Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Mengenal Cerita Ki Lapidin Jawara Subang, Sosok Legendaris Pembela Kaum Tertindas

P
Putri MelaniaEditor: Putri Melania
|16:00 WIB
Bagikan:
Mengenal Cerita Ki Lapidin Jawara Subang, Sosok Legendaris Pembela Kaum Tertindas
Foto: Ilustrasi kawasan Wisma Karya Subang yang dipercaya sebagai lokasi hukuman gantung Ki Lapidin. (Sumber: Etnis)

PASUNDANEKSPRES.ID - Masih banyak kisah berharga dari tanah Subang yang belum dikenal luas. Salah satunya adalah cerita Ki Lapidin Jawara Subang, sebuah legenda yang diwariskan secara turun temurun.

Cerita Ki Lapidin Jawara Subang ini bahkan menginspirasi berbagai karya seni, mulai dari buku, pementasan teater, hingga film pendek.

Awal Mula Cerita Ki Lapidin Jawara Subang

Mengutip berbagai sumber budaya lokal, Ki Lapidin hidup pada masa Pamanoekan en Tjiasem Lands (P&T Lands), ketika wilayah Subang berada di bawah pengaruh perkebunan milik perusahaan Belanda dan Inggris. Saat itu kehidupan rakyat jauh dari kata sejahtera.

Beragam aturan dibuat untuk kepentingan pemerintah kolonial. Pajak dikenakan hampir di setiap aspek kehidupan dan masyarakat juga diwajibkan menjalani kerja paksa di perkebunan teh, tebu, dan karet tanpa memperoleh upah yang layak.

Siapa pun yang tidak mampu bekerja karena usia atau sakit tetap dikenai denda. Kondisi tersebut membuat banyak warga hidup dalam kesulitan dan penderitaan.

Di tengah situasi itulah nama Ki Lapidin mulai dikenal.

Berasal dari Prajurit Bagus Rangin

Konon, Ki Lapidin merupakan salah seorang prajurit Bagus Rangin, tokoh yang memimpin perlawanan terhadap Belanda di wilayah Cirebon. 

Setelah pasukan Bagus Rangin tercerai-berai akibat pengejaran tentara kolonial, Ki Lapidin memilih mengembara hingga akhirnya tiba di daerah Sembung, Subang.

Perjalanan itu menjadi titik awal perubahan hidupnya. Saat melintasi sebuah perkebunan, ia melihat seorang kakek dipukuli mandor hanya karena dianggap bekerja terlalu lambat. 

Pemandangan tersebut membangkitkan rasa kemanusiaannya. Ki Lapidin segera menghentikan aksi sang mandor dan berhasil melumpuhkannya hanya dalam satu perlawanan singkat.

Kejadian itu membuat para pekerja yang selama ini hidup dalam ketakutan mulai melihat secercah harapan.

Usai menolong sang kakek, Ki Lapidin diterima tinggal di rumah keluarga tersebut. Tidak lama kemudian ia menikahi putri bungsu sang kakek dan menjalani kehidupan sederhana sebagai petani.

Hari-harinya dihabiskan menggarap sawah serta membantu masyarakat sekitar. Kehidupan rumah tangganya sempat berjalan bahagia hingga sang istri meninggal saat melahirkan anak pertama mereka.

Peristiwa itu menjadi pukulan besar bagi Ki Lapidin. Sejak kehilangan istrinya, sifatnya berubah menjadi lebih pendiam. Meski demikian, kepeduliannya terhadap warga sekitar tidak pernah pudar.

Dari Jawara Menjadi Pembela Rakyat

Bagian paling menarik dalam cerita Ki Lapidin Jawara Subang adalah saat dirinya mulai dikenal sebagai sosok misterius yang merampas harta milik pejabat kolonial untuk dibagikan kepada rakyat miskin.

Semuanya bermula ketika ia menangkap seorang perampok bernama Sarkawi. Setelah dikalahkan, Sarkawi berjanji tidak lagi mengganggu masyarakat. 

Harta hasil rampokannya ternyata berasal dari pejabat Belanda yang dikenal gemar menindas rakyat.

Alih-alih mengembalikannya kepada pemilik semula, Ki Lapidin memilih membagikan uang, emas, dan berbagai barang berharga kepada warga yang hidup dalam kesusahan.

Keesokan harinya, banyak penduduk menemukan uang atau perhiasan di depan rumah tanpa mengetahui siapa pemberinya. 

Peristiwa itu terus berulang setiap kali terjadi perampokan terhadap pejabat kolonial atau pengelola perkebunan asing.

Bagi pemerintah Belanda, pelaku tersebut adalah penjahat yang harus ditangkap. Sebaliknya, bagi rakyat Subang, Ki Lapidin adalah pahlawan yang berani menentang ketidakadilan.

Pengkhianatan Sarkawi

Hubungan Ki Lapidin dan Sarkawi tidak bertahan lama. Sarkawi diam-diam mulai menyembunyikan sebagian hasil rampokan untuk kepentingan pribadi.

