Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 297: Partai Mudik

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|09:08 WIB
Bagikan:
Pojokan 297: Partai Mudik
Kang Marbawi.

Anggota partai terbesar di Indonesia ternyata bukan partai pemenang pemilu (Pemilihan Umum) atau pendukung koalisi. Justru anggota Partai Mudik-lah yang terbesar. Tahun 2026 ini diperkirakan anggota Partai Mudik mencapai 143,9 juta orang. Menurun sih dibanding tahun 2025 yang tembus angka 154,6 juta orang. Tapi tetap saja anggota Partai Mudik merajai pergerakan manusia untuk tujuan yang sama saat lebaran tiba. Pulang, ke tempat lahir beta.

Mudik adalah ritual tahunan masyarakat Indonesia jelang lebaran Id Fitri. Ritual sosiologis-historis-spiritualis yang menyatukan ke-kini-an dan masa lalu. Menambatkan kejatidirian pada akar budaya dan ikatan keluarga. Simpul yang semakin tergerus arus urban yang individualis, hedon dan nirrasa. Sekaligus menabalkan kembali ikatan sosio-romatis dengan muasal kenangan masa kecil, yang semakin pudar. Kepudaran yang dilantarani lakon-lakon baru diri di dunia maya yang menyebar memenuhi jagat nyata.

Disemati quote “"Mudik karena rindu masakan ibu, bukan karena THR (tunjangan hari raya) melimpah” menjadi magnet pulang kampuang. Seorang ibu tua renta justru menjadi pusat anggota partai ini, melakoni beragam drama kehidupan diperantauan dan kembali pulang. Sebab dipelukannyalah, disenyumannyalah, dihidangannyalah, beban dan topeng dari lakon kerja itu teras lepas. Kembali menjadi seorang anak yang dirindukan Dia. Dia yang melahirkan dan selalu memanjatkan doa keberkahan untuk anak-anaknya hingga akhir hayat. Tak satu pun dari anak-anaknya yang sanggup membalasnya. Melihat peluh di wajah sang anak-cucu, anggota partai mudik di ambang pintu rumah, menjadi kebahagian tak hingga sang pemilik kemuliaan. Itu, jika “Sang Jimat” masih ada. Ziarah ke nisan menjadi pengganti ketika dua pusaka itu telah tiada.

Ziarah ke leluhur adalah bagian dari perjalanan penguatan identitas diri dan akar budaya untuk penerus. Agar mereka tak pernah lupa muasal dan siapa “pendahulu”. “Buah Kuini buah Duku, adanya orang kini karena adanya orang dulu”. Begitu kata pepatah. Menyematkan nilai, bahwa akar budaya dan nilai dasar ideologia tentang sejarah, kebaikan, budaya, bahasa ibu, daya juang, daya tahan, ulet, akhlak dan harapan, tak boleh lepas ditengah gempuran simulacrum yang artificial, mimikri dan flexing.

Mudik adalah perjalanan menyusuri kembali sejarah dan kultural. Menyambung benang silaturahmi dengan sanak, yang tercerai oleh beda lakon kehidupan. Mudik adalah kegembiraan, berbagi, bersyukur dan kembali ke asal. Tak peduli berapa besar pengorbanan untuk itu, dilakukan. Seperti Asep -pedagang Cilok di Cibaduyut yang mudik jalan kaki berbekal 50 tusuk ciloknya ke Ciamis- Jawa Barat. Hanya karena tak mampu berkendaraan seperti orang kebanyakan. Bisa jadi sebangsa Asep ada banyak, yang tetap pulang kampung, walau dengan jalan kaki. Demi bertemu asal. Atau yang tak pulang karena keterbatasan.

Pulang kampung juga menjadi momen merenungi kembali pertanyaan mendasar. Apakah nurani ini masih ada? atau telah terbang digondol keserakahan dan adiksi validasi? Pamer hedonism atau tetap kerendahan hati yang terpancar?

Sah juga untuk bertanya, bagaimana nasib kedaulatan bangsa? Mudik pun untuk menengok dan menahbiskan kembali pesan-pesan para leluhur tentang arti sebuah kedaulatan, keadaban, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Nilai yang terkikis, terjebak ketakutan bahkan tergadaikan pada adidaya.

Tak ada dibenak para pemudik ini, soal-soal itu. Namun yang pasti, anggota partai mudik punya tujuan yang sama, kerinduan kembali ke pangkuan Sang Bunda atau nisannya. Sebagai bakti paling sederhana yang bisa dilakui sang pemudik.

Sayangnya, partai mainstream sungkan koalisi dengan anggota Partai Mudik. Untungnya warga Partai Mudik bergerak mandiri, masif, terstruktur dan mengorganisir diri sendiri. Walau kadang infrastruktur dan dukungan penguasa terbata-bata, di musim perangkat Partai Mudik beraksi. Padahal mudik adalah ritual tahunan. Selamat lebaran 1447 Hijriah/2026 M. Mohon maaf lahir batin. (Kang Marbawi, 180326)

Berita Terbaru

Cara Menggunakan WhatsApp Business, Kembangkan Bisnis Makin Mudah

Cara Menggunakan WhatsApp Business, Kembangkan Bisnis Makin Mudah

Lifestyle1 jam lalu
Prabowo Bakal Luncurkan Perlinsos Digital 10 November, Bansos Ditransfer Cash

Prabowo Bakal Luncurkan Perlinsos Digital 10 November, Bansos Ditransfer Cash

Nasional3 jam lalu
Ramai Jasa Polisi Anak di Sosial Media, Apa Saja Pengaruhnya?

Ramai Jasa Polisi Anak di Sosial Media, Apa Saja Pengaruhnya?

Lifestyle3 jam lalu
Prediksi Saham HSC BEI hingga Akhir Pekan 21–23 Oktober 2026, Ini Faktor yang Perlu Dicermati

Prediksi Saham HSC BEI hingga Akhir Pekan 21–23 Oktober 2026, Ini Faktor yang Perlu Dicermati

Lifestyle3 jam lalu
ADVERTISEMENT
Deretan Kasus Korupsi Terbesar yang Menghebohkan Era Prabowo-Gibran, Ini Perkembangannya

Deretan Kasus Korupsi Terbesar yang Menghebohkan Era Prabowo-Gibran, Ini Perkembangannya

Nasional3 jam lalu
Hari Kedua Babak Pertama French Open 2026: Duel Sesama Indonesia Masih Berlanjut

Hari Kedua Babak Pertama French Open 2026: Duel Sesama Indonesia Masih Berlanjut

Olahraga4 jam lalu
Bukan Lewat Kopdes, Menkeu Suahasil Pastikan Gaji PNS Tetap Lewat Bank

Bukan Lewat Kopdes, Menkeu Suahasil Pastikan Gaji PNS Tetap Lewat Bank

Nasional4 jam lalu
Fenomena Bangun Pabrik Dulu, Baru Urus Izin Belakangan di Subang Disorot, Begini Perkembangan PT CMM

Fenomena Bangun Pabrik Dulu, Baru Urus Izin Belakangan di Subang Disorot, Begini Perkembangan PT CMM

Subang4 jam lalu
Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 Tingkat Kabupaten Subang, Bupati Amanatkan Makin Solid dan Kreatif Wujudkan Kelauarga Sejahtera

Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 Tingkat Kabupaten Subang, Bupati Amanatkan Makin Solid dan Kreatif Wujudkan Kelauarga Sejahtera

Subang4 jam lalu
Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Subang Dibuka, Ini 5 Formasi dan Jadwalnya

Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Subang Dibuka, Ini 5 Formasi dan Jadwalnya

Subang4 jam lalu