Mengenal Tradisi Ruwat Laut Blanakan Subang Jawa Barat

PASUNDANEKSPRES.ID - Apa itu ruwat laut Blanakan? Ruwat Laut menjadi salah satu tradisi yang masih dipertahankan masyarakat nelayan di pesisir Pantai Utara (Pantura), Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ritual tahunan ini menjadi momentum bagi para nelayan untuk mengungkapkan rasa syukur atas rezeki dari hasil laut sekaligus memanjatkan doa agar aktivitas mencari nafkah di tengah laut senantiasa mendapat keselamatan.
Tradisi tersebut kembali digelar pada Minggu, 27 September 2026. Ribuan nelayan yang tergabung dalam Koperasi Jasa Mina Mandiri Fajar Sidik Blanakan turut memadati kawasan dermaga dan pesisir pantai.
Suasana acara semakin semarak dengan hadirnya ratusan kapal nelayan yang dihias menggunakan berbagai ornamen berwarna-warni. Sejumlah makanan dan minuman juga dipasang pada badan kapal sebagai bagian dari kemeriahan tradisi.
Apa Itu Ruwat Laut Blanakan?
Ruwat Laut merupakan tradisi masyarakat pesisir yang telah diwariskan secara turun-temurun. Secara umum, ritual ini dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan.
Selain rasa syukur, Ruwat Laut juga menjadi sarana doa bersama untuk memohon perlindungan dan keselamatan ketika nelayan berada di laut. Pekerjaan sebagai nelayan memiliki berbagai risiko, mulai dari perubahan cuaca, gelombang tinggi hingga kecelakaan di laut.
Di berbagai daerah, tradisi serupa dikenal dengan sejumlah nama, antara lain sedekah laut, nadran, larung sesaji, nyadran, atau jamuan laut. Bentuk pelaksanaannya dapat berbeda-beda sesuai dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat.
Prosesi Larung Dongdang di Blanakan
Salah satu bagian penting dalam Ruwat Laut Blanakan adalah prosesi pelarungan dongdang. Dongdang merupakan miniatur kapal yang disiapkan secara khusus dan menjadi bagian dari prosesi utama.
Pada pelaksanaan tahun ini, dongdang membawa sesaji utama berupa kepala dan darah kerbau. Replika tersebut kemudian diangkut menggunakan kapal utama menuju laut lepas dan dikawal puluhan kapal nelayan lainnya.
Setelah mencapai lokasi yang telah ditentukan, replika kapal beserta sesaji dilarung ke laut. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus ungkapan harapan masyarakat pesisir terhadap keselamatan dan keberlangsungan kehidupan mereka yang bergantung pada laut.
Salah satu tradisi yang masih dilakukan para nelayan adalah mengambil air laut yang telah bercampur dengan darah kerbau untuk kemudian dibalurkan pada badan kapal. Bagi sebagian masyarakat setempat, praktik tersebut memiliki makna simbolis sebagai sarana tolak bala atau penolak musibah.
Bagian dari Warisan Budaya Pesisir
Ruwat Laut dikenal sebagai salah satu tradisi masyarakat pesisir di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan Banten. Meski memiliki nama dan bentuk pelaksanaan yang berbeda, tradisi tersebut umumnya memiliki benang merah berupa rasa syukur, doa keselamatan, serta penghormatan terhadap laut sebagai sumber kehidupan.
Dalam perkembangannya, tradisi Ruwat Laut di sejumlah daerah juga mengalami penyesuaian dengan nilai-nilai agama dan kebudayaan masyarakat setempat. Rangkaian kegiatan dapat mencakup doa bersama, arak-arakan kapal, pelarungan sesaji, pertunjukan kesenian tradisional hingga hiburan rakyat.
Di Blanakan, rangkaian kegiatan dapat pula diramaikan dengan perahu hias, karnaval serta kesenian tradisional seperti wayang purwa.
Dengan demikian, Ruwat Laut bukan sekadar acara tahunan bagi masyarakat nelayan Blanakan. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan, melestarikan warisan budaya, serta menyampaikan harapan agar laut tetap menjadi sumber kehidupan yang memberikan rezeki dan keselamatan.
Setelah prosesi pelarungan selesai, ribuan nelayan kembali ke dermaga. Di balik kemeriahan kapal-kapal yang dihias dan rangkaian ritual yang berlangsung, tersimpan harapan sederhana: dapat kembali melaut dengan selamat, memperoleh hasil tangkapan yang cukup, serta membawa rezeki bagi keluarga di rumah.
(ipa)
