Pojokan 275: Validasi

Walau tidak semua orang, sepertinya menjadi orang kaya atau punya kuasa atau keduanya menjadi tujuan banyak orang. Mencapai salah satunya saja akan menjadi jaminan kesejahteraan hidup.
Tak perlu susah-susah mengais hidup dari perasan keringat sendiri. Perkaranya adalah, tak semua orang bisa menjadi kaya atau berkuasa. Apalagi meraih kedua-duanya. Soal kaya dan berkuasa itu soal ihtiar, gerak laku hidup dan garis tangan.
Nah, di Indonesia tipe orang yang tajir melintir itu hitungannya hanya sejumlah jari tangan. Bandingkan dengan jumlah rakyat Indonesia yang mencapai 280 juta kepala, orang yang teramat-amat makmur itu hanya 10 biji. Hikayat menyebutkan, merekalah yang menguasai kekayaan negeri tercinta ini. Kalau pemirsa ingin tahu siapa 10 orang tersebut, silahkan tanya “Mbah Google”.
Perlu juga kita bertanya kepada mereka, bagaimana kiat mereka bisa hidup adem tentrem, loh jinawi, damai dan sejahtera. Mungkin mereka mengikuti tips menjadi orang kaya seperti dalam buku. Atau bisa jadi mereka yang dijadikan sample buku-buku bagaimana menjadi orang kaya.
Merujuk buku The Millionare Next Door, disebutkan cara menjadi orang kaya ala Thomas J. Stanley dan William Danko D. Buku yang terbit tahun 1996 ini menawarkan cara jitu menjadi kaya hanya dalam tujuh langkah. Ibarat tidak ada langkah ke delapan atau kurang dari tujuh langkah, kalau mau kaya.
Kita juga bisa juga meniru nasehat Robert T. Kiyosaki, Rich Dad, Poor Dad. Kiyosaki mengajarkan kepada kita bagaimana menyusun jalan menuju kekayaan dengan menjadi berbeda dalam kuadran investor. Dia menyamakan, bahwa seumpama menjadi kaya harus menjadi investor proyek atau (mungkin) pilkada (pemilihan kepala daerah).
Pembaca juga bisa mendaras bukunya Steve Siebold, How Rich People Think. Bukunya ini mengajarkan bagaimana orang kaya berpikir. Tak main-main si Steve ini membuat buku. Dia wawancara 1.000 orang jutawan dan miliarder di seluruh kolong jagat, tentang bagaimana mereka membangun kekayaan mereka. Seolah para milliarder itu dewa yang perlu diambil petuah-petuahnya.
Nah bagi pembaca kelas menengah, bisa juga membaca bukunya Farnoosh Torabi yang menulis You’re So Money; Live Rich, Even When You’re Not. Buku ini pas banget bagi orang-orang yang pas-pasan pendapatannya, seperti kita. Orang yang pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, perlulah menghafalkan bukunya Torabi ini. Jika perlu hapal di luar kepala.
Jika masih kurang, pembaca juga bisa membuka buku George S Clason, The Richest Man in Babylon. Atau The Science of Getting Rich (A Thirfty Book) karangan Wallace Wattle yang menawarkan pemikiran positif untuk membangun kekayaan. Kalau ingin cepat kaya secara otomatis, bisa juga baca buku David Bach, The Automatic Millionaire.
Atau menjadi kaya jalur tol/cepat, bisa baca The Millionaire Fast Lane. Atau jika ingin belajar dari pengalaman hidup membangun kekayaan bisa membaca Screw It, Let’s Do It: Lessons in Life nya Richard Branson. Pembaca tinggal pilih saja.
Nah, itu tips untuk menjadi berlimpah harta. Jika kaya saja tidak cukup, dan ingin berkuasa, boleh juga membaca buku legendaris tentang cara-cara cepat berkuasanya Niccolo Machiavelli, Il Principe. Buku yang awalnya ditujukan untuk Lorenzo de Medici- penguasa Florence ini, berkisah bagaimana membangun dan mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara dan menghalalkan segala cara. Bukunya ini menjadi rujukan utama para diktator di dunia.
Pembaca juga bisa membaca The Art of War-nya, Jenderal Tiongkok, Sun Tzu. Bukunya ini tidak hanya menjadi pedoman dalam memenangkan peperangan tapi juga dijadikan kajian dalam menjalankan bisnis. Ada juga referensi yang bagus dibaca tentang kekuasaan ala Jenderal Carl von Clausewits. Bercerita tentang taktik dan strategi perang.
Nah dari sekian tips baik untuk menjadi makmur atau berkuasa, yang terbaru dan lebih “nembak” adalah bukunya Robert Greene, 48 Laws of Power. Disebutkan di bukunya, menjilat menjadi hukum yang pertama. Konon menjilat itu, menandakan ada ketakutan yang tersembunyi. Entah takut apa? Pun sang penjilat adalah tipikal manusia yang membutuhkan validasi dari orang lain.
Bisa jadi yang dijilati juga perlu validasi dari para penjilat. Sayangnya 48 hukum berkuasanya Robert Greene ini belum diadopsi sebagai kompetensi di lembaga sertifikasi profesi.
Silahkan pembaca tinggal pilih bacaan jika mau jadi tajir melintir dan berkuasa.
Tapi jangan pernah lupa, dilupakan atau sengaja melupakan, jalan teladan para leluhur kita. Mereka lelakon “sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli” (tak mengharap pujian/balasan, rajin bekerja tanpa harus gembar-gembor, cepat tanpa mendahului, tinggi tanpa melebihi/menginjak yang lain) dengan berani.
Pun sejahtera lahir bathin dengan hidup sederhana. Itu lebih otentik. Repot, jika hidup butuh validasi dari orang lain. Tapi faktanya, semua manusia berlomba mencari validasi. Terutama dari atasan. Dan bisa jadi validasi itu dengan menjilatinya. Atau cari muka? Wow. (Kang Marbawi, 181025)