Mengetahui hal itu, Ki Lapidin menegurnya dengan keras. Teguran tersebut membuat Sarkawi menyimpan dendam. Demi membalas rasa sakit hati, ia membocorkan seluruh rahasia Ki Lapidin kepada Demang dan pemerintah Belanda.

Sarkawi juga mengungkap kebiasaan Ki Lapidin yang gemar menyaksikan pertunjukan ketuk tilu serta menyukai lagu tradisional Kembang Gadung.

Informasi itulah yang kemudian dijadikan jebakan. 

Suatu malam digelar pertunjukan ketuk tilu di alun-alun. Lagu Kembang Gadung sengaja dimainkan untuk memancing kedatangan Ki Lapidin.

Benar saja, ia muncul dan ikut menari mengikuti irama musik. Tidak lama kemudian puluhan anak buah Demang bersama tentara Belanda mengepung arena pertunjukan.

Pertarungan sengit pun terjadi. Meski dikeroyok banyak orang, Ki Lapidin masih mampu melumpuhkan sejumlah lawan sebelum akhirnya meloloskan diri ke hamparan perkebunan teh yang gelap.

Sejak saat itu namanya masuk daftar buronan pemerintah kolonial.

Akhir Perjuangan Ki Lapidin

Pengejaran terhadap Ki Lapidin berlangsung cukup lama. Keberadaannya selalu dirahasiakan masyarakat karena jasa-jasanya sangat dirasakan oleh warga Subang.

Nasib tragis datang ketika anak semata wayangnya jatuh sakit. Kabar tersebut kembali bocor kepada Sarkawi. Belanda memanfaatkan kesempatan itu untuk mengepung rumah Ki Lapidin.

Ki Lapidin sempat berusaha menyelamatkan anaknya sambil melawan pasukan yang mengejar. Namun dalam peristiwa itu sang anak meninggal dunia. Kesedihan yang mendalam membuat perlawanannya melemah hingga akhirnya ia berhasil ditangkap.

Ki Lapidin kemudian dijatuhi hukuman gantung di sebuah pohon tanjung yang berada di kawasan Wisma Karya Subang. 

Sebelum hukuman dilaksanakan, ia hanya meminta satu permintaan terakhir, yakni diperdengarkan lagu Kembang Gadung, lagu yang begitu dicintainya.

Hingga kini, lagu tersebut masih dianggap sakral dalam berbagai pertunjukan seni tradisional di Subang sebagai bentuk penghormatan kepada sosok jawara yang dikenang karena keberanian dan kepeduliannya terhadap rakyat.

(pm)

Berita Terbaru

Stop Sugar Craving! Ini Lho Cara Kurangi Konsumsi Makanan Manis

Stop Sugar Craving! Ini Lho Cara Kurangi Konsumsi Makanan Manis

Lifestyle8 menit lalu
7 Tips Olahraga Saat Cuaca Panas Agar Tetap Aman dan Sehat

7 Tips Olahraga Saat Cuaca Panas Agar Tetap Aman dan Sehat

Lifestyle1 jam lalu
Cara Pakai QRIS ShopeePay dengan Mudah, Bayar Apapun Cukup Scan!

Cara Pakai QRIS ShopeePay dengan Mudah, Bayar Apapun Cukup Scan!

Lifestyle1 jam lalu
Dugaan Pungli Rp250 Juta Gegerkan Pondok Bambu, Siapa Sebenarnya Nur Mariyana Putri?

Dugaan Pungli Rp250 Juta Gegerkan Pondok Bambu, Siapa Sebenarnya Nur Mariyana Putri?

Nasional2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Rekomendasi Tempat Jual Emas Harga Tinggi di Subang, Bisa Tanpa Surat!

Rekomendasi Tempat Jual Emas Harga Tinggi di Subang, Bisa Tanpa Surat!

Lifestyle2 jam lalu
Ide Kegiatan Positif untuk Mengisi Waktu Luang, Dijamin Bermanfaat

Ide Kegiatan Positif untuk Mengisi Waktu Luang, Dijamin Bermanfaat

Lifestyle3 jam lalu
UU Pelindungan Ketenagakerjaan Resmi Disahkan, Ini 9 Hak Penting yang Kini Diatur untuk Buruh

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Resmi Disahkan, Ini 9 Hak Penting yang Kini Diatur untuk Buruh

Nasional4 jam lalu
Jadwal TKA SMA/SMK 2026, Catat Pelaksanaannya!

Jadwal TKA SMA/SMK 2026, Catat Pelaksanaannya!

Lifestyle4 jam lalu
Mantan Sekdes Ace Safei Maju Pilkades Jalancagak, Usung "Jalancagak Juara"

Mantan Sekdes Ace Safei Maju Pilkades Jalancagak, Usung "Jalancagak Juara"

Subang5 jam lalu
Imbas Temuan Klaster Mewah di Area Lapas, Kemenimipas Copot Kalapas Cibinong

Imbas Temuan Klaster Mewah di Area Lapas, Kemenimipas Copot Kalapas Cibinong

Nasional6 jam lalu