Mengenal Sejarah Kabupaten Subang dari Masa ke Masa

PASUNDANEKSPRES.ID - Sejarah Kabupaten Subang memiliki kisah historis yang cukup panjang dari masa pra-sejarah hingga masa awal kemerdekaan.
Kabupaten Subang merupakan salah satu daerah yang berada di Provinsi Jawa Barat yang terkenal dengan julukan "kota nanas" yang memiliki kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang beragam.
Wilayahnya membentang dari kawasan pegunungan di bagian selatan hingga dataran rendah dan pesisir di bagian utara.
Kondisi geografis tersebut menjadikan Subang memiliki potensi yang beragam, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan hingga pariwisata.
Di masa lalu, Kabupaten Subang memiliki sejarah cukup panjang yang dibuktikan dengan penemuan bukti sejarah seperti fosil, artefak, bangunan atau situs, dan catatan sejarah yang memuat tentang daerah tersebut.
Sejarah Kabupaten Subang
Masa Pra-sejarah
Melansir dari situs resmi Pemerintah Daerah Kabupaten Subang (Pemkab Subang), keberadaan bukti adanya kelompok masyarakat pada masa pra-sejarah di wilayah Kab. Subang adalah ditemukan kapak batu di daerah Bojongkeding (Binong), Pagaden, Kalijati dan Dayeuhkolot (Sagalaherang).
Penemuan benda-benda prasejarah bercorak neolitikum itu menandai bahwa masyarakat di wilayah tersebut sudah mengenal bercocok tanam dengan pola yang masih sederhana.
Selain itu, ditemukannya situs prasejarah di Kampung Engkel di Sagalaherang menjadi bukti pada masa pra-sejarah di wilayah ini berkembang pola kebudayaan perunggu.
Masa Kerajaan Hindu-Buddha dan Islam
Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, wilayah Kabupaten Subang menjadi bagian dari tiga kerajaan, yakni Tarumanagara, Galuh, dan Pajajaran.
Selain itu, wilayah Kabupaten Subang diperkirakan telah menjalin hubungan dengan beberapa kerajaan maritim hingga di luar kawasan Nusantara dengan ditemukan peninggalan pecahan-pecahan keramik asal Cina di Patenggeng (Kalijati).
Bukti masuknya agama Islam di wilayah Kabupaten Subang tidak lepas dari peran salah satu tokoh Islam dari Talaga, Majalengka yaitu Wangsa Goparana yang membuka pemukiman baru di Sagalaherang dan menyebarkan agama Islam di wilayah Subang pada 1539.
Masa Kolonialisme
Di masa pemerintahan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles sekitar tahun 1811–1816, wilayah-wilayah di Subang diberikan konsesi lahan kepada pihak swasta Eropa.
Tahun 1812 tercatat sebagai awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah yang selanjutnya membentuk perusahaan perkebunan bernama "Pamanoekan en Tjiasemlanden" (P & T Lands).
Penguasaan lahan yang luas ini bertahan sekalipun kekuasaan sudah beralih ke tangan pemerintah Hindia Belanda yang mencapai 212.900 ha. dengan hak eigendom.
Untuk melaksanakan pemerintahan di daerah ini, pemerintah Hindia Belanda membentuk distrik-distrik yang membawahi onderdistrik.
Saat itu, wilayah Subang berada di bawah pimpinan seorang kontrilor BB (bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan di Subang.
Masa Awal Abad ke-20
Pada awal abad ke-20, masyarakat di wilayah Subang mulai terlibat dalam organisasi-organisasi pergerakan nasional seperti berdirinya cabang organisasi Sarekat Islam di Desa Pringkasap (Pabuaran) dan Sukamandi (Ciasem).
Pada 1928, berdiri Paguyuban Pasundan dengan ketuanya, Darmodiharjo, seorang karyawan kantor pos, beserta sekretarisnya, Odeng Jayawisastra yang saat itu merupakan karyawan P & T Lands.
Namun, ada pemogokan massal di percetakan P & T Lands yang dipimpin Odeng Jayawisastra yang mengakibatkan aktivitas percetakan tersebut lumpuh yang kemudian dipecatnya O. Jayawisastra sebagai karyawan P&T Lands.
Adapun O. Jayawisastra dan Tohari mendirikan cabang Partai Nasional Indonesia yang berkedudukan di Subang sedangkan Darmodiharjo pada tahun 1935 mendirikan cabang Nahdlatul Ulama yang diikuti oleh cabang Parindra dan Partindo di Subang.
Masa Pendudukan Jepang
Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di pantai Eretan Timur, Indramayu, dan berhasil merebut Batavia pada 5 Maret 1942.
Kekalahan tentara Belanda oleh tentara Jepang membuat pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kalijati di Kalijati, Subang pada 8 Maret 1942.
Hal ini menandai masa pendudukan Jepang di Indonesia dan berakhirnya pemerintahan Hindia Belanda.
Masa Awal Kemerdekaan
Satu tahun setelah kemerdekaan Indonesia, terjadi rapat di wilayah Subang yang salah satu hasilnya adalah pembentukan Kabupaten Karawang Timur pada 5 April 1948.
Wilayah Kabupaten Karawang Timur mencakup wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta sekarang yang kemudian kedua wilayah tersebut bernama Kabupaten Purwakarta dengan ibukotanya Subang.
Penetapan nama Kabupaten Karawang Timur pada tanggal 5 April 1948 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Subang.
(inm)
