Reaksi Elite Politik Dunia terhadap Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Baru!

PASUNDAN EKSPRES.ID – Penunjukan Mojtaba Khamenei (56 tahun), putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran baru oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts) pada 8 Maret 2026, langsung memicu reaksi tajam dari para pemimpin dan elite politik dunia.
Keputusan ini yang diumumkan hanya 10 hari setelah kematian ayahnya akibat serangan udara gabungan AS-Israel dinilai sebagai sinyal kuat kelanjutan garis keras anti-Barat, di tengah perang regional yang masih membara.
Presiden AS Donald Trump memberikan respons paling keras dan langsung.
Dalam wawancara dengan ABC News dan Axios pada hari minggu, 8 Maret 2026, Trump menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang “unacceptable” (tidak dapat diterima) dan “lightweight” (ringan/tidak berbobot).
Ia menegaskan bahwa pemimpin baru Iran harus mendapat “persetujuan dari kami” (AS), jika tidak “dia tidak akan bertahan lama”.
Trump menyatakan “Kami ingin memastikan tidak perlu kembali setiap 10 tahun untuk membersihkan. Kami akan memutuskan bersama Israel kapan perang ini berakhir.”
Pernyataan ini dianggap sebagai ancaman implisit intervensi lebih lanjut, sekaligus upaya AS memengaruhi suksesi kepemimpinan Iran sesuatu yang jarang terjadi secara terbuka.
Israel, sebagai mitra utama serangan, merespons dengan nada serupa.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pejabat militer Israel menyatakan bahwa penunjukan Mojtaba justru memperkuat faksi garis keras IRGC (Korps Garda Revolusi Islam), sehingga operasi militer akan terus ditingkatkan untuk melemahkan rezim baru.
Seorang pejabat Israel mengatakan “Ini bukan transisi damai, tapi kelanjutan dinasti perlawanan kami siap menghadapinya" dikutip al-jazeera 1 maret 2026.
Uni Eropa dan negara-negara Barat menunjukkan kekhawatiran atas potensi eskalasi.
Pejabat senior UE menyebut penunjukan ini sebagai “kemenangan faksi militer atas reformis”, yang bisa memperpanjang perang dan memperburuk krisis energi global (harga minyak melonjak di atas $100 per barel).
Beberapa diplomat Eropa khawatir Mojtaba yang dikenal dekat dengan IRGC dan jarang tampil publik akan memperketat kontrol domestik sambil melanjutkan dukungan proxy seperti Hezbollah, sehingga negosiasi diplomatik semakin sulit.
Rusia dan China, sekutu strategis Iran, memberikan dukungan implisit.
Kremlin menyatakan “menghormati keputusan internal Iran” dan menyerukan de-eskalasi, sementara Beijing menekankan pentingnya stabilitas regional untuk perdagangan global.
Kedua negara ini melihat penunjukan Mojtaba sebagai jaminan kelanjutan aliansi anti-Barat, meski secara diam-diam khawatir perang berkepanjangan akan mengganggu pasokan energi dan ekonomi mereka.
Ada kekhawatiran bahwa ini bisa memicu perpecahan lebih dalam di Iran dengan oposisi domestik berteriak “Death to Mojtaba” dari atap rumah di Tehran serta risiko perang melebar jika AS-Israel meningkatkan serangan.
Penunjukan ini menandai era baru bagi Republik Islam Iran dinasti politik pertama sejak Revolusi 1979, di tengah krisis eksistensial terbesar dalam sejarahnya.
Para elite dunia sepakat bahwa masa depan Timur Tengah kini sangat bergantung pada bagaimana Mojtaba Khamenei menavigasi perang, sanksi, dan tekanan internal.
