Sejarah Situs Nay Subang Larang, Jejak Peradaban Prasejarah dan Tokoh Legendaris Sunda

PASUNDANEKSPRES.ID - Ini dia sejarah Situs Nay Subang Larang. Situs Nay Subang Larang atau Nyi Subang Larang merupakan salah satu situs bersejarah yang berada di Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Lokasinya berada di kawasan Teluk Agung, Desa Nanggerang, Kecamatan Binong, dan menjadi salah satu peninggalan arkeologi penting yang menarik perhatian para peneliti maupun pecinta sejarah.
Nama situs ini sering dikaitkan dengan sosok Nyi Subang Larang, istri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran.
Namun, hasil penelitian arkeologi menunjukkan bahwa situs tersebut memiliki usia yang jauh lebih tua dibandingkan masa kehidupan tokoh tersebut.
Inilah yang membuat Situs Nyi Subang Larang menjadi salah satu lokasi bersejarah yang penuh nilai ilmiah sekaligus legenda.
Ini Mengenai Sejarah Situs Nay Subang Larang
Asal Usul Nama Situs Nyi Subang Larang
Penamaan Situs Nyi Subang Larang berasal dari kepercayaan masyarakat setempat yang meyakini terdapat makam Nyi Subang Larang di sekitar lokasi penemuan artefak.
Meski demikian, para arkeolog menjelaskan bahwa peninggalan yang ditemukan berasal dari masa prasejarah, sedangkan Nyi Subang Larang diperkirakan hidup pada abad ke-15. Dengan kata lain, nama situs lebih merujuk pada tradisi dan keyakinan masyarakat daripada usia sebenarnya dari tinggalan arkeologi yang ditemukan.
Awal Penemuan Situs
Situs ini pertama kali ditemukan oleh warga bernama Abah Roheman pada tahun 1979 dan kembali ditemukan berbagai temuan pada tahun 1981 di kawasan Teluk Agung dan Muara Jati.
Penelitian secara lebih mendalam baru dilakukan pada tahun 2013 ketika Pemerintah Kabupaten Subang membentuk tim penelitian yang melibatkan para arkeolog dari Balai Arkeologi Jawa Barat.
Ekskavasi kemudian berlanjut pada tahun 2016, 2018, dan 2019 untuk mengungkap lebih banyak bukti sejarah yang tersimpan di kawasan tersebut.
Luas Kawasan Penelitian
Area penelitian awal mencakup sekitar 3,5 hektare. Namun, para peneliti memperkirakan sebaran tinggalan budaya di kawasan ini mencapai sekitar 35 hektare.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kawasan Teluk Agung kemungkinan pernah menjadi permukiman penting pada masa lampau.
Temuan Arkeologi yang Menggemparkan
Salah satu penemuan terbesar di Situs Nyi Subang Larang adalah kerangka manusia yang ditemukan dalam kondisi relatif utuh.
Pada tahun 2016 ditemukan satu kerangka manusia, kemudian pada tahun 2018 ditemukan tiga kerangka lainnya.
Hasil pengujian menggunakan metode Karbon-14 (C-14) menunjukkan bahwa kerangka tersebut diperkirakan berasal dari sekitar tahun 45 Sebelum Masehi, atau abad ke-1 SM.
Selain kerangka manusia, para peneliti juga menemukan berbagai benda bersejarah, seperti:
- Manik-manik dari logam mulia.
- Fragmen tembikar.
- Senjata berbahan logam.
- Taring babi.
- Sisa-sisa moluska laut.
- Gerabah kuno.
Temuan tersebut menjadi bukti bahwa kawasan ini pernah dihuni oleh masyarakat yang telah memiliki budaya dan teknologi yang cukup maju pada masanya.
Jejak Budaya Austronesia dan Budaya Buni
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situs Nyi Subang Larang menyimpan jejak migrasi bangsa Austronesia yang diperkirakan memasuki Pulau Jawa sejak beberapa abad sebelum Masehi.
Selain itu, ditemukan pula peninggalan Budaya Buni berupa gerabah khas yang berkembang sekitar abad ke-2 hingga abad ke-5 Masehi.
Budaya Buni sendiri dikenal sebagai salah satu budaya prasejarah penting di wilayah pesisir utara Jawa Barat dan Banten.
Kisah Nyi Subang Larang
Tokoh Nyi Subang Larang dikenal dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang ditulis pada tahun 1720.
Menurut kisah tersebut, Nyi Subang Larang memiliki nama asli Kubang Kencana Ningrum dan merupakan putri Ki Gedeng Tapa, seorang syahbandar di Pelabuhan Muara Jati.
Saat masih muda, ia belajar agama Islam di Pesantren Quro yang dipimpin Syekh Quro di Karawang. Dari sinilah kemudian ia dikenal dengan nama Subang Larang.
Dalam perjalanan hidupnya, Nyi Subang Larang menikah dengan Pamanah Rasa yang kelak menjadi Raja Pajajaran bergelar Prabu Siliwangi.
Dari pernikahan tersebut lahir tiga tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Tatar Sunda, yaitu:
- Raden Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana).
- Nyai Lara Santang.
- Raja Sangara atau Kian Santang.
Keturunan Nyi Subang Larang kemudian memiliki peran besar dalam berkembangnya Islam di wilayah Jawa Barat, termasuk berdirinya Kesultanan Cirebon melalui Pangeran Cakrabuana serta lahirnya Sunan Gunung Jati.
Dugaan Makam Nyi Subang Larang
Masyarakat meyakini bahwa kawasan Muara Jati di Desa Nanggerang merupakan lokasi makam Nyi Subang Larang.
Keyakinan ini semakin menguat setelah penelusuran yang dilakukan oleh budayawan Abah Dasep Arifin yang menemukan sejumlah kesamaan nama tempat dengan kisah perjalanan hidup Nyi Subang Larang.
Meskipun demikian, hingga kini para sejarawan masih terus melakukan penelitian karena terdapat beberapa versi mengenai lokasi pemakaman maupun perjalanan hidup tokoh tersebut.
Penetapan Sebagai Cagar Budaya
Pada tahun 2011, kawasan Teluk Agung mulai ramai dikunjungi masyarakat setelah ditemukannya berbagai benda bersejarah yang diduga berkaitan dengan Nyi Subang Larang.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat kemudian menetapkan kawasan tersebut sebagai cagar budaya. Selain itu, Situs Nyi Subang Larang juga mendapat perlindungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Status tersebut menjadi dasar penting untuk menjaga kelestarian situs sekaligus mendukung penelitian arkeologi di masa mendatang.
Sejarah Situs Nay Subang Larang atau Nyi Subang Larang menunjukkan bahwa Kabupaten Subang memiliki warisan budaya yang sangat berharga.
Perpaduan antara bukti arkeologi dan kisah tokoh legendaris menjadikan situs ini sebagai salah satu destinasi sejarah yang menarik untuk dipelajari.
(ipa)
