Pojokan 307: Bapak Kos

Pancasila itu mirip Bapak Kos yang cerewet tapi bijak. Tiap tamu kos diingatkan: “Nak, jangan lupa lima aturan rumah ini. Lima dasar penyangga bangsa. Jangan kau abaikan, macam kulit pisang yang di lempar ke tempat sampah.” Masalahnya, tamu kos kali ini bukan manusia, tapi si robot pintar bernama Artificial Intelligence (AI). Tamu yang satu ini bisa segalanya, dari bikin puisi sampai bikin pusing. Kita jadi bingung: masih perlu mikir sendiri, atau cukup tanya ke mesin?
Si AI ini lebih cepat dari otak manusia. Dia bisa mengunyah jutaan data dalam sekejap. Tapi ia sedingin cuaca di kutub utara dari pada hati birokrat yang baru pulang rapat. Walau pintarnya hampir “nyundul langit”, ia tak bisa merasakan kebersamaan gotong royong ketika tetangga hajatan, kerja bakti atau kepaten (kematian). Pun tak faham makna hidup “musyawarah mufakat” selain sekadar algoritma voting saja.
Jika ditanya ke AI apa itu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, pasti seribu lebih jawabannya. Dia pun bisa dengan tuntas menjelaskan adil menurut siapa? Beradab versi siapa? Bahkan bisa bikin kontrak digital; “saya - AI, lebih beradab dibandingkan para pejabat atau para pemuka”.
Faktanya, kita lebih percaya pada hasil analisis big datanya AI dari pada suara hati nurani. Padahal Pancasila itu bukan soal data. Ia adalah ideologi yang menuntut manusia tetap jadi manusia seutuhnya. Manusia yang beradab, berketuhanan, berperikemanusiaan, mau musyawarah, menjaga persatuan, saling menghormati-menghargai, berbuat adil dan mewujudkan keadilan sosial. Bukan manusia yang sibuk update status dari pada update moral. Nurani ditukar Chat GPT, nalar digadai ke algoritma.
Pancasila itu kompas, sementara AI hanyalah GPS -global positioning system. Kompas menuntun ke tujuan dengan nilai, GPS kadang nyasar ke jalan buntu. Kalau bangsa ini ikut GPS tanpa kompas, siap-siap saja tersesat di hutan belantara algoritma. Kehidupan kita akan diatur AI - Sang Algoritma. Hilang lah nurani dan nalar. Manusia jadi robot, AI jadi penguasa manusia.
Tak bisa dibayangkan 180 juta orang Indonesia pengguna AI dalam berbagai macam platformnya, jadi hambanya AI. Angka ini setara dengan 62–63% dari total populasi Indonesia. Dengan 15-20 GB perhari yang dihabiskan natizen - tentu dari kantong sendiri tanpa subsidi, semua aktivitas kehidupannya sudah terpantau, dipantau dan diatur oleh AI. Dengan sadar kita menyerahkan kehidupan kita kepada AI.
Jangan salahkan jika suatu saat nanti, AI itu akan buat partai politik sendiri, lengkap dengan janji kampanye:” Pilihlah Aku - AI, karena Kami lebih jujur dari pada manusia”. Jangan-jangan kampanye AI memang benar. Sebab bisa jadi AI malah lebih “adil” daripada manusia. AI hanya peduli data, dan tak peduli suku, agama, atau status sosial. Koar-koarnya AI diamini 180 juta konstituennya.Nah loh, bisa jadi benar, AI netral, manusia malah bebal rasa, tumpul nurani, hanya membela kepentingan dan keserakahannya saja.
Bapak Kos Tepuk Jidat
Bapak kos kita - Pancasila, pasti akan tepuk jidat:” kenapa kamu lebih percaya mesin? Padahal aku sudah mewanti-wanti untuk pegang teguh lima dasar negara ini”, sambil ngelus dada serta berguman getir: “Manusia kalah sama robot, bukan karena robot lebih pintar, tapi karena manusia lupa cara jadi manusia yang adil dan beradab.”
Ditutup dengan celetukan khas juragan kos menagih bayaran bulanan: “Adil menurut siapa? Menurut rakyat, adil itu nasi padang harganya sama, meski lauknya beda. Menurut pejabat, adil itu semua dapat jatah, asal jangan jatah kursi kekuasaan. Beradab menurut siapa? Menurut pemilik kos, beradab itu bayar tepat waktu. Menurut para pendahulu bangsa, beradab itu tidak menjual negeri sendiri. Menurut netizen, beradab itu jangan nyinyir di kolom komentar, meski jempol gatal pengen debat kusir.”
Selamat memeringati Hari lahir Pancasila 1 Juni 2026. Jangan sampai Pancasila jadi “Bapak Kos” yang uring-uringan gara-gara tamu kosnya tak mematuhi aturan dasar rumah - mengabaikan Pancasila. Hanya jadi pajangan di tembok-tembok kelas. Konon di dinding kantor - kebijakan pejabat, sepertinya tak ada “Bapak Kos”. (Kang Marbawi, 300526)
