Pojokan 304: Midah dan Kumbang Malam

Pojokan 304: Midah dan Kumbang Malam
Perempuan, sejak lama, selalu berada di persimpangan antara tubuh dan moralitas. Sejarah kita, yang penuh dengan feodalisme dan patriarki, menempatkan perempuan bukan sebagai subjek, melainkan objek.
Nasibnya tak beda dengan kursi di konser musik: diperebutkan, dipakai, lalu ditinggalkan. Pramoedya Ananta Toer sudah lama bilang, moralitas feodal menaruh perempuan di rak pajangan, bukan di singgasana kebebasan. Tapi entah kenapa, rak pajangan itu masih laris sampai sekarang—bahkan kadang lebih ramai daripada rak sembako di pasar.Atau lebih ramai dari pada kenaikan BBM jenis tertentu.
Coba tengok Gadis Pantai. Tokohnya diperlakukan bak boneka: dipajang, dinikmati, lalu dibuang. Mirip bros di jas pejabat—dipakai saat perlu, dilepas saat bosan. Dan boneka itu, hari ini, bisa berwujud pemandu lagu muda di dunia malam. Entah karena ekonomi, entah karena terjerumus, atau sekadar karena hidup memang tak memberi banyak pilihan.
Para pemandu lagu, yang disebut “kupu-kupu malam”, hadir sebagai simbol ambivalensi: antara stigma dan kebutuhan, antara keterpaksaan dan pilihan. Mereka adalah tubuh yang dijadikan komoditas, sekaligus jiwa yang berusaha bertahan.
Masyarakat pun cepat memberi label: “Kupu-kupu Malam.” Titiek Puspa sudah menyanyikannya sejak 1977, dengan lirik yang bikin kita garuk kepala. Dosakah yang dia kerjakan? Sucikah mereka yang datang? Pertanyaan yang lebih tajam dari pisau dapur ibu-ibu.
Pertanyaan itu lebih relevan daripada debat capres di televisi. Bedanya, kupu-kupu malam tak pernah dapat panggung politik, sementara kumbang malam bisa tampil di layar kaca sambil berlagak moralis. Pertanyaan itu pun tetap menggema hingga kini, ketika moralitas publik sering kali hanya menjadi retorika, sementara praktik privat berjalan di jalur yang berbeda.
Standar ganda itu nyata, ukuran moralitas seolah hanya berlaku untuk kaum kupu-kupu. Perempuan ditimbang dengan kesucian, laki-laki ditimbang dengan isi dompet dan jabatan. Kupu-kupu malam dicap dosa, kumbang malam bebas melenggang, bahkan kadang pulang dengan senyum lebar dan tanda tangan proyek. Moralitas publik dan privat jadi seperti aturan lalu lintas: ketat untuk motor kecil, longgar untuk mobil pejabat. Standar ganda ini bikin kita geleng-geleng kepala.
Industri hiburan malam pun ikut menambah bumbu. Perempuan dijadikan objek, ketidaksetaraan gender makin kokoh, dan budaya urban melahirkan pesta hedonis yang sering tabrakan dengan norma sosial. Tapi jangan salah, pesta itu sering dihadiri orang-orang yang siangnya sibuk bicara soal “akhlak bangsa” di podium. Malamnya, mereka jadi kumbang yang rajin menghisap madu. Tak percaya, baca saja bukunya Moamar Emka, Jakarta Under Cover 1-3.
Pojokan 304: Midah dan Kumbang Malam
Kupu-kupu malam akhirnya jadi pihak paling rentan: dicap, dieksploitasi, dituntut ekonomi. Sementara kita, para moralis dadakan, sibuk menuding dengan jari telunjuk, lupa bahwa tiga jari lain sedang menunjuk ke arah kita sendiri.
Mungkin benar kata Pram: perempuan selalu ditimbang dengan ukuran kesucian. Tapi kalau begitu, mari kita timbang juga para kumbang malam dengan ukuran kejujuran. Jangan sampai moralitas hanya jadi alat untuk menindas yang lemah, sementara yang kuat bebas bersembunyi di balik topeng suci.
Kita, sebagai masyarakat, sering kali lebih sibuk menghakimi daripada memahami. Padahal, di balik senyum mereka, ada tangis yang tersembunyi. Di balik stigma, ada perjuangan untuk hidup. Moralitas yang kita banggakan, kadang hanya topeng yang menutupi kemunafikan.
Dan kita, para moralis dadakan, sering lupa bercermin. Jangan-jangan topeng kemunafikan kita lebih tebal daripada bedak para kupu-kupu malam itu.
Sehatlah selalu, wahai kupu-kupu malam-happy puppy dimanapun. Jaga diri kalian. Dan untuk kita semua: berhentilah bersembunyi di balik moralitas yang palsu. (Kang Marbawi, 090526)`
