Maudy Ayunda Klarifikasi Video Mindfulness, Akui Ada Perspektif yang Terlewat

PASUNDANEKSPRES.ID - Penyanyi sekaligus aktris Indonesia, Maudy Ayunda klarifikasi video mindfulness yang diunggah di kanal YouTube miliknya setelah konten tersebut "diserang" sejumlah warganet.
Video berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” awalnya dibuat sebagai catatan pribadi tentang cara menjaga kesehatan mental ketika kabar buruk datang terus menerus.
Pembahasan tersebut kemudian bersinggungan dengan kondisi sosial yang sedang dihadapi masyarakat. Sejumlah penonton merasa sudut pandang dalam video belum mencakup pengalaman orang-orang yang harus berhadapan langsung dengan persoalan yang dibicarakan.
Isi Video Mindfulness Maudy Ayunda
“Mindfulness in the Age of Bad News” dipublikasikan pada 21 Agustus 2026 dan memiliki durasi 13 menit 55 detik. Dalam video tersebut, Maudy membahas bagaimana seseorang dapat tetap tenang ketika berbagai berita negatif muncul hampir setiap hari.
Ia mengaku merasa seperti dibombardir kabar buruk selama beberapa bulan bahkan sekitar satu tahun terakhir. Informasi dari berbagai kejadian, baik di Indonesia maupun luar negeri, menurutnya dapat ikut memengaruhi kondisi emosional.
Maudy kemudian membicarakan mindfulness sebagai salah satu cara untuk tetap mengetahui apa yang terjadi tanpa membiarkan seluruh informasi tersebut menguasai kondisi mental. Baginya, menjaga kesehatan diri bukan berarti berhenti peduli terhadap persoalan yang ada.
Video tersebut telah ditonton sekitar 151.841 kali dan memperoleh 2.734 komentar.
Warganet Sebut Maudy Tone Deaf
Sebagian warganet memiliki pandangan berbeda. Mereka menilai kemampuan untuk mengambil jarak dari berita tidak dimiliki semua orang, terutama ketika kabar tersebut berkaitan langsung dengan kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau lingkungan tempat mereka tinggal.
Bagi kelompok yang terdampak langsung, berita tentang bencana, kebijakan, persoalan sosial, maupun kondisi ekonomi bukan sekadar informasi yang bisa ditutup ketika terasa berat. Realitas tersebut tetap berjalan di luar layar.
Istilah “tone deaf” kemudian digunakan sejumlah pengguna untuk menggambarkan penilaian bahwa pesan Maudy belum cukup mempertimbangkan kondisi tersebut.
Beberapa komentar yang ditulis warganet di video antara lain:
- “bad news kamu adalah bad reality dari orang-orang tau, info aja” — @n*dli*ar
- “For many of us, it's not just a news. It's our REALITY... can't ignore it....” — @n**fi*af**ri9**9
- “beliau adalah contoh output dari kegagalan sistem pendidikan ala kapitalisme yg hanya digunakan sebagai jenjang karir dan kapital semata” — @Ara**uara**dcast
- “SEKALI BUDEK TETAP BUDEK. SELAMAT KAMU KONSISTEN BUDEKNYA. MUST BE NICE TO HAVE A CHOICE TO AVOID BAD NEWS SINCE IT HAS NEVER HAPPENED IN YOUR BACKYARD” — @Se**rlan**tUma*tut*
- “If this country is a hunger game simulation, you’re the capitol watching over districts fighting and killing each other for entertainment btw” — @*srafi**lman6*7*
Maudy Ayunda Klarifikasi Video Mindfulness
Setelah membaca banyak komentar, Maudy Ayunda klarifikasi video Mindfulness tersebut melalui tanggapan di kolom komentar video. Ia mengatakan ada satu hal penting yang belum cukup ia sampaikan ketika membuat konten tersebut.
Berikut isi klarifikasi dan permintaan maaf Maudy:
“Hai teman-teman,
Terima kasih untuk semua komentar dan perspektif yang disampaikan di sini. Aku sudah membaca banyak di antaranya, dan ada satu hal penting yang aku sadari belum cukup aku sampaikan di video ini.
Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya.
Waktu membuat video ini, aku sebenarnya sedang berbagi refleksi tentang suatu struggle pribadi: bagaimana tetap peduli dan mengikuti apa yang terjadi, sambil menjaga diri supaya kita tetap bisa hadir dan engage dengan lebih berarti.
The situations we are dealing now are so frustrating and heartbreaking… adanya Karhutla, bencana gempa, berbagai kebijakan dan program yg ngga tepat sasaran dan berdampak langsung pada masyarakat, maupun berbagai isu-isu lain yg jg sama pentingnya. This is such an exceptionally hard time, for those impacted communities especially, and they need all support and visibility they can get.
Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja. Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak.
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedbacknya. I’m listening and learning.”
Melalui tulisan tersebut, Maudy mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh dari pemberitaan merupakan sebuah privilese.
Ia juga menjelaskan bahwa video tersebut berasal dari pengalaman pribadi ketika berusaha menemukan cara untuk tetap mengikuti keadaan tanpa mengorbankan kemampuan untuk terlibat secara bermakna.
Maudy menyebut karhutla, gempa, bencana, serta berbagai kebijakan dan program yang dianggap tidak tepat sasaran sebagai persoalan yang menurutnya membutuhkan dukungan dan visibilitas.
Ia sekaligus menegaskan bahwa mindfulness tidak dimaksudkan sebagai alasan untuk menjauh dari realitas, berdiam diri, ataupun menganggap keadaan sedang baik-baik saja.
Klarifikasi Mendapat Ratusan Komentar
Komentar Maudy tersebut tetap mendapat respons dari pengguna YouTube. Lebih dari 300 komentar disebut muncul setelah ia memberikan klarifikasi.
Ada yang menerima penjelasan tersebut, sementara pengguna lain masih membicarakan isi video awal. Percakapan kemudian berkembang ke persoalan mengenai peran figur publik ketika mengangkat tema kesehatan mental yang bersinggungan dengan masalah masyarakat.
Nama Sherina Munaf ikut disebut oleh sejumlah warganet. Mereka membandingkan Maudy dengan Sherina yang dinilai lebih aktif turun langsung membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Perbandingan itu menjadi bagian dari ekspektasi terhadap figur publik yang mempunyai basis pengikut besar. Sebagian warganet menilai figur publik memiliki ruang untuk ikut menyuarakan isu yang berdampak luas, bukan hanya membicarakannya dari sisi pengalaman pribadi.
Beasiswa LPDP yang pernah diterima Maudy juga ikut dibahas. Kritik tersebut muncul karena sebagian warganet berharap penerima beasiswa yang menggunakan dukungan negara memiliki kepedulian lebih terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Gelombang komentar tersebut bahkan membuat sebagian pengguna media sosial mengatakan memilih berhenti mengikuti akun Maudy maupun kanal YouTube miliknya.
(pm)
