Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Dosen di Era Al Generatif: Bukan Tergantikan, tetapi Dituntut Berubah

Z
Zaenal AbidinEditor: Indrawan Setiadi
|11:24 WIB
Bagikan:
Dosen di Era Al Generatif: Bukan Tergantikan, tetapi Dituntut Berubah
Oleh: Dr. Drs. Asep Priatna, M.Pd, Dosen Universitas Mandiri

Oleh: Dr. Drs. Asep Priatna, M.Pd, Dosen Universitas Mandiri

Sebuah pemandangan yang dulu mustahil kini menjadi lumrah di ruang kuliah: mahasiswa menuntaskan tugas dalam hitungan menit dengan bantuan ChatGPT atau Gemini, lalu menatap dosennya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Kecerdasan buatan generative teknologi yang mampu menghasilkan teks, gambar, suara, hingga video menyerupai karya manusia telah masuk ke jantung pendidikan tinggi Indonesia. Pertanyaannya bukan lagi "apakah kita akan memakainya", melainkan "bagaimana kita menyikapinya dengan bijak". Dan di tengah perubahan ini, profesi yang paling tertantang untuk bertransformasi adalah dosen.

Selama berabad-abad, dosen menempati posisi istimewa sebagai sumber utama pengetahuan. Mahasiswa datang ke kelas untuk menyerap informasi yang sulit didapat di tempat lain. Hari ini, posisi itu runtuh. Informasi melimpah, instan, dan gratis, bahkan kerap lebih terstruktur daripada catatan kuliah. Akibatnya, nilai seorang dosen tidak lagi terletak pada kemampuannya "memindahkan informasi", melainkan pada kemampuannya membimbing cara berpikir: menumbuhkan nalar kritis, mengajari mahasiswa menimbang kredibilitas sumber, dan menjadi teladan integritas. Peran dosen bergeser dari "sang penceramah di atas panggung menjadi "pendamping di sisi mahasiswa". Al justru dapat membantu pergeseran ini mengambil alih tugas administratif yang berulang dan mempersonalisasi materi sehingga dosen punya lebih banyak ruang untuk hal yang tak tergantikan mesin: dialog, bimbingan, dan keteladanan.

Namun pergeseran peran ini datang bersama tantangan yang nyata, dan yang paling mengkhawatirkan adalah integritas akademik. Muncul plagiarisme gaya baru: tugas yang ditulis. sepenuhnya oleh mesin, lalu diakui sebagai karya sendiri. Lebih halus namun lebih berbahaya adalah ketergantungan berlebih yang perlahan menumpulkan daya pikir. Sejumlah kajian terbaru memperingatkan bahwa mahasiswa yang terlalu bersandar pada Al berisiko kehilangan kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis, kemampuan yang justru menjadi tujuan utama pendidikan tinggi. Persoalannya, melarang Al secara total bukanlah jawaban yang realistis maupun bijak. Kita tidak bisa melarang air pasang.

Pemerintah memilih jalan tengah: memandu, bukan melarang. Pada Oktober 2024, Kementerian Pendidikan menerbitkan Panduan Penggunaan Generative Al pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi yang merujuk pada rekomendasi etika kecerdasan buatan dari UNESCO. Panduan itu menegaskan empat pilar etika yang harus dijaga: integritas akademik, keamanan dan perlindungan data, kesetaraan dan transparansi, serta dampak terhadap lingkungan. Sejumlah. kampus kemudian menyusun aturannya sendiri. Universitas Indonesia, misalnya, menerbitkan peraturan rektor yang mengatur penggunaan Al dalam karya ilmiah pada 2025. Pesan dari semua kebijakan ini seragam: AI hanyalah alat; kejujuran dan kontribusi intelektual manusia tetap menjadi inti dari sebuah karya.

Konsekuensinya bagi dosen sangat konkret. Cara menilai harus dirancang ulang. Tugas-tugas yang mudah diselesaikan oleh Al seperti merangkum, mendefinisikan, atau menjawab soal hafalan perlu digeser menjadi penilaian yang menuntut proses dan penalaran: presentasi lisan, ujian argumentasi, refleksi personal, studi kasus berbasis konteks lokal, hingga portofolio yang dibangun bertahap. Alih-alih bermain kucing kucingan dengan perangkat pendeteksi Al yang tak pernah sepenuhnya akurat, dosen sebaiknya meminta mahasiswa mendeklarasikan secara transparan kapan dan bagaimana mereka menggunakan AI. Kejujuran dibangun melalui budaya keterbukaan, bukan melalui rasa takut.

