Industri AMDK Terancam Tutup Akibat Kelangkaan dan Lonjakan Harga Plastik

PASUNDANEKSPRES.ID - Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) mengungkapkan bahwa sejumlah anggotanya terancam menghentikan operasional akibat kelangkaan serta lonjakan harga plastik yang semakin tidak terkendali.
Ketua Umum Aspadin, Firman Sukirman, menyatakan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut hingga dua bulan ke depan, maka industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), khususnya skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), berpotensi mengalami kebangkrutan.
“Bisa jadi dua bulan ke depan ada beberapa industri AMDK UMKM yang tidak bisa produksi karena tidak ada bahan baku,” ujar Firman saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, pelaku industri kini menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni kenaikan harga plastik yang signifikan dan kelangkaan pasokan.
Jika sebelumnya kenaikan harga masih berada di kisaran 10–20 persen, kini beberapa jenis plastik bahkan melonjak hingga 70 persen.
Kondisi ini memaksa produsen AMDK untuk menaikkan harga jual produk. Firman menegaskan bahwa langkah tersebut tidak dapat dihindari karena efisiensi internal tidak lagi cukup untuk menutupi lonjakan biaya produksi.
“Mau tidak mau, dengan harga yang tidak wajar, kita harus melakukan penyesuaian harga. Tidak cukup lagi hanya efisiensi internal,” jelasnya.
Saat ini, kenaikan harga produk air kemasan berkisar antara Rp2.000 hingga Rp3.000 per karton atau per dus. Namun, tidak menutup kemungkinan harga akan terus meningkat seiring fluktuasi harga bahan baku plastik.
Kelangkaan dan mahalnya plastik diketahui disebabkan oleh terganggunya pasokan nafta, bahan baku utama plastik, yang sebagian besar diimpor dari negara-negara Teluk.
Gangguan ini dipicu oleh konflik di Asia Barat yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan produk petrokimia.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, menyebut bahwa harga plastik telah mengalami kenaikan hingga 50 persen dibandingkan sebelum konflik terjadi.
“Jauh sebelum Ramadhan harga masih sekitar Rp10.000. Kemudian naik bertahap setiap pekan, hingga kini kami proyeksikan kenaikannya mencapai 50 persen,” ungkap Reynaldi.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan industri AMDK nasional, terutama bagi pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada stabilitas harga bahan baku.
Jika krisis pasokan terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan produsen, tetapi juga konsumen melalui kenaikan harga produk di pasaran.
Sumber: Kompas
