Tenor Utang Whoosh 80 Tahun Lagi, Pemerintah Mulai Jajaki Ekspansi ke Jawa Timur

PASUNDANEKSPRES.ID - Utang Whoosh 80 tahun belum selesai dibayarkan, tetapi pemerintah sudah membahas kemungkinan memperpanjang jaringan kereta cepat dari Jakarta-Bandung hingga Jawa Timur.
Rencana tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia mengatakan komunikasi mengenai perpanjangan jaringan kereta cepat telah dilakukan bersama Menteri Keuangan China dan pihak berwenang di negara tersebut.
Sementara itu, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) masih memiliki kewajiban pembayaran jangka panjang. Setelah restrukturisasi, tenor utang diperpanjang hingga 80 tahun dengan cicilan sekitar Rp1 triliun atau sedikit di bawah Rp1 triliun setiap tahun.
Mengutip BBC, Purbaya mengatakan pengurusan utang proyek kereta cepat akan berada di bawah Kementerian Keuangan mulai pekan depan. Pemerintah China menjadi pihak yang menerima pembayaran sebagai mitra pembangunan proyek tersebut.
“Jadi total utang besar, tapi di-stretch 80 tahun sudah direstrukturisasi. Cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah Rp1 triliun dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, tapi kalau kita lihat masih bisa lah,” ujar Purbaya.
Rencana Ekspansi Whoosh ke Jawa Timur
Perpanjangan jalur Whoosh membutuhkan skema pembiayaan tersendiri agar tidak mengganggu penyelesaian kewajiban proyek Jakarta-Bandung.
Pemisahan tersebut penting supaya pembangunan jalur baru tidak membuat struktur kewajiban Whoosh semakin sulit dipantau.
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai kondisi keuangan Whoosh perlu diperkuat sebelum pemerintah mengambil komitmen pembiayaan untuk jalur baru.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pendapatan dari kawasan sekitar stasiun melalui Transit Oriented Development (TOD).
Pendapatan non-tiket tersebut dapat menjadi sumber pemasukan tambahan bagi proyek. Selain itu, pemerintah perlu menghitung biaya operasional dan pemeliharaan karena penambahan jaringan akan meningkatkan kebutuhan tenaga operasional, perawatan infrastruktur, pembaruan sistem, serta pemeliharaan rangkaian kereta.
Menurut Josua, pembiayaan jalur baru sebaiknya tidak digabungkan dengan penyelesaian utang Jakarta-Bandung.
“Rencana perpanjangan jaringan ke Jawa Timur sebaiknya dipisahkan secara tegas dari penyelesaian utang Jakarta-Bandung agar utang lama tidak tersamarkan oleh pembiayaan proyek baru,” ujarnya dikutip dari Tirto.
Utang Whoosh 80 Tahun Masih Berjalan
Tenor utang Whoosh 80 tahun yang tentunya masih panjang ini membuat pemerintah juga perlu menghitung kebutuhan pembaruan aset selama masa pembayaran berlangsung.
Rangkaian kereta, sistem kelistrikan, persinyalan, dan infrastruktur pendukung memiliki masa pakai yang membutuhkan pemeliharaan maupun penggantian secara berkala.
Josua mengingatkan risiko apabila pembaruan aset harus dilakukan ketika kewajiban pembangunan awal masih berjalan.
“Jangan sampai ketika sebagian kereta, sistem kelistrikan, persinyalan, atau infrastruktur sudah membutuhkan pembaruan besar, utang pembangunan awalnya masih belum lunas,” kata Josua.
Karena itu, rencana ekspansi ke Jawa Timur perlu disertai perhitungan mengenai biaya pembangunan, pendapatan, operasional, pemeliharaan, serta sumber pembiayaannya.
Pemerintah juga perlu menjelaskan struktur restrukturisasi utang Whoosh, termasuk sisa pokok, tingkat bunga, jadwal pembayaran, dan risiko perubahan nilai tukar dolar AS.
Informasi tersebut diperlukan untuk menghitung kemampuan proyek memenuhi kewajiban sekaligus membiayai kebutuhan operasional dan pembaruan aset.
(pm)
