Pojokan 305: Amos-Ku

Pojokan 305: Amos-Ku
Punya teman kerja dari Papua itu rasanya, seperti anak kecil dikasih mobil remot—senang tak kepalang. Namanya Amos Sury’el Tauruy. Saya panggil Bang Amos. Dengan wajah Melanesia yang gagah, Bang Amos bukan sekadar ASN yang hanya rajin absen, tapi juga dosen politik di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Lengkap sudah: birokrat di siang hari, pengajar di malam hari. Kalau jadi tokoh film, mungkin cocok main di Avengers Nusantara.
Amos ini unik. Lahir dan besar di Jakarta, tapi hatinya selalu pulang ke Papua. Nasionalismenya tebal, identitas lokalnya tak pernah tipis. Ia ingin membangun Papua dari rantau. Bedanya, Papua itu bukan sekadar kampung halaman—ia surga sekaligus ironi. Kaya raya, tapi bikin banyak orang lapar mata.
Tengok saja, Freeport sudah bercokol sejak 1967, tak mau hengkang. Mirip Nabi Idris pura-pura ketinggalan sandal di surga, lalu ngotot nggak mau turun lagi. Bedanya, Freeport melalui pemerintahan AS, punya kartu truf bernama “HAM”—yang kadang lebih mirip kartu remi ketimbang kitab suci, untuk menekan penguasa.
Papua itu pasar raya kepentingan: lokal, nasional, global. Semua rebutan untung. Tapi kita harus ingat, Papua bukan objek eksploitasi, melainkan mitra yang harus dimuliakan. Tanah adat bukan sekadar lahan tambang, tapi pusaka yang harus dijaga. Kalau tidak, kita hanya jadi bangsa yang pandai bikin slogan berdaulat, tapi gagal menjaga isi perut bumi.
Di Papua ada kearifan Bakar Babi. Gambaran relasi sosial atas identitas lokal dan penghargaan terhadap pengelolaan lingkungan secara berkebudayaan, beradab dan berkeadilan. Memberi alam waktu untuk memulihkan dan terpulihkan. Menjaga keseimbangan, harmoni dan spiritualitas antara manusia dan alam.
Bahkan, Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale mendokumentasikan budaya tersebut dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi yang bikin heboh. Bukan sekedar pesta adat, ada kearifan lokal dan kritik ekologis di baliknya. Babi jadi simbol, tapi yang dipersoalkan adalah kerakusan manusia. Alam diminta memberi, tapi tak pernah diberi waktu untuk pulih.
Ritual Bakar Babi menyodorokan tanggung jawab kolektif bangsa pada tanah Papua, hak ulayat, tanah adat untuk dipatuhi bersama. Agar keberlanjutan tanah pusaka itu terus hidup dan menghidupi segenap generasi bumi pertiwi Papua. Bukan atas nama keserakahan dan kekuasaan.
Ibu pertiwi dan Papua menegur kita semua: jangan jadikan tanah ulayat sekadar catatan di buku hukum, tapi hormati sebagai pusaka bangsa. Kalau tidak, kita hanya jadi tamu tak tahu diri di rumah sendiri.
Pojokan 305: Amos-Ku
Bisa jadi Amos-ku bukan hanya bicara soal identitas, tapi juga masa depan Papua. Konon otonomi khusus (Otsus) fokus pada tiga hal sederhana tapi mendasar: Papua Sehat: layanan kesehatan dasar yang merata. Jangan sampai orang Papua harus naik perahu atau jalan kaki berjam-jam hanya untuk bertemu dokter. Otsus Papua mestinya jadi vitamin, bukan sekadar obat generik yang habis masa pakai.
Papua Cerdas: pendidikan berkualitas. Anak-anak Papua harus bisa membaca masa depan, bukan sekadar membaca papan tulis yang kehabisan kapur/spidol. Otsus bisa digunakan untuk memberi beasiswa, bukan malah proses birokrasi yang bikin pusing kepala.
Papua Produktif: ekonomi berbasis lokal. Jangan sampai tanah adat hanya jadi ladang emas orang lain. Papua harus bisa berdagang hasil bumi sendiri, bukan sekadar jadi penonton di pasar raya global.
Otsus harusnya bisa jadi modal usaha, bukan sekadar angka atau kartu ATM yang dikelola segelintir elit lokal. Kalau dipakai benar, bisa jadi bekal membangun Papua sehat, cerdas, dan produktif. Tapi kalau salah urus, ya cuma jadi kartu kosong yang bikin rakyat antre panjang di depan mesin, menunggu saldo yang tak pernah masuk.
Amos adalah Indonesia sekaligus Papua. Sama halnya saya, Sunda sekaligus Indonesia. Pun Toni, Iren, Siregar, Bona atau 283 juta rakyat Indonesia. Semua punya identitas budaya lokal, yang menjadi bagian dan menyatu dalam identitas ke-Indonesiaan. Amos dan saya dan juga ratusan juta rakyat Indonesia, mencintai Papua. Seperti cinta matinya kita kepada orang tua dan keluarga.
Boleh jadi Amos-ku adalah jembatan dari “menguasai” ke “memahami”. Mendorong paradigma baru: membangun Papua dengan bermartabat, setara, sejahtera dan adil. Karena Papua bukan sekadar tanah, ia adalah ruang perebutan makna. Antara identitas lokal dan menuju ke-Indonesiaan.
Saya, seperti juga Amos, hanya bisa bilang: Aku cinta Papua. Tapi cinta itu harus tulus, mensejahterakan, dan adil—bukan sekadar slogan di baliho. (Kang Marbawi, 160526)
