Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 302: Tepuk Jidat Ki Hajar

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|10:29 WIB
Bagikan:
Pojokan 302: Tepuk Jidat Ki Hajar
Kang Marbawi.

Ada kabar dari sebuah SMA di Jawa Barat: belasan siswa meledek gurunya. Gurunya dianggap mainan, bukan panutan. Kalau Ki Hajar Dewantara masih hidup, mungkin beliau sudah tepuk jidat sampai merah, lalu geleng-geleng kepala seperti kipas angin rusak.

Tepuk jidat pertama: pendidikan kita sudah kehilangan rasa. Ajaran Nang, Ning, Nung, Neng—yang mestinya bikin anak tenang, bening, hening, dan wening—sekarang kalah oleh TikTok dan geng medsos. Anak-anak lebih hafal joget 15 detik daripada makna introspeksi.

Tepuk jidat kedua: siswa gampang putus asa, gampang menyerah. Resiliensi cuma angka 3 dari skala 10. Padahal Ki Hajar sudah berteriak: jadilah Kandel (kokoh), Bandel (tangguh, bukan nakal), dan Ngandel (percaya diri). Eh, yang muncul malah generasi instan: maunya cepat viral, cepat kaya, cepat terkenal. Kalau gagal, langsung drama Korea: nangis, nyalahin guru, lapor polisi.

Tepuk jidat ketiga: setiap ganti menteri, ganti kebijakan. Pendidikan jadi catwalk, bukan ruang kelas. Menteri tampil gagah dengan teori impor, sementara ajaran Tri-Kon Ki Hajar—kontinuitas, konvergensi, konsentris—ditinggal di gudang arsip. Pendidikan kita jadi seperti fashion show: tiap musim ganti gaya, tapi tetap tidak menutup aurat kebodohan.

Ki Hajar Bicara Soal Kontinuitas

Ki Hajar bicara soal kontinuitas. Pendidikan harus nyambung dari masa lalu, masa kini, sampai masa depan. Tapi apa yang terjadi? Begitu ganti menteri, ganti kurikulum. Kontinuitas kita bukan dari masa lalu ke masa depan, tapi dari kurikulum lama ke kurikulum baru, lalu balik lagi ke kurikulum lama. Kalau Ki Hajar masih hidup, mungkin beliau akan bilang: “Ini bukan kontinuitas, ini kontinyu-bingung.”

Lalu ada konvergensi. Maksudnya, pendidikan harus bisa berdialog dengan budaya lain tanpa kehilangan identitas. Tapi di lapangan, kita lebih suka copy-paste teori dari luar negeri. Anak-anak disuruh hafal teori kompentesi, padahal di Korea sendiri anak-anaknya mungkin sedang bingung kenapa orang Indonesia begitu ngefans sama mereka.

Terakhir, konsentris. Pendidikan harus melahirkan budaya kreatif dan inovatif. Nah, ini yang paling lucu. Konsentris kita sering berubah jadi konsentrasi—konsentrasi penuh untuk bikin ujian nasional, akreditasi, dan ranking PISA. Kreatifnya? Ya kreatif bikin soal sulit, biar murid stres dan guru ikut stres.

Padahal Ki Hajar sudah kasih resep: pendidikan itu kerja budaya, bukan kerja catwalk. Tapi apa daya, di negeri ini pendidikan sering jadi panggung mode. Menteri tampil gagah dengan jargon baru, sementara guru dan murid jadi penonton yang bingung: ini mau belajar atau mau fashion show?

Untung masih ada Bu Syamsiah, guru yang diejek muridnya tapi tetap memaafkan, memotivasi, dan mendoakan. Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani—beliau praktik langsung, bukan sekadar slogan di dinding sekolah.

Pendidikan kita memang tak pernah berhenti. Berhenti di jalan tol kebijakan, macet di lampu merah birokrasi, dan kadang nyasar ke gang sempit politik praktis. Untung Ki Hajar sudah wafat, kalau masih hidup beliau pasti tepuk jidat sampai botak.”

Mungkin sudah saatnya Pak Abdul Mu’ti menziarahi kembali Ki Hajar Dewantara. Tidak perlu bawa bunga, cukup bawa secangkir kopi pahit tanpa gula. Biar pahitnya kopi jadi pengingat: pendidikan itu bukan soal gaya, tapi soal rasa. (Kang Marbawi 250426)

Berita Terbaru

Hakim Agung Mahkamah Agung RI Tinjau Kawasan Yudikatif di Nusantara

Hakim Agung Mahkamah Agung RI Tinjau Kawasan Yudikatif di Nusantara

Nasional8 jam lalu
Perubahan APBD 2026 Kabupaten Subang Disepakati

Perubahan APBD 2026 Kabupaten Subang Disepakati

Subang9 jam lalu
Beredar Surat Disebut-sebut Sebagai Undangan Pelantikan Sekda Subang untuk Rona Mairansyah Besok

Beredar Surat Disebut-sebut Sebagai Undangan Pelantikan Sekda Subang untuk Rona Mairansyah Besok

Subang9 jam lalu
Revitalisasi Pasar Ciroyom Ditargetkan Rampung 2 Tahun

Revitalisasi Pasar Ciroyom Ditargetkan Rampung 2 Tahun

Bandung Barat9 jam lalu
ADVERTISEMENT
Terima 100 Becak Listrik, Om Zein: Bentuk Kasih Sayang Pak Prabowo

Terima 100 Becak Listrik, Om Zein: Bentuk Kasih Sayang Pak Prabowo

Purwakarta10 jam lalu
Pagar Nusa Luncurkan Naskah Kuno "Serat Nitipraja Eyang Gandasoli"

Pagar Nusa Luncurkan Naskah Kuno "Serat Nitipraja Eyang Gandasoli"

Purwakarta10 jam lalu
Kawasan Industri Baru Subang Jadi Sasaran Rekrutmen Serikat Buruh

Kawasan Industri Baru Subang Jadi Sasaran Rekrutmen Serikat Buruh

Subang10 jam lalu
Jadwal Konser dan Fanmeeting Kpop di Bulan Oktober 2026, Ada NCT 127 hingga Gong Yoo

Jadwal Konser dan Fanmeeting Kpop di Bulan Oktober 2026, Ada NCT 127 hingga Gong Yoo

Lifestyle13 jam lalu
Wajah Anak Bukan Konten, Privasi Anak di Sosial Media Jangan Disepelekan

Wajah Anak Bukan Konten, Privasi Anak di Sosial Media Jangan Disepelekan

Lifestyle14 jam lalu
Nama Sekda Kabupaten Subang Sudah Ada, Bupati: Besok Pelantikan, Tunggu Saja

Nama Sekda Kabupaten Subang Sudah Ada, Bupati: Besok Pelantikan, Tunggu Saja

Headline14 jam lalu