Sebagai ilustrasi, seorang dosen dapat meminta mahasiswa menggunakan Al untuk menyusun draf awal sebuah karya entah itu rencana proyek, analisis kasus, atau rancangan penelitian lalu mewajibkan mereka membedahnya secara kritis: bagian mana yang tepat, mana yang keliru, dan mana yang tidak sesuai dengan konteks lapangan di Indonesia. Tugasnya bukan lagi sekadar membuat draf, melainkan mengevaluasi dan menyempurnakan draf buatan AI. Dengan cara ini. Al bergeser dari jalan pintas yang mematikan nalar menjadi batu asah yang menajamkannya. Pendekatan semacam itu memang menuntut dosen lebih kreatif dalam merancang tugas tetapi justru di sanalah letak nilai tambah yang tak mungkin diambil alih oleh mesin.

Semua itu mensyaratkan satu hal mendasar: dosen harus melek Al terlebih dahulu. Mustahil membimbing penggunaan yang etis bila pembimbingnya sendiri gagap teknologi. UNESCO bahkan telah menerbitkan kerangka kompetensi Al khusus untuk guru dan dosen. Literasi Al yang dimaksud bukan sekadar bisa mengetik perintah ke chatbot, ia mencakup pemahaman tentang cara kerja dan keterbatasan model, kemampuan mengenali bias dan halusinasi jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi keliru, kesadaran melindungi data pribadi, serta kepekaan menimbang etika. Di sinilah kesenjangan menganga. Dosen di kampus besar dengan sumber daya berlimpah lebih cepat beradaptasi, sementara dosen di perguruan tinggi daerah berisiko tertinggal bila tidak ada pelatihan dan dukungan kelembagaan yang memadai.

Tantangan ini menjelma berbeda di setiap rumpun ilmu, dan dosen perlu jeli membaca konteksnya masing-masing. Di bidang hukum dan humaniora, Al dapat menyusun argumen yang tampak meyakinkan namun keliru menafsirkan konteks budaya dan peraturan lokal. Di bidang teknik dan sains, Al mampu mempercepat pemodelan dan analisis data, tetapi tetap menuntut verifikasi manusia untuk memastikan keselamatan dan akurasi. Di bidang kesehatan, kekeliruan Al yang diterima tanpa kritik bisa berakibat fatal bagi pasien.

Di bidang ekonomi dan bisnis, Al dapat menghasilkan rekomendasi strategis yang abai pada nuansa pasar Indonesia. Di bidang pendidikan, calon guru harus menyadari bahwa anak didik mereka kelak adalah generasi yang lahir bersama Al generasi yang barangkali bertanya kepada chatbot sebelum bertanya kepada gurunya. Tidak ada satu pun program studi yang kebal dari pertanyaan etis ini. Setiap dosen, di rumpun ilmu apa pun, kini berdiri di persimpangan yang sama: membimbing mahasiswa agar Al menjadi mitra berpikir, bukan pengganti berpikir.

Di sinilah keteladanan menjadi kunci nilai yang sejak lama menjadi inti tradisi pendidikan kita. Dosen yang jujur dan cermat dalam memanfaatkan teknologi akan melahirkan mahasiswa yang jujur dan cermat pula. Sebaliknya, dosen yang diam-diam menyalin keluaran Al mentah-mentah untuk slide kuliahnya sulit menuntut mahasiswa berbuat sebaliknya. Teknologi boleh secanggih apa pun, tetapi keteladanan tetaplah kurikulum yang paling diingat seorang murid dari bangku sekolah dasar hingga ruang seminar pascasarjana.

Dosen Tak Bisa Digantikan AI

Pada akhirnya, kabar baiknya jelas: AI generatif tidak akan menggantikan dosen. Empati, kebijaksanaan, dan kemampuan membaca kebutuhan manusia di balik layar bukanlah sesuatu yang bisa dihasilkan oleh mesin statistik. Namun ada peringatan yang sama jelasnya: dosen yang menolak belajar Al berisiko digantikan oleh dosen yang mau belajar.

