Ferry Paulus Keceplosan Sebut Shin Tae-yong “Pelatih Saya”, Netizen Soroti Netralitas PT LIB

PASUNDANEKSPRES.ID — Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus, menjadi sorotan warganet setelah keceplosan menyebut Shin Tae-yong sebagai “pelatih saya” dalam sebuah pernyataan yang beredar di media sosial.
Ucapan tersebut sontak memicu perbincangan publik. Pasalnya, Shin Tae-yong saat ini diketahui menjadi pelatih Persija Jakarta, klub yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan karier Ferry Paulus di dunia sepak bola Indonesia.
Momen tersebut terekam dalam sebuah video dan dengan cepat menjadi bahan perbincangan warganet. Pada awal video, Ferry Paulus terdengar menyebut Shin Tae-yong dengan istilah “pelatih saya”.
Pernyataan spontan itu kemudian memancing beragam komentar. Sebagian warganet menilai ucapan tersebut kemungkinan hanya refleks akibat kedekatan dan hubungan emosional Ferry Paulus dengan Persija Jakarta.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan posisi Ferry Paulus sebagai Direktur Utama PT LIB. Sebagai operator kompetisi sepak bola Indonesia, PT LIB diharapkan dapat menjalankan tugas secara profesional dan menjaga netralitas terhadap seluruh klub peserta liga.
Hal inilah yang kemudian membuat ucapan Ferry Paulus menjadi sorotan. Warganet mempertanyakan apakah penyebutan “pelatih saya” tersebut sekadar blunder dalam berbicara atau menunjukkan bahwa keterikatan emosionalnya dengan Persija Jakarta masih belum sepenuhnya hilang.
Persija Jakarta sendiri dikenal sebagai salah satu klub yang memiliki perjalanan panjang dalam karier Ferry Paulus. Karena itu, muncul spekulasi di kalangan publik bahwa ucapan tersebut merupakan refleks dari hubungan dan pengalaman masa lalunya bersama klub berjuluk Macan Kemayoran tersebut.
Meski demikian, hingga kini belum ada indikasi bahwa ucapan tersebut berkaitan dengan kebijakan atau profesionalisme PT LIB dalam menjalankan kompetisi.
Video tersebut pun ditutup dengan pertanyaan yang semakin ramai diperbincangkan warganet: apakah ucapan Ferry Paulus tersebut hanya sebuah blunder spontan, atau justru memunculkan kembali perdebatan mengenai pentingnya menjaga netralitas operator kompetisi sepak bola Indonesia?
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa setiap pernyataan pejabat operator liga dapat dengan mudah menjadi perhatian publik, terutama ketika menyangkut klub dan figur yang memiliki hubungan dengan perjalanan karier mereka sebelumnya.
