Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Bukan Sekadar Minuman, Kopi Jadi Pelarian Gen Z Saat Stres

H
HubaEditor: Huba
|18:15 WIB
Bagikan:
Bukan Sekadar Minuman, Kopi Jadi Pelarian Gen Z Saat Stres

Oleh: Muhammad Fakhri Fahrezi

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro, Semarang

Kopi kini menempati posisi yang lebih dari sekadar minuman bagi Generasi Z. Di tengah tekanan akademik, ketidakpastian ekonomi, dan tuntutan produktivitas di era digital, kopi menjelma sebagai medium pelarian yang dianggap paling mudah dan “aman”. Fenomena ini tidak bisa dipahami semata sebagai tren gaya hidup, melainkan sebagai refleksi kondisi sosial dan mental generasi muda yang hidup dalam tekanan struktural.

Kecenderungan tersebut tercermin dari peningkatan konsumsi kopi secara nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi kopi Indonesia mengalami kenaikan
signifikan, dari kisaran 250 ribu ton pada 2019 menjadi lebih dari 300 ribu ton pada 2023.

Laporan Toffin Indonesia (2023) juga memperlihatkan dominasi generasi muda sebagai konsumen utama kedai kopi. Fakta ini mengindikasikan bahwa kopi telah terintegrasi kuat dalam pola hidup anak muda, sekaligus menandai pergeseran fungsi kopi dari kebutuhan sekunder menjadi bagian dari manajemen emosi.

Generasi Z tumbuh dalam situasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka menghadapi tekanan akademik yang kompetitif, pasar kerja yang semakin tidak pasti, serta paparan media sosial yang mendorong perbandingan sosial tanpa henti.

Kondisi ini menciptakan kelelahan mental yang kronis. Dalam situasi tersebut, kopi hadir sebagai solusi instan: memberi rasa tenang, meningkatkan fokus, dan menyediakan ruang jeda dari rutinitas yang melelahkan.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Teori Uses and Gratifications, yang dikembangkan oleh Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch. Teori ini menekankan
bahwa individu bersifat aktif dalam memilih media atau objek tertentu untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan tersebut mencakup kebutuhan afektif, integrasi sosial, identitas diri, hingga pelepasan ketegangan (tension release).
Meski demikian, dominannya kopi sebagai strategi coping memunculkan persoalan baru.

Survei Jakpat (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen Gen Z mengonsumsi kopi ketika merasa lelah atau tertekan.

Angka ini memperlihatkan bahwa pengelolaan stres semakin bergeser ke arah solusi individual yang bersifat jangka pendek. Sementara itu, sumber tekanan yang dihadapi generasi muda bersifat struktural dan berlangsung terus-menerus.

Normalisasi kelelahan mental menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan. Ketika stres dianggap sebagai konsekuensi wajar dari kehidupan modern, masyarakat cenderung menerima
kondisi tersebut tanpa mempertanyakan sistem yang melahirkannya. Budaya produktivitas berlebihan, desain pendidikan yang menekan, serta dunia kerja yang minim jaminan kesejahteraan kerap disamarkan oleh narasi perawatan diri yang instan. Kopi, dalam konteks ini, berfungsi sebagai penyangga psikologis yang menunda, tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Dari perspektif kebijakan publik, pola ini seharusnya dibaca sebagai sinyal kegagalan sistemik. Tingginya konsumsi kopi di kalangan generasi muda tidak cukup dimaknai sebagai
keberhasilan industri kopi semata. Ia juga mencerminkan belum optimalnya peran negara dalam menyediakan ekosistem yang mendukung kesehatan mental. Hingga kini, isu kesehatan mental masih sering ditempatkan sebagai tanggung jawab personal, bukan sebagai persoalan
sosial yang memerlukan respons kebijakan yang terintegrasi.
Negara seharusnya hadir melalui kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan generasi muda. Penataan ulang sistem pendidikan agar lebih berorientasi pada keseimbangan psikologis, regulasi ketenagakerjaan yang melindungi pekerja muda, serta perluasan layanan
kesehatan mental yang mudah diakses menjadi agenda mendesak. Tanpa langkah konkret, generasi muda akan terus bergantung pada solusi sementara yang tidak menyentuh akar persoalan.

Kopi, tentu saja, bukan penyebab utama masalah ini. Ia merupakan bagian dari budaya sekaligus penggerak ekonomi. Namun, ketika kopi menjadi satu-satunya ruang bernapas yang tersedia, kondisi tersebut mencerminkan keterbatasan sistem dalam menyediakan mekanisme
pemulihan yang lebih berkelanjutan. Generasi Z membutuhkan lebih dari sekadar minuman hangat mereka membutuhkan kebijakan yang memungkinkan hidup yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, menjamurnya budaya ngopi di kalangan generasi muda adalah refleksi dari ketegangan sosial yang belum tertangani. Kopi menjadi simbol upaya bertahan dalam sistem yang menuntut banyak, tetapi memberi sedikit ruang pemulihan. Tantangan sesungguhnya bukan pada konsumsi kopi itu sendiri, melainkan pada keberanian negara dan masyarakat untuk membenahi struktur yang membuat pelarian semacam ini terasa perlu. (*)

Berita Terbaru

Hakim Agung Mahkamah Agung RI Tinjau Kawasan Yudikatif di Nusantara

Hakim Agung Mahkamah Agung RI Tinjau Kawasan Yudikatif di Nusantara

Nasional9 jam lalu
Perubahan APBD 2026 Kabupaten Subang Disepakati

Perubahan APBD 2026 Kabupaten Subang Disepakati

Subang9 jam lalu
Beredar Surat Disebut-sebut Sebagai Undangan Pelantikan Sekda Subang untuk Rona Mairansyah Besok

Beredar Surat Disebut-sebut Sebagai Undangan Pelantikan Sekda Subang untuk Rona Mairansyah Besok

Subang9 jam lalu
Revitalisasi Pasar Ciroyom Ditargetkan Rampung 2 Tahun

Revitalisasi Pasar Ciroyom Ditargetkan Rampung 2 Tahun

Bandung Barat10 jam lalu
ADVERTISEMENT
Terima 100 Becak Listrik, Om Zein: Bentuk Kasih Sayang Pak Prabowo

Terima 100 Becak Listrik, Om Zein: Bentuk Kasih Sayang Pak Prabowo

Purwakarta10 jam lalu
Pagar Nusa Luncurkan Naskah Kuno "Serat Nitipraja Eyang Gandasoli"

Pagar Nusa Luncurkan Naskah Kuno "Serat Nitipraja Eyang Gandasoli"

Purwakarta11 jam lalu
Kawasan Industri Baru Subang Jadi Sasaran Rekrutmen Serikat Buruh

Kawasan Industri Baru Subang Jadi Sasaran Rekrutmen Serikat Buruh

Subang11 jam lalu
Jadwal Konser dan Fanmeeting Kpop di Bulan Oktober 2026, Ada NCT 127 hingga Gong Yoo

Jadwal Konser dan Fanmeeting Kpop di Bulan Oktober 2026, Ada NCT 127 hingga Gong Yoo

Lifestyle13 jam lalu
Wajah Anak Bukan Konten, Privasi Anak di Sosial Media Jangan Disepelekan

Wajah Anak Bukan Konten, Privasi Anak di Sosial Media Jangan Disepelekan

Lifestyle14 jam lalu
Nama Sekda Kabupaten Subang Sudah Ada, Bupati: Besok Pelantikan, Tunggu Saja

Nama Sekda Kabupaten Subang Sudah Ada, Bupati: Besok Pelantikan, Tunggu Saja

Headline14 jam lalu