Karena itu, kampus termasuk perguruan tinggi swasta di daerah seperti Subang yang tengah tumbuh pesat menjadi kawasan industri baru perlu bergerak cepat. Sediakan pelatihan yang berkelanjutan, susun kebijakan yang adil dan jelas, serta bangun komunitas praktik agar adaptasi tidak bergantung pada inisiatif segelintir dosen yang melek teknologi. Subang, dengan posisi strategisnya di sepanjang koridor industri Jawa Barat, justru memiliki peluang langka untuk menjadikan pendidikan tingginya relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang sudah lebih dahulu dijejaki Al.

Di tengah derasnya arus otomatisasi, yang membuat pendidikan tetap manusiawi bukanlah mesin yang makin pintar, melainkan dosen yang makin bijak. Tugas kita bukan melawan Al, melainkan memastikan ia melayani bukan menggantikan nalar, kejujuran, dan nurani yang ingin kita wariskan kepada generasi mendatang. Sebab di ruang kelas mana pun, dari kampus besar di ibu kota hingga perguruan tinggi yang sedang tumbuh di Subang, yang dididik bukanlah algoritma, melainkan manusia.

Berita Terbaru

12 Tips Meningkatkan Skill untuk Bekerja di Kawasan Industri Subang

12 Tips Meningkatkan Skill untuk Bekerja di Kawasan Industri Subang

Lifestyle4 menit lalu
Anggota DPRD Jabar Andhika Jadi Pembina Apel Pembukaan Trip Observasi SMA Labschool Jakarta di Banceuy, Soroti Pentingnya Pendidikan Karakter

Anggota DPRD Jabar Andhika Jadi Pembina Apel Pembukaan Trip Observasi SMA Labschool Jakarta di Banceuy, Soroti Pentingnya Pendidikan Karakter

Headline37 menit lalu
Otorita IKN Gelar Festival Cabai Nusantara, Dorong Pangan Lokal dan Akses Pasar Petani

Otorita IKN Gelar Festival Cabai Nusantara, Dorong Pangan Lokal dan Akses Pasar Petani

Nasional49 menit lalu
Otorita Ibu Kota Nusantara Gunakan Pendekatan Humanis, Fasilitasi Warga Tinggalkan Tahura Bukit Soeharto

Otorita Ibu Kota Nusantara Gunakan Pendekatan Humanis, Fasilitasi Warga Tinggalkan Tahura Bukit Soeharto

Nasional53 menit lalu
ADVERTISEMENT
Pojokan 324: Ah, Surya!

Pojokan 324: Ah, Surya!

Opini1 jam lalu
IFG dan Jamkrindo Berkolaborasi Hidupkan Budaya dan Dorong UMKM Naik Kelas

IFG dan Jamkrindo Berkolaborasi Hidupkan Budaya dan Dorong UMKM Naik Kelas

Jawa Barat2 jam lalu
Cara DPRD Subang Mengawasi Hasil Pembangunan Infrastruktur, Tak Hanya Lewat Rapat

Cara DPRD Subang Mengawasi Hasil Pembangunan Infrastruktur, Tak Hanya Lewat Rapat

Subang3 jam lalu
Bukan Cuma Lapangan Kerja, Ini Dampak Industri terhadap Ekonomi Wisata Subang

Bukan Cuma Lapangan Kerja, Ini Dampak Industri terhadap Ekonomi Wisata Subang

Lifestyle4 jam lalu
Infak Subang Berseri di RSUD Ciereng Terus Mengalir, Kali Ini Terkumpul Rp2,44 Juta

Infak Subang Berseri di RSUD Ciereng Terus Mengalir, Kali Ini Terkumpul Rp2,44 Juta

Headline5 jam lalu
Peluang UMKM di Kawasan Industri Subang Makin Terbuka, Ini Daftar Usahanya

Peluang UMKM di Kawasan Industri Subang Makin Terbuka, Ini Daftar Usahanya

Subang5 jam lalu