Perbedaan Pabrik BYD dan VinFast di Subang, Cari Tahu di Sini!

PASUNDANEKSPRES.ID - Apakah kamu tahu tentang perbedaan pabrik BYD dan VinFast di Subang? Subang, Jawa Barat, kini menjadi salah satu pusat perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.
Dua produsen otomotif besar asal Asia, VinFast dari Vietnam dan BYD dari China, sama-sama membangun fasilitas produksi kendaraan listrik di kawasan ini.
Meski berada di wilayah yang sama, kedua pabrik tersebut memiliki perbedaan dari sisi investasi, kapasitas produksi, hingga target pasar.
VinFast Jadi Pabrik EV Pertama yang Beroperasi
VinFast menjadi pabrikan kendaraan listrik pertama yang resmi beroperasi di Subang. Fasilitas produksinya mulai beroperasi pada 15 Desember 2025, sekaligus menjadi pabrik pertama VinFast di Asia Tenggara dan fasilitas kedua di luar Vietnam.
Pabrik yang berdiri di atas lahan sekitar 170–171 hektare ini dibangun dengan investasi awal sekitar US$300 juta atau setara Rp4,8 triliun. Pada tahap pertama, kapasitas produksinya mencapai 50.000 unit mobil listrik per tahun.
Ke depan, VinFast menargetkan peningkatan investasi hingga lebih dari US$1 miliar agar kapasitas produksi dapat meningkat menjadi 350.000 unit per tahun.
Fokus Produksi Mobil Setir Kanan
Pabrik VinFast di Subang dipersiapkan sebagai basis produksi kendaraan listrik setir kanan (Right Hand Drive/RHD) untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia maupun ekspor ke berbagai negara.
Beberapa model yang diproyeksikan diproduksi antara lain:
-
VinFast VF 3
-
VinFast VF 5
-
VinFast VF 6
-
VinFast VF 7
-
VinFast VF MPV 7
Selain mobil listrik, VinFast juga berencana merakit sepeda motor listrik di fasilitas yang sama sebagai bagian dari pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
Menyerap Ribuan Tenaga Kerja
Pada tahap awal operasional, pabrik VinFast mempekerjakan sekitar 1.700 tenaga kerja lokal. Saat kapasitas produksi penuh tercapai, jumlah pekerja diperkirakan meningkat hingga 15.000 orang.
Perusahaan juga menargetkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari sekitar 40% di awal produksi menjadi 60% pada 2029 dan mencapai 80% pada 2030.
BYD Bangun Pabrik Berkapasitas Lebih Besar
Sementara itu, BYD membangun fasilitas produksi kendaraan listrik di kawasan Subang Smartpolitan. Pabrik ini berdiri di atas lahan seluas 108 hektare dan diproyeksikan menjadi salah satu pusat produksi kendaraan listrik terbesar di Asia Tenggara.
Nilai investasi BYD diperkirakan mencapai sekitar US$1,3 miliar atau setara Rp11,2 triliun, jauh lebih besar dibanding investasi awal VinFast.
Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit kendaraan listrik per tahun, tiga kali lipat lebih besar dibanding kapasitas awal pabrik VinFast.
Sudah Memasuki Tahap Operasional
Memasuki awal Januari 2026, pabrik BYD dikabarkan mulai menjalani fase awal operasional. Beberapa unit kendaraan telah dirakit untuk kebutuhan display, pengujian, serta test drive sebelum produksi massal dilakukan.
Kehadiran pabrik ini juga disebut memicu relokasi sejumlah pemasok komponen otomotif dari China maupun Jepang ke kawasan Subang. Hal tersebut berpotensi memperkuat rantai pasok industri kendaraan listrik nasional.
Model yang Akan Diproduksi
Pabrik BYD diproyeksikan memproduksi berbagai model kendaraan listrik yang sudah dipasarkan di Indonesia, seperti:
-
BYD Dolphin
-
BYD Atto 3
-
BYD Seal
-
BYD M6
Selain memenuhi permintaan pasar domestik, fasilitas ini juga disiapkan sebagai basis ekspor ke kawasan Asia Tenggara.
Penyerapan Tenaga Kerja
Pada tahap awal operasional, pabrik BYD diperkirakan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja, terutama untuk sektor manufaktur dan produksi. Jumlah tersebut berpotensi bertambah seiring peningkatan kapasitas produksi.
Perbedaan Pabrik BYD dan VinFast di Subang
Berikut perbandingan singkat kedua pabrik kendaraan listrik tersebut.
| Aspek | VinFast | BYD |
|---|---|---|
| Negara asal | Vietnam | China |
| Mulai beroperasi | 15 Desember 2025 | Fase awal sejak Januari 2026 |
| Luas lahan | 170–171 hektare | 108 hektare |
| Nilai investasi | Sekitar US$300 juta (Rp4,8 triliun) tahap awal | Sekitar US$1,3 miliar (Rp11,2 triliun) |
| Kapasitas produksi awal | 50.000 unit/tahun | 150.000 unit/tahun |
| Produk | Mobil listrik RHD dan rencana skuter listrik | Mobil listrik penumpang BYD |
| Target pasar | Indonesia dan ekspor global | Indonesia dan Asia Tenggara |
| Tenaga kerja awal | Sekitar 1.700 orang | Sekitar 3.000 orang |
Baik VinFast maupun BYD sama-sama menjadikan Subang sebagai basis penting pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia. VinFast unggul karena lebih dahulu beroperasi dan menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan setir kanan untuk pasar global.
Di sisi lain, BYD menawarkan skala investasi dan kapasitas produksi yang jauh lebih besar sehingga berpotensi menjadi salah satu pusat manufaktur kendaraan listrik terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Persaingan kedua produsen ini diperkirakan akan mempercepat pertumbuhan industri kendaraan listrik nasional, membuka lapangan kerja baru, sekaligus menarik lebih banyak pemasok komponen untuk berinvestasi di Indonesia.
(ipa)
