Pojokan 276: Mantan Murid

Iseng kubuka inbox emailku yang biasanya hanya berisi bermacam iklan dari pelbagaiproduk perbankan, media massa dan hotel. Juga info tagihan yang harus segera dibayar. Biasanya langsung kuhapus saja. Kutelusuri satu email yang tak kukenal. Kubuka dan terbersit rasa bangga kepada pengirim email itu. Pesan email itu dari seorang siswa SekolahMenengah Pertama Negeri (SMPN) 280 Jakarta, lulusan tahun 2017. Ketika itu saya masihmenjadi merbot musolah di sekolah itu.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apa kabar, bapakkk? Semoga Bapak selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.
Perkenalkan kembali, saya Mahesa Al-Faid, salah satu murid Bapak di SMP Negeri 280 Jakarta, angkatan tahun 2017. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali bertemu. Tapi, saya masih ingat betul bagaimana Bapak mengajar dengan sabar dan menyenangkan. Banyak pelajaran hidup yang saya dapat dari Bapak, bukan cuma soal pelajaran PAI, tapi juga tentangketulusan dan semangat dalam mendidik.
Alhamdulillah, sekarang saya sudah menjadi guru Pendidikan Agama Islam di SMP Islam Meranti. Saat berdiri di depan kelas, saya sering teringat cara Bapak mengajar dulu dan jujur, banyak hal yang saya coba tiru dari Bapak. Terima kasih banyak ya, Pak, atas ilmu dan keteladanan yang dulu Bapak tanamkan.
Jikalau nanti ada waktu dan kesempatan, saya sangat senang sekali bisa bersilaturahmi dan bertemu langsung dengan Bapak, sekadar melepas rindu, berbagi cerita, dan mengenangmasa-masa SMP dulu.
Semoga Bapak selalu dalam lindungan Allah, diberi kesehatan, panjang umur, dan kebahagiaan bersama keluarga.
Terima kasih banyak atas segala jasanya, Pak
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam hangat,
Mahesa Al-Faid
Murid Bapak di SMPN 280 Jakarta – Angkatan tahun 2017
Guru PAI, SMP Islam Meranti”
Sengaja, saya kutip semua emailnya Mahesa, sebagai KEBANGGAN atas profesi yang duluditekuni, dan masih dirindukan muridnya. Profesi pendidik yang kadang tak terlalu seksidipandang, baik oleh pengambil kebijakan atau kesejahteraan itu sendiri. Seolah profesi itu, tak punya hak untuk sejahtera. Atau hanya pada katagori “cukup” untuk hidup. Bahkan bisajadi profesi itu, imposible masuk dalam Majalah Forbes sebagai profesi yang paling sejahteradan mensejahterakan. Sepertinya majalah itu juga tak melirik profesi guru sebagai isu yang bisa memengaruhi kekayaan.
Dipenuhi rasa haru dan bahagia, kubalas emailnya. Tak lupa kusertakan nomor whastapp(WA). Singkat cerita, kami janjian bertemu esok harinya di kantor, untuk nostalgia. SejakMaret 2021, Aku tak lagi di SMPN 280. Sempat berfoto selfi bersama. Tidak lama, kuajakmakan soto gerobak Madura di pinggir kali belakang Masjid Istiqlal. Tepatnya di Jl. Veteran 1 Jakarta Pusat.
Ngobrol tentang apa yang diingat kala belajar di kelas dan cerita teman-teman seangkatannyasewaktu di SMPN 280. Menyebut beberapa temannya yang sudah berhasil menjadikontraktor. Ada juga temannya yang lain yang sedang sakit cacar. Katanya minta di doakanagar segera sembuh. Pertemuan itu, singkat, karena saya harus menghadiri rapat.
Esok harinya, kubuka status-status WA kontak yang ada di handphone (HP) ku. Status pada profil media sosial (medsos) seseorang, seolah aquarium bagi ruang private seseorang yang bisa dinikmati semua orang. Gratis pula! Herannya orang berlomba untuk selalu update status. Hanya untuk eksis di dunia maya. Walau kadang kontennya fleksing dan memenuhinafsu narsisme. Sindrom Simulacrum, ditimpali Sindrom Bewara-mewartakan aktivitas diri, menjadi habituasi baru netizen.
