawasan resapan air di Subang juga berkaitan dengan keberadaan sejumlah mata air di wilayah selatan.
Mata Air Tajaherang atau Tejaherang berada di Kampung Ciseuti, Desa Jalancagak, Kecamatan Jalancagak. Sumber air tersebut muncul dari kawasan kaki bukit dan menjadi bagian dari lingkungan sumber air alami.
Air yang keluar dari mata air berkaitan dengan proses yang berlangsung di dalam tanah. Air hujan yang meresap di kawasan yang lebih tinggi dapat bergerak melalui lapisan tanah dan batuan sebelum muncul kembali pada titik tertentu.
Karena itu, kondisi lingkungan di sekitar mata air menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan sumber air. Vegetasi yang tetap terjaga membantu mempertahankan kemampuan tanah dalam menyerap air.
3. Mata Air Cipondok dan Cimutan di Kasomalang
Wilayah Kasomalang juga memiliki sumber air yang berada di lingkungan kaki pegunungan.
Mata Air Aqua Cipondok berada di kawasan pegunungan Kasomalang yang secara alami menjadi bagian dari daerah tangkapan air hujan.
Selain Cipondok, terdapat Mata Air Cimutan yang masih berada di wilayah Kasomalang. Letaknya di bawah lereng pegunungan membuat kawasan tersebut memiliki kondisi yang mendukung keberadaan sumber air.
Air yang tersimpan melalui proses alami di kawasan lebih tinggi dapat menjadi sumber bagi lingkungan di sekitarnya.
Kemarau Jadi Waktu untuk Menjaga Kawasan Resapan
Musim kemarau menjadi waktu yang tepat untuk menjaga lingkungan yang selama ini berperan dalam menyimpan air.
Pada kawasan resapan, tutupan tanaman perlu tetap terjaga karena pepohonan dapat memperlambat aliran air sekaligus membantu tanah menyerap air hujan ketika musim hujan kembali datang. Kondisi tanah dan vegetasi yang baik akan membuat proses penyerapan air tetap berjalan secara alami.
Hal yang sama berlaku pada mata air yang menjadi salah satu sumber air bagi masyarakat. Kebersihan mata air perlu dijaga agar tidak tercemar sampah maupun limbah.
Sementara itu, sungai dan saluran air juga perlu dirawat karena menjadi jalur yang membawa air dari wilayah yang lebih tinggi menuju daerah yang lebih rendah.
Upaya tersebut juga berkaitan erat dengan keberadaan ruang terbuka. Tanah yang masih terbuka memiliki kemampuan lebih besar untuk menerima air hujan dibandingkan permukaan yang tertutup bangunan atau material kedap air.
(pm)
