Pojokan 306: Kopi Perpisahan

Pojokan 306: Kopi Perpisahan
Segelas kopi pahit, ku seruput pelan. Rasanya bukan sekadar pahit di lidah, tapi pahit melihat rupiah yang terus digebukin dolar. Rupiah sudah ngos-ngosan, jadi tukang dorong gerobak di belakang, sementara dolar masih jogging di Wall Street dengan senyum lebar. Kopi pun ikut protes: “Jangan buru-buru dihabiskan, sebentar lagi aku pindah kewarganegaraan.”
Bayangkan, kopi hitam yang biasanya setia menemani ba’da subuh, kini mulai melirik visa ke luar negeri. Katanya, harga dirinya di negeri pertiwi ini, sudah kayak karcis bioskop yang dilempar ke tong sampah. Nasi goreng, sate ayam, tempe, tahu—semua siap ikut melancong. Untung mereka nggak perlu paspor. Kalau perlu, mereka cukup naik dolar sebagai kendaraan.
Dolar naik, katanya gara-gara ekonomi global. Global apanya? Yang jelas dompet rakyat makin tipis, hingga bisa dipakai buat kipas angin. “Ekonom bilang, ini Inflasi”. Bahasa keren untuk bilang: “duitmu makin nggak ada nilainya”. Rakyat disuruh sabar, padahal sabar itu nggak bisa ditukar jadi minyak goreng. Tapi kita setia munggu -(dengan dompet semakin kurus kering), aksi heroik para pengambil kebijakan, menyelamatkan rupiah dari jurang kehancuran. Macam jagoan-jagoan avengers itu.
Lucunya, yang senyum lebar justru eksportir. Katanya, untung besar. Rakyat kecil? Senyumnya tinggal di foto KTP.
Kisah ini sepertinya selalu berulang. Tentang kopi hitam yang mungkin tak akan dinikmati lagi oleh rakyat kecil, karena hijrah ke Starbucks, Dunkin’, McCafe, Tim Hortons, dan sebangsanya. Rakyat memang tak berurusan langsung dengan dolar. Tapi keseharian mereka ditentukan oleh makhluk bernama dolar—yang seolah jadi mitos: tak tersentuh, tapi menentukan hidup seantero manusia.
Bahkan kopiku pun sudah sesegukan, takut ikut merangkak naik harga dan kemudian meninggalkan kebersamaan sederhana ini. Ritual sederhana rakyat bisa berakhir hanya karena secangkir kopi berubah jadi barang mewah. Maka ku nikmati kopi hitam itu dengan penuh khusyuk dan kasih sayang. Seolah ritual bersama itu akan segera berakhir. Walau di hati masing-masing galau, akankah kebersamaan ini berakhir dengan cepat? Karena tak lagi sanggup membeli kopi.
Pojokan 306: Kopi Perpisahan
Dan aku pun menyeruput kopi terakhir dengan penuh khusyuk. Bukan sekadar pahit di lidah, tapi pahit di hati: pahit melihat rupiahku melayang dari dompet, dan enggan kembali. Sementara dolar begitu riangnya, tiap hari jogging. Sambil tersenyum lebar, melihat rupiah di dompetku kabur, berhamburan, entah kemana. Mereka enggan nemplok di sembako, karena malu tak menjangkau lagi harganya.
Drama dolar ini lebih heboh daripada drama Korea. Bedanya, kalau drakor bikin baper, dolar bikin lapar. Rakyat cuma bisa berdoa: “Ya Tuhan, kalau dolar nggak bisa diturunkan, biarlah dia naik sekalian ke orbit bulan. Asal harga sembako tetap di bumi.”
Kopi perpisahan, mungkin benar-benar perpisahan. “Ayo ngopi sebelum ngopi dilarang, karena sudah pindah kewarganegaraan!!! (Kang Marbawi, 230526)