Membaca status WA/medsos orang lain menjadi sebuah ritualku yang sebenarnya SANGATtak penting. Namun selalu dilakukan dan seolah menjadi adiksi. Diritual tak penting, takproduktif dan menjadikan asocial itu-saking asyiknya membaca status orang, dipanggil pun tak nengok. Hanya berucap “hmmm” sebagai tanda respon jika dipanggil, namun mata tetapterpaku untuk scrool status orang, kutemukan status WA Mahesa. Distatusnya menyertakanfoto kami berdua. Tertulis seperti ini (dikutip langsung):
“Jum'at, 24 Oktober 2025
Sejak di bangku SMP, saya memiliki seorang guru yang menanamkan nilai luhur tentangpentingnya membaca dan belajar, sebagaimana diungkapkan oleh Francis Bacon bahwa“reading maketh a full man..." kurang lebih seperti itu. Beliau sering mengingatkan bahwamembaca bukan sekadar mencari pengetahuan, melainkan perjalanan menemukan diri, sebagaimana Paulo Freire dalam Pedagogy of the Heart menegaskan bahwa pendidikanadalah dialog antara manusia dan dunia untuk mencapai kesadaran kritis. Setelah ± enamtahun berlalu, Allah mempertemukan saya kembali dengannya, sosok yang mengingatkan pada semangat homo legens yang disebut oleh Mortimer J. Adler dalam How to Read a Book, bahwa manusia yang membaca sejatinya sedang memperluas batas pikirannyamelampaui ruang dan waktu. Dalam pertemuan singkat itu, beliau kembali berpesan agar saya tak berhenti membaca, memulai untuk menulis, dan menjalin banyak ukhuwah. Pesanyang menggemakan gagasan Kahlil Gibran dalam The Prophet, bahwa guru sejati bukanlahyang menuntun ke rumah pengetahuannya, melainkan yang menuntun ke ambang pikiranmusendiri. Meski perbincangan kami singkat, maknanya menjelma dalam seperti ajaran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, bahwa ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan, dan belajartanpa cinta adalah kehampaan. Maka saya pun memahami, guru sejati bukan sekadarpengajar, melainkan penjaga cahaya dalam perjalanan intelektual dan spiritual muridnya.”
Lagi-lagi aku tertegun bangga. Terlalu tinggi dia menilai. Saya sendiri masih ingusan dan pembelajar. Sejujurnya saya sendiri sudah lupa apa yang saya sampaikan dulu ketika di kelas. Seperti lupanya para kontestan tentang janji perbaikan nasib guru, kala menang pemilihan.
Obrolan ringan yang tak seberapa lama itu, dapat di refleksikan Mahesa dengan referensi daripara filosuf dan pedagog dunia yang keren. Guru PAI muda ini, mampu merefleksikan “homo legens”nya Mortimer J. Adler, menyadur Francis Bacon serta memanuti Paulo Freire daripertemuan singkat itu. Pun tak ketinggal, dia bisa membridging pertemuan itu dengan pesanKhalil Gibran dalam The Prophet, Sang Guru. Dan tak ketinggalan menyitir Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya Ihya Ulumuddin. Aku sendiri belum tentu bisa menyatukangagasan besar itu, untuk sebuah pertemuan singkat.
Terlepas dari itu semua, saya bangga, pernah belajar menjadi pendidik. Walau tak banyakyang ditanamkan kepada anak didik. Khususnya dalam menanamkan lima kepekaan, yang seharusnya menjadi jalan thariqoh pendidik. Sebab mendidik adalah soal membuka ruangselaput tipis kepakaan yang harus terus diasah. Selaput tipis yang semakin tebal oleh habituasi medsos, flexing, hedonis dan kurang baca. Melahirkan bebal nalar, rasa dan nurani.Jika sekedar transfer pengetahuan, “Mbah Google” lebih pintar dari para guru. Apapun bisadijawab Si-mbah yang kadang bersuara perempuan.
Menanamkan kepekaan spiritual, sosial & lingkungan, kebangsaan, ideologis Pancasila, dan kepekaan digital dengan jalan mengembangkan kegelisahan. Sebab kepekaan tak kan muncultanpa ada kegelisahan nurani. Kegelisahan yang melahirkan daya kritis terhadap ketimpangandan mendorong kreativitas untuk melahirkan solusi. Bukan memaki keadaan.
Seorang pendidik harus terus mengasah kepekaan dan membuncahkan kegelisahan atassegala sesuatu yang tidak pada tempatnya atau tak seharusnya. Menurunkan kegelisahan dan kepekaan itu kepada para murid. Entah masih adakah itu -kepekaan, di hari ini? Jadilahideolog Nurani-Kritis nak, bukan sekedar pendidik! (Kang Marbawi, 251025